logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Keluarga    Anak-Anak    Anak Autis

Faktor Penyebab Autisme


Ilustrasi penyebab autisme

Autisme adalah suatu gangguan tumbuh kembang yang kompleks dan berat. Gejala autisme ini sudah tampak sejak anak belum berusia tiga tahun. Autisme ini akan terus dialami oleh anak tersebut seumur hidup. Mereka bisa mandiri namun dengan segala keterbatasannya. Masih harus ada orang yang bisa mengawasi mereka agar tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Sayangnya, belum ada teori atau penjelasan pasti mengenai faktor penyebab autisme ini. Kalaupun ada, semuanya masih meraba-raba. Intinya, setiap kehamilan harus diperhatikan dengan baik.

Terjadi Secara Acak

Autisme dapat terjadi pada siapa saja, tak memandang suku bangsa, ras, status sosial ekonomi, status kesehatan, atau tingkat pendidikan. Autisme mungkin saja terjadi pada anak yang memiliki IQ rendah, tetapi juga mungkin terjadi pada anak dengan IQ tinggi atau bahkan jenius. Autisme bisa menyerang bahkan seorang anak dengan ibu yang sangat perhatian dengan kandungannya dan juga setelah anak dilahirkan. Sang ibu yang begitu terpelajar dan sangat melek informasi tentang autisme.

Gejala perkembangan autisme ini semakin menyebar dan menyeluruh di seluruh dunia. Autisme ini bahkan mungkin lebih menakutkan daripada serangan bom nuklir. Tidak bisa dibayangkan bagaimana satu generasi terasa hilang ketika mengetahui bahwa anak yang diharapkan itu mengidap autisme. Perjuangan panjang harus dilakukan. Tidak ada keluhan dan tidak ada rengekan dalam perjuangan membuat anak autis ini bisa mandiri. Bila banyak mengeluh dan meratapi perjuangan, maka semua rengekan itu akan sia-sia karena anak autis akan tetap menjadi autis selama belum ada obat yang bisa menyembuhkannya.

Yang harus dilakukan memang menerima dan berdamai dengan keadaan dan terus tersenyum demi melihat anak autis tersenyum juga. Tidak mudah membuat mereka bisa menatap mata orang yang diajaknya bicara. Ketika ia bisa melakukan itu, maka itulah saat-saat yang sangat membahagiakan. Anak autis bisa hidup normal dengan cara mereka. Dunia mereka memang berbeda. Mereka mempunyai dunia mereka sendiri yang tidak ada orang lain yang tahu bagaimana bentuk dunia itu. Mereka bisa asyik berada di dunia itu tanpa mau mengajak orang lain untuk bisa menikmati kebahagiaan bersama mereka.

Tak Perlu Kecil Hati

Bukan baru sekali terdengar berita tentang anak autis yang mampu menciptakan syair lagu, puisi, atau bermain musik dengan sangat indah, bahkan di atas kemampuan anak-anak lain yang tidak menyandang autis. Ini karena autis bukan berarti IQ jongkok. Anak autis pun ada yang jenius. Mereka diberi kelebihan yang orang lain tidak memilikinya. Tak perlu kecil hati ketika menerima amanat anak autis. Walaupun mungkin mudah untuk dikatakan dan sangat sulit untuk merasakannya, tetaplah percaya, Tuhan sayang pada umatNya dan tidak akan membiarkan umatNya sendirian. Apalagi terus bersandar pada kasih sayang Sang Maha Penyayang.

Meskipun tak memandang status dan latar belakang,  autisme lebih sering terjadi pada anak laki-laki dibandingkan pada anak perempuan. Perbandingannya mencapai 4 : 1. Tidak diketahui apa penyebab autisme terhadap anak laki-laki. Terkadang banyak yang berpikir bahwa menjadi laki-laki itu hebat. Terlahir menjadi laki-laki itu benar-benar sesuatu yang luar biasa. Apalagi bisa memegang amanat menjadi laki-laki sejati yang mampu menghindarkan keluarganya dari apai neraka hingga akhir hayatnya.

Begitu banyak penyakit yang hanya laki-laki mengalaminya. Buta warna, wanita hanya menjadi pembawa. Penyakit darah, laki-lakilah yang mengalaminya. Sekarang autisme.  Para ahli terus mencoba mencari penyebab autisme ini. Sebagian ahli mengaitkan autisme ini dengan faktor genetik. Kesimpulan ini diperoleh karena adanya penelitian yang menemukan lebih dari tujuh gen dalam diri manusia yang berhubungan dengan autisme. Penelitian lain menyebutkan bahwa faktor yang menyebabkan autisme adalah karena terjadinya gangguan pada sel otak janin.

Ada pula penelitian yang memperkirakan bahwa penyebab autisme adalah karena logam berat seperti merkuri, arsen, dan aluminium. Namun ternyata tidak semua anak yang terpapar logam berat ini mengalami autisme. Faktor genetik juga berperan di sini. Ada anak yang secara genetis mampu mendetoksifikasi (menawarkan racun) radikal bebas dan logam berat, namun ada pula yang secara genetis tidak mampu melakukan hal tersebut.

Merkuri sendiri sebenarnya ada secara alami di alam bebas dan tidak membahayakan jika berada dalam kadar tertentu. Namun merkuri ini sering masuk ke tubuh manusia, termasuk anak-anak, melalui rantai makanan (tidak masuk secara langsung). Misalnya melalui zat arsen yang digunakan sebagai “pembersih” air minum. Ketika zat ini masuk ke dalam tubuh, maka zat ini akan menjadi zat beracun. Mungkin peneliti harus membandingkan kejadian autisme di pedesaan dengan kehidupan yang masih sangat alami dengan kejadian autisme di perkotaan atau di wilayah yang kehidupannya telah begitu banyak tersentuh dengan bahan-bahan kimia.

