Penyebar Agama Islam di Jawa dan Sumatera
Penyebar agama Islam terdiri dari berbagai kalangan. Yang menarik, ternyata ada pola berbeda yang diterapkan oleh penyebar agama Islam di dua pulau besar Indonesia, Jawa dan Sumatera. Pola berbeda tersebut menghasilkan penyerapan Islam yang berbeda pula.
Penyebaran Islam di Jawa
Seperti kita ketahui, penyebar agama Islam di Jawa adalah Wali Songo, menurut sejarah umum. Banyak yang menyebutkan bahwa beberapa orang dari Wali Songo berasal dari Gujarat atau mungkin Persia. Namun, ada juga yang menyebutkan bahwa Wali Songo kemungkinan berasal dari Cina.
Terlepas dari asal mereka, Wali Songo menyebarkan Islam dengan jalan merangkul penduduk sekitar. “Kebetulan” Islam yang mereka anut adalah sufi, yang cenderung tidak konfrontatif, luwes, dan mudah melebur dalam budaya lokal.
Oleh karena itu, kita kemudian mengenal wayang dan gamelan sebagai media penyebaran Islam di Jawa. Pagelaran, yang menjadi salah satu kegiatan favorit masyarakat Jawa saat itu, berhasil dimanfaatkan Wali Songo.
Dengan mudah, Wali Songo kemudian mengubah jimat Kalimosodo milik Puntadewa menjadi “kalimat syahadat”, selain kemungkinan menciptakan empat punokawan (Semar, Petruk, Gareng, dan Bagong) yang tidak ada dalam cerita asli Mahabarata atau Ramayana di India.
Kita juga bisa melihat “luwesnya” Islam dalam perayaan qurban di Kudus. Masyarakat Islam Kudus tidak menyembelih sapi sebagai bentuk penghormatan atas agama Hindu yang mengultuskan binatang tersebut.
Penyebaran Islam di Sumatera
Sementara itu, bertolak belakang dengan penyebaran Islam di Jawa, penyebaran Islam di Sumatera ditandai dengan peperangan terhadap suku-suku yang menolak Islam.
Kemungkinan besar, penyebar Islam di Sumatera adalah suku-suku yang langsung datang dari Arab dengan budaya yang cenderung represif, seperti halnya suku di Sumatera yang lebih “antipendatang” daripada suku di Jawa.
Kita bisa melihat hal ini dari pertempuran para mujahid pembangun Paksi Pak di Skala Beghak, Lampung. Para mujahid tersebut memberantas Suku Tumi penganut Hindu Bhairawa (kebetulan, termasuk sebagai ajaran Hindu sesat).
Dalam perang tersebut, para mujahid menggunakan liwa (bendera) dan meminta suku Tumi yang kalah perang untuk menjamu mereka. Pola-pola seperti ini hanya terjadi pada perang yang dilakukan oleh suku Arab. Kita juga bisa melihat dalam kasus Kaum Paderinya Imam Bonjol.
Tokoh pahlawan nasional tersebut cenderung menyerang Kaum Adat yang mengerjakan hal-hal yang bertentangan dengan paham Wahhabiyah yang dibawa Tuanku Imam Bonjol dan Tuanku Si Miskin dari Mekkah. Hasilnya, Islam memang menjadi agama penguasa di Sumatera. Akan tetapi, Islam juga sekaligus “menyingkirkan” orang-orang yang tidak mau berdamai dengan para penyebarnya.
Meskipun terdapat dua pola penyebaran yang berbeda di Sumatera dan Jawa, Islam kemudian menjadi agama terbesar di Indonesia. Faktor yang mendukung perbedaan ini adalah (1) penyebar dan latar belakang sosial mereka; dan (2) pihak yang menerima ajaran dan latar belakang mereka.






