Penyakit Sifilis - Bahaya dan Mematikan
Ilustrasi penyakit sifilis
Tahukah Anda bahaya dari seks bebas? Jika jawaban Anda AIDS, sudah pasti virus HIV yang ganas ini akan menjangkiti tubuh Anda. Tapi, tahukah Anda jika penyakit sifilis disebabkan oleh perilaku seks bebas? Mungkin sedikit dari Anda yang tahu bahwa penyakit ini juga bahaya dan mematikan.
Dalam jangka waktu yang lama, penyakit ini dapat menyebabkan kelumpuhan organ vital penderitanya. Bahkan, bisa mengakibatkan kematian. Lalu, seberapa bahayakah penyakit ini? Penyakit sifilis adalah sejenis penyakit yang menyerang organ kelamin. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri spiroseta yang bernama Treponema Pallidum.
Penyakit sifilis merupakan penyakit menular baik pada perempuan ataupun laki-laki. Perilaku seks bebas dari salah satu pasangan seksual merupakan penyebab utama penularan penyakit ini. Penyebaran penyakit ini terjadi begitu cepat. Untuk itu, sebaiknya para pasangan seksual menjaga diri agar tidak tertular maupun menularkan bakteri penyebab penyakit menular sifilis.
Penularan penyakit sifilis umumnya melalui kontak seksual. Baik kontak langsung ataupun kontak secara kongenital. Kontak secara kongenital berarti penularan bakteri penyakit ini dari seorang ibu ke anaknya yang terjadi di dalam uterus. Janin yang telah tertular penyakit ini akan mengalami cacat bawaan ketika dilahirkan.
Penyakit ini memang tertular melewati hubungan seksual dengan pengidap, namun ada beberapa jalan lain infeksi misalnya kontak langsung ataupun tertular dari ibu pada anaknya di dalam uterus.
Selain itu, jika seseorang pernah terinfeksi penyakit sifilis, kondisi tubuhnya tidak akan menjadi kebal. Bahkan, sewaktu-waktu ia dapat terinfeksi kembali dan biasanya lebih parah dari infeksi yang sebelumnya. Anda tidak ingin hal ini terjadi bukan?
Saat ini, Indonesia bisa dikatakan sebagai area yang mudah bagi virus penyakit sifilis untuk menyebar atau menular. Sebab, virus ini sangat cepat menular lewat hubungan seksual. Banyaknya tempat “jajan” serta pergaulan bebas yang dibiarkan bebas adalah salah satu faktor terbesar sebagai pendorong meningkatnya penderita sifilis di Indonesia.
Kasus penularan ini juga terjadi di luar negeri. Sebagai contoh dari penderita atau kasus sifilis di Cina yang meningkat dari 0.2/100 ribu jiwa di tahun 1993 meningkat ke angka 5.7/100 ribu jiwa untuk tahun 2005. Sedangkan di negara adidaya Amerika, kasus sifilis sebanyak 36 ribu pertahunnya. Padahal, jumlah penderita di lapangan lebih besar, diperkirakan 3/5 kasus yang menimpa kaum laki-laki.
Penyebaran Penyakit Sifilis dalam Tubuh
Penyebaran penyakit sifilis dilakukan oleh bakteri Treponema Pallidum. Bakteri Treponema Pallidum masuk ke dalam tubuh melalui selaput lendir yang terdapat pada manusia. Selaput lendir tersebut terdapat pada vagina, mulut, dan kulit. Setelah bercampur dengan selaput lendir, dalam waktu beberapa jam kemudian bakteri tersebut akan sampai di kelenjar getah bening.
Bakteri ini masuk dalam famili Spirochaetaceae. Bakteri Treponema pallidum mempunyai besar tubuh yang kecil sekali, dan bakteri tersebut dapat bertahan hidup pada semua organ tubuh manusia.
Dari kelenjar getah bening inilah bakteri akan menyebar keseluruh tubuh melalui aliran darah. Aliran darah yang sangat cepat memberikan efek bahaya yang cepat juga. Apabila tidak dirawat dengan baik, penderita penyakit kelamin ini akan mengalami efek jangka panjang yang serius. Penyakit ini bisa mengakibatkan kerusakan pada sistem saraf, jantung, dan otak.
Kerusakan pada organ vital tersebut akan mengakibatkan kelumpuhan permanen pada penderitanya. Sistem saraf akan terganggu terutama pada sistem saraf mata dan otak. Untuk itu, harus dilakukan tes antibodi dan tes serogenital untuk memastikan penyakit ini. Jika tidak, tak hanya kelumpuhan bahkan akan mengakibatkan kematian. Mengerikan bukan?