Kalau ternyata angka kejadian di pedesaan yang jauh dari semua barang-barang yang bersentuhan dengan zat kimia, malah nol, maka bisa ditarik kesimpulan bahwa zat kimia dalam barang-barang yang dianggap membantu kehidupan orang kota itu adalah salah satu yang membuat berkembangnya autisme. Kalau hal ini telah pasti, itu artinya, penduduk perkotaan tidak perlu menggunakan bahan-bahan itu lagi dalam kehidupannya selanjutnya. Bila perlu para produsen perlengkapan dan peralatan rumah tangga itu tidak boleh lagi memakai zat kimia yang berbahaya.

Autisme terkait dengan nasib bangsa ke depannya. Alangkah menyedihkannya bila anak bangsa ini harus terhambat kemajuannya hanya karena ia tidak mampu secara fisik maupun secara mental. Bukannya menganggap bahwa anak autis tidak berguna, namun, kalau autisme ini bisa dihilangkan dengan cara dicegah, hal itu tentu lebih baik. Perjuangan untuk membuat anak autis bisa memberikan sumbangsih tertentu pada kehidupannya sangat luar biasa. Kalau tidak mempunyai jiwa yang kuat, maka tidak akan sanggup mendidik dan mengasuh anak autis. Kesabaran, ketelatenan, kreativitas, tenaga yang kuat benar-benar dibutuhkan.

Autisme di Indonesia

Jumlah anak penyandang autisme di Indonesia ternyata mengalami peningkatan karena semakin banyaknya faktor pemicu autisme seperti faktor lingkungan dan pola hidup. Pada sebagian orangtua, autisme pada anak mereka dapat dideteksi sejak dini sehingga langkah-langkah pengobatannya pun dapat dilakukan sesegera mungkin. Perkembangan ini sangat mengagetkan dan membuat miris. Seakan-akan semakin banyak orang mengetahui tentang autisme, semakin banyak pula kasus autisme.

Namun tidak semua orangtua menyadari bahwa anaknya menyandang autisme. Parahnya lagi, ketidaktahuan orang tua ini semakin dikaburkan oleh pandangan masyarakat yang buta tentang autisme. Tak jarang masyarakat mengecap anak autis sebagai anak idiot atau bahkan kurang waras. Pandangan seperti ini semakin memojokan anak-anak autis dan keluarganya. Bahkan sering kali kata ‘autis’ dijadikan mainan dan gurauan. Tidak seharusnya orang lain tertawa di atas penderitaan orang lain.

Tidak ada seorang pun yang mau menjadi autis atau mempunyai anak autis atau mempunyai keluarga yang mengidap autis. Kerja sama semua pihak dalam mendidik anak-anak baik yang menderita autis maupun anak-anak normal, sangat dibutuhkan. Pada suatu ketika orangtua dengan anak-anak autis ini membutuhkan bantuan anak normal agar bisa mengukur sampai di mana kemajuan yang telah diraih oleh anak autis. Sedangkan anak yang normal membutuhkan anak autis sebagai cermin dan pemberi semangat hidup serta semangat berjuang pantang menyerah pada keadaan.

Media massa bahkan pernah menemukan kasus seorang anak autis yang kebetulan berasal dari kalangan ekonomi lemah dan kurang berpendidikan yang dipasung oleh orangtuanya sendiri. Lagi-lagi karena ketidaktahuan orangtua. Orangtua menganggap anak yang mengamuk itu adalah anak kurang waras. Kasihan sekali anak-anak yang tidak tahu apa-apa ini harus mengalami neraka dunia oleh orangtuanya sendiri. Memang tidak bisa menyalahkan orangtua yang tidak tahu apa-apa. Kalau informasi tentang autisme ini memang belum mereka ketahui, itu artinya lingkungan harus bekerja sama lebih baik lagi.

Di Amerika Serikat, 1 dari 500 anak memiliki kemungkinan menyandang autisme.  20% anak tidak menunjukkan gejala autisme hingga usia 2 tahun. Gejala ini sendiri sebenarnya dapat dideteksi ketika anak berusia antara 18 bulan hingga 3 tahun dengan menggunakan CHAT  (Checklist for Autism in Toddlers). Jika menemukan tanda-tanda autisme seperti ketidakmampuan berkomunikasi dengan orang tua, tidak memiliki empati, dan tidak memiliki ekspresi emosional, maka anak harus segera ditangani oleh dokter ahli atau psikolog.

 

 

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Mengatasi Anak Autis dan Kenali Pola Makannya
  • Sekolah Autisme
  • Tujuan dan Kegiatan Yayasan Autis Indonesia
  • Pengertian Autisme dan Penanganannya
  • Mewaspadai Ciri-Ciri Anak Autis Sejak Dini
  • Seputar Sekolah Autis dan Tip Memilihnya
  • Tips Membuat Rumah Autis
  • Jenis-Jenis Autis Pada Anak
  • Cara-cara Terapi Autis
  • Sekolah Khusus Autis bagi Penderita Autis
  • Mendalami Autis dari Makalah Autisme
  • Memahami Penyebab Anak Autis
  • Mengenal Penyakit Austis di Jurnal Autisme
  • Mengenal Tanda dan Gejala Autis Anak
  • Pendidikan Autis Oleh Keluarga
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA