Kelakuan Kita adalah Penyebab Kemacetan Lalu Lintas
Ilustrasi penyebab kemacetan lalu lintas
Macet? Wah, rasanya dimana-pun kita berada kemacetan merupakan sesuatu yang sudah biasa. Bahkan ada yang mengatakan, kota tanpa kemacetan sangatlah aneh. Kota dan kemacetan adalah satu paket kondisi yang merupakan perwujudan dari perubahan pola kehidupan. Dan, ada beberapa penyebab kemacetan lalu lintas ini.
Menguraikan penyebab dari kemacetan lalu lintas tidak beda dengan mengurai kelakuan kita sendiri. Hal ini karena masalah kemacetan lalu lintas sangat dekat dengan perilaku yang kita terapkan di jalan raya. Pola perilaku ini terutama terkait dengan bagaimana kita bersikap saat menjadi pemakai jalan. Seringkali, justru kita yang menjadi penyebab dari kemacetan lalu lintas tersebut.
Jalan raya adalah tempat atau jalur kita melakukan mobilitas kehidupan. Pada saat kita melakukan aktivitas kehidupan, jalan raya adalah sarana yang paling banyak kita pergunakan. Setiap saat kita dapat menyaksikan berbagai kendaraan melaju, merangkak di punggung jalan raya. Mereka sibuk dengan berbagai urusan. Dan, seakan urusan tersebut tidak pernah habis. Akibatnya, jalan raya tidak pernah sepi dari kendaraan.
Kemacetan banyak terjadi di kota besar seperti Jakarta ataupun Syrabaya. Namun Jakarta memang sangat dikenal dengan masalah kemacetannya yang begitu menggurita dan sulit untuk diatasi.
Perlu Sopan Santun di Jalan
Kita ini bangsa yang beradab, yaitu bangsa yang menerapkan nilai-nilai positif dalam kehidupan. Kita selalu berusaha untuk melakukan berbagai hal positif yang mendukung kehidupan lebih baik. Termasuk dalam hal ini ketika memanfaatkan jalan raya sebagai sarana mobilitas kehidupan. Kita sangat menyadari bahwa keberadaan kita sangat memungkinkan menjadi penyebab dari kemacetan lalu lintas. Oleh karena itulah, maka kita selalu berusaha untuk mengantisipasi kondisi.
Salah satu hal konkrit yang dapat mencegah kita menjadi penyebab dari kemacetan lalu lintas adalah bersikap santun dalam pemanfaatan jalan. Kita harus bersikap sopan saat melaju di jalan raya. Jika kita masing-masing bersopan santun saat dijalan raya, maka ketertiban berlalu lintas dapat terkondisikan. Dan, jika kita tertib berlalu lintas, maka jalan raya terlihat teratur. Jika jalan raya teratur, maka laju kendaraan menjadi lancar dan tidak macet.
Sikap sopan santun saat memanfaatkan jalan raya ada beragam, misalnya melaju pada jalur yang diperuntukkan, tidak sering berganti jalur, tidak menyalip dengan seenaknya, berkendaraan seenaknya, dan hal-hal lain yang jelas-jelas mengganggu pengendara lainnya. Terlalu sering membunyikan bel saja merupakan rendahnya adab sopan santun dalam berkendaraan di jalan raya. Dan, hal-hal yang kita anggap sepele ternyata dapat menyebabkan berbagai keruwetan di jalan raya.
Beberapa Kelakuan Kita yang Menyebabkan Kemacetan Lalu Lintas
Seperti telah diuraikan, kelakuan kita sangat menentukan kelancaran laju kendaraan. Jika kita berkelakuan baik di jalan raya, maka laju kendaraan dapat lancar dan hal tersebut dapat mencegah kemacetan. Tetapi, jika kita berkelakuan tidak baik, maka kita akan menjadi penyebab dari kemacetan lalu lintas. Jika ada sepuluh orang yang berkelakuan tidak baik di jalan raya, maka kemacetan total akan terjadi sepanjang ruas jalan yang kita lewati.
Beberapa kelakuan yang seringkali menjadi penyebab dari kemacetan lalu lintas, misalnya:
1. Berpindah Jalur Seenaknya
Berpindah jalur sering kita lihat dilakukan banyak pengemudi. Hal ini dilakukan ketika mereka merasa mulai terjebak oleh kemacetan dan melihat peluang berpindah di samping kiri ataupun samping kanan. Maka, dengan leluasanya stir diputar kearah yang dianggap kosong.
Ini kejadian yang seringkali terjadi, khususnya kendaraan roda empat. Akibatnya, kendaraan yang ada di belakang pada jalur tersebut terhalang dan harus menunggu. Dan, hal tersebut menjadikan kendaraan di belakang menunggu dan itu artinya dapat menyebabkan macet.
2. Bersikap Ragu di Jalan
Jika kita bersikap ragu saat berada di jalan raya, maka hal tersebut merupakan indikasi akan terjadinya kemacetan di jalur atau jalan kita. Keraguan yang terjadi pada kita menyebabkan kondisi yang serba meragukan. Bagaimana seseorang yang peragu melaju di jalan raya?
Pada saat melaju di jalan raya, jika kita ragu, maka tujuan kendaraan kita tidak lancer. Setiap kali lajunya pelan, bahkan seringkali batal ketika melaju. Tentu saja hal tersebut menyebabkan kendaraan yang ada di belakang kita juga bingung harus memposisikan diri. Akibatnya, laju kendaraan juga terhambat dan kondisi ini menyebabkan merandegnya laju kendaraan dan macet.
3. Berkendaraan tidak di jalurnya
Di jalan raya, setiap jenis kendaraan sudah diatur jalurnya. Jalur kendaraan cepat, lambat, bahkan untuk jalur kendaraan kecil, sepeda motor, mobil penumpang umum (mpu) dan bis, serta mobil pribadi.
Yang sering terjadi adalah banyaknya kendaraan yang melaju tidak pada jalurnya. Kendaraan yang seringkali melakukan hal ini adalah sepeda motor. Para pengendara sepeda motor merasa bahwa dengan kendaraannya, maka mereka dengan mudah menyelinap setiap celah yang ada diantara kendaraan besar. Bahkan, tidak sedikit yang melaju di trotoar untuk dapat mendahului kendaraan di depannya.
4. Budaya yang hedonis
Di alam saat ini, banyak orang yang lebih mengutamakan gaya dan penampilan dari sebuah kebutuhan. Hal ini juga termasuk dalam hal menggunakan kendaraan bermotor.
Banyak pemilik kendaraan bermotor yang menjadikan kendaraan yang dimilikinya adalah sebagai salah satu prestise yang mereka banggakan. Sejatinya hal ini adalah hak pribadi mereka namun ketika itu sudah bersinggungan dengan hak orang lain maka haruslah dapat dilakukan rasa tenggang rasa.
Kita tahu bagaimana beberapa orang dari kalangan menengah keatas lebih menyukai untuk mengendarai kendaraannya sendiri. Walaupun memang untuk wilayah Indonesia kepemilikan kendaraan bermotor sangatlah memberikan dampak positif bagi penggunanya.
Misalnya adalah membantu pemiliknya untuk lebih cepat sampai di tempat yang ingin dituju. Dibandingkan dengan ketika harus naik alat transportasi umum. Dimana harus menunggu kedatangannya. Belum lagi faktor keselamatan bagi pengguna alat transportasi umum ini yang belakangan sangatlah diragukan. Terutama setelah mencuatnya kasus pemerkosaan dan juga perampokan yang terjadi di dalam angkot.
Namun terlepas dari itu semua, penyebab adanya kemacetan adalah jumlah dari kendaraan bermotor yang berjubel begitu banyak. Jikalau setiap dari pemilik kendaraan dapat menekan ego dan prestise yang ingin ditonjolkan untuk meinggalkan kendaraannya di rumah dan mau untuk naik alat transportasi umum maka tentunya kemacetan ini dapat ditanggulangi.
Hanya saja, dalam mengajak sebagian masyarakat kelas atas dan menengah untuk mau naik alat transportasi ini maka haruslah didukung dengan sarana dan fasilitas yang memadai dari alat transportasi ini.
Hal ini tentunya berkaitan erat dengan kebijakan pemerintah mengenai alat transportasi ini. pemerintah dapat memebrikan kebijakan untuk membuat kualitas dari alat transportasi ini lebih baik dan meningkat lagi.
5. Mudahnya kepemilikan kendaraan bermotor
Hal ini secara tidak langsung juga berakibat pada emacetan yang terjadi. Karena memang macet terjadi karena jumlah kendaraan bermotor yang terlalu banyak. Hal ini dapat disebabkan oleh kemudahan dalam membeli ataupun memperoleh kendaraan ini.
Jika tak dapat membeli secara tunai, saat ini begitu mudah untuk memperolehnya dengan cara kredit. Dan cara inipun juga memberikan kemudahan bagi orang yang berkeinginan melakukannya.
Cara kredit ini dirasakan sangat tidak memberatkan. Dalam waktu satu bulan hanya diharuskan untuk membayar jumlah uang tertentu. Walaupun tentunya harga secara kredit ini jauh lebih mahal daripada harga tunai namun tetap saja dianggap mebantu dan memudahkan.
Jikalau harga mobil atau sepeda bermotor dibuat lebih mahal lagi maka akan menurunkan tingkat kemampuan dari penduduk Indonesia untuk dapat memiliknya. Sehingga akan lebih sedikti lagi jumlah kendaraan bermotor yang ada di jalan.
6. Tata ruang kota
Kemacetan juga dapat disebabkan karena tata ruang kota yang tak efektif. Sehingga terjadi penumpukan sejumlah kendaraan di satu titik tertentu. Maka dari itu, haruslah dibuat atau dirancang tata ruang kota yang maksimal dan optimal. Sehingga akan memudahkan laju dari setiap kendaraan yang ada. Dan dengan ini dapat menekan angka kemacetan yang terjadi.
Kondisi ini jelas sangat memungkinkan menjadi penyebab kemacetan lalu lintas. Apalagi jika ada kendaraan yang melaju tidak sesuai tersebut pada pertigaan atau perempatan. Kendaraan yang bertujuan lurus ternyata ada di jalur kiri yang diperuntukkan bagi kendaraan yang belok kiri, maka ini sangat memancing terjadinya kemacetan lalu lintas.