Gejala Penyakit Sifilis
Gejala dan tanda dari penyakit sifilis banyak dan berbeda antara individu yang satu dengan yang lainnya. Biasanya, diagnosis seringkali sulit dilakukan karena dari tanda-tanda awal penyakit ini dianggap sebagai penyakit yang lain. Fakta menyebutkan bahwa gejala pada laki-laki lebih mudah untuk diamati daripada pada perempuan.
Gejala tersebut akan muncul dalam waktu 1-13 minggu setelah terinfeksi bakteri. Ada beberapa gejala umum penyakit ini yang harus Anda cermati. Berikut ini gejalanya:
- Gejala awal yang dirasakan adalah tidak enak badan, demam, kehilangan nafsu makan, mual, lelah, sakit kepala, berkeringat dan menggigil.
- Dalam beberapa saat, penderita akan mengalami anemia.
- Terdapat ruam yang berwarna kemerahan pada daerah organ kelamin, dan biasanya terasa gatal.
- Terjadi kerontokkan rambut.
- Terdapat luka terbuka seperti infeksi akibat digigit ngengat.
Tahap Infeksi
Setelah mengalami beberapa gejala awal, penderita penyakit ini akan mengalami beberapa tahap penyebaran bakteri. Tahap-tahap ini disebut tahap infeksi yang terdiri atas fase primer, fase sekunder, fase laten, dan fase tersier. Gejala-gejala yang ditimbulkan pada setiap fase akan berbeda satu sama lain. Sering penderita mengacuhkan gejala awal karena menganggap penyakit yang lain.
Infeksi yang terjadi pada setiap fase bisa menetap selama bertahun-tahun di tubuh si penderita. Pada fase primer, akan terdapat luka yang tidak sakit pada tempat yang terinfeksi. Biasanya luka tersebut menyerang bagian penis, vagina, anus, rektum, bibir, lidah, tenggorokan, leher rahim, dan jari-jari tangan.
Awalnya, hanya berupa daerah penonjolan kecil, kemudian berubah menjadi luka yang terbuka. Jika digaruk, luka terbuka tersebut akan mengeluarkan darah dan cairan jernih yang menular. Pada banyak kasus, luka tersebut tidak dihiraukan para penderitanya karena akan sembuh dalam waktu sekitar 3-12 minggu. Mengapa? Karena si penderita akan terlihat sehat.
Fase sekunder penyakit sifilis dimulai dengan munculnya suatu ruam pada kulit. Ruam tersebut muncul dalam waktu 6-12 minggu setelah terinfeksi dan mengalami fase primer. Fase sekunder hanya berlangsung sebentar sekitar beberapa bulan. Ruam tersebut akan menghilang dengan sendirinya tanpa diobati.
Pada fase sekunder penyakit sifilis, terjadi pembengkakkan kelenjar getah bening yang menyebabkan luka atau gangguan pada mata. Selain itu, sebagian penderita juga mengalami sakit pada sendi dan tulang. Peradangan hati, ginjal, kerontokkan rambut juga terjadi pada fase sekunder penyakit ini.
Setelah mengalami fase sekunder, penderita penyakit ini akan mengalami fase laten. Pada fase ini, tidak terlihat gejala-gejala yang serius seperti yang terjadi pada fase primer dan sekunder. Hanya saja akan muncul kembali luka seperti terinfeksi. Fase laten berlansung sangat lama. Bisa sepanjang hidup penderita penyakit sifilis.
Terakhir adalah fase tersier. Pada fase tersier penyakit sifilis, penderita tidak akan menularkan penyakitnya lagi. Gejala yang terjadi pada fase ini bervariasi dari yang ringan sampai yang terparah. Gejala yang parah seperti sifilis tersier jinak, sifilis tersier kardiovaskular, dan neurosifilis.
Dari keempat fase tersebut, fase primer dan sekunder adalah fase yang paling berbahaya. Biasanya, penularan bakteri terjadi pada kedua fase tersebut. Pasangan seksual penderita penyakit sifilis akan tertular bakteri dalam jangka waktu tiga bulan.
Ciri-ciri Penyakit Sifilis pada Wanita
Untuk kalangan wanita, sifilis yang menginfeksi tubuh mereka berkemungkinan akan menimbulkan gejala-gejala, gejala atau ciri tersebut dapat dibagi menjadi empat tingkat antara lain:
1. Stadium I
Pada stadium ini akan muncul luka yang berwarna kemerah-merahan yang basah pada area vagina, mulut, dan poros usus. Oleh pakar kesehatan, luka yang seperti ini dinamakan chancre. Biasanya muncul pada bagian tubuh manusia tempat masuknya bakteri Spirochaeta. Sesudah beberapa minggu berlalu, chancre akan hilang dengan sendirinya. Kondisi atau stadium satu ini adalah stadium yang mempunyai tingkat penularan yang sangat besar.
2. Stadium II
Apabila penderita tidak mendapatkan pengobatan pada stadium I, dapat menyebabkan ruam pada penderita. Akan muncul luka di bagian mulut, bibir, tenggorokan, area vagina, dan dubur. Gejala lain yang dapat dirasakan adalah seperti halnya terserang penyakit flu, misalnya nyeri pada tulang/otot, pegal-pegal, dan demam. Stadium II akan berjalan sekitar satu minggu hingga 2 minggu.
3. Stadium III
Apabila si penderita penyakit sifilis belum juga mendapatkan pengobatan, akan menyebabkan pengidapnya mengalami sifilis laten. Sifilis laten merupakan kondisi dimana gejala-gejala yang timbul pada tubuh penderita akan hilang, akan tetapi penyakit atau bakteri tetap bersarang dalam badan. Bakteri Spirochaeta akan terus hidup di seluruh bagian tubuh penderita. Stadium III akan berjalan selama bertahun-tahun.
4. Stadium IV
Penderita yang tidak mendapatkan pengobatan atau perawatan dengan segera, lama-kelamaan dia akan masuk ke kondisi sifilis tersier. Di stadium IV, bakteri Spirochaeta sudah menyerang tubuh penderita terutama otak, bagian jantung, batang otak, dan organ-organ tulang.
Untuk kalangan pria yang telah terinfeksi sifilis akan mempunyai gejala seperti halnya yang muncul pada wanita. Akan tetapi, terdapat perbedaan tahap satu dan dua yaitu terdapat chancre di area penis, dan terdapat luka di area penis, dubur, tenggorokan, dan mulut di stadium II.
Sementara, untuk fase sekunder, akan tertular dalam jangka waktu satu tahun. Jika sudah tertular, harus melakukan tes penyaringan antibodi. Dan jika hasilnya positif, maka dilakukan pengobatan. Lalu, bagaimana cara pengobatan penyakit ini?
Pengobatan Sifilis
Pengobatan penyakit sifilis dapat dilakukan dengan cara medik maupun non medik. Untuk cara medik dengan memberikan kapsul dan penyuntikan penisilin. Sementara, cara nonmedik dengan seks aman. Bila Anda melakukan aktivitas seks, gunakanlah alat pengaman seperti kondom. Tapi, hal itu tidak menjamin sebagai alat penjaga yang pasti.
Untuk itu, jika Anda seorang yang beragama, janganlah berperilaku seks secara bebas. Bahaya yang mematikan akan mengancam Anda dikemudian hari. Berikut ini beberapa pengobatan penyakit sifilis, yakni:
- Pemberian obat antibiotik seperti penisilin untuk semua fase penyakit sifilis pada fase primer, fase sekunder, fase laten, dan fase tersier.
- Untuk fase primer, suntikan penisilin biasanya diberikan melalui bagian bokong penderita sebanyak satu kali. Pemberian suntikan ini harus sesuai dosis. Setengah setiap bagian karena bila disatukan menjadi satu dosis obat.
- Untuk fase sekunder, selain diberikan suntikan penisilin, juga diberikan suntikan tambahan dengan tenggang waktu satu minggu. Dosisnya sama yaitu setengah setiap bagian.
- Pemberian kapsul azithromyan. Terkadang, pemberian kapsul tidak terlalu efektif karena para penderita enggan melanjutkan pengobatan setelah merasa kondisi badannya sudah sembuh.
- Tambahan penisilin yang paling baik untuk penderita penyakit ini adalah jenis procaine. Procaine disertakan untuk mengurangi rasa sakit penderita.
Pencegahan adalah pengobatan terbaik terhadap sifilis. Sebagian kalangan medis menyarankan agar melakukan seks yang aman dengan pemakaian kondom saat berhubungan intim, namun aktivitas pencegahan dengan kondom bukanlah usaha preventif yang dijamin berhasil.
Bagaimana menurut Anda? Penyakit sifilis sangat berbahaya dan mematikan bukan? Hindarilah perilaku seks bebas! Hal itu akan merugikan diri Anda sendiri.

