Penyimpangan Seksual: Perilaku Sadis dalam Hubungan Seksual

“Maaaf banget ya Say! Ada hal penting yang ingin aku tanyakan padamu. Tapi jangan marah yach! Emmm … apakah dirimu senang melihat orang lain menderita? Ya semisal keinginan menyiksa pasangan saat melakukan hubungan seksual … sadisme gitu?”
Inilah pertanyaan yang membuat saya terhenyak saat melakukan proses PDKT dengan calon istri. Pertanyaan ini sangat pribadi bahkan terkesan di luar “kewajaran”, khususnya dalam interaksi antarlawan jenis. Namun sebenarnya, pertanyaan semacam ini sangat perlu dan wajib ditanyakan dalam tahapan mengenal calon pasangan hidup. Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari karena menikah dengan orang yang memiliki kelainan atau penyimpangan seksual.
Kegantengan, kekayaan, populatitas, jabatan, fans, dan berbagai aksesoris duniawi bisa menjadi tidak berarti apa-apa ketika pasangan hidup menyimpang secara seksual. Rumah tangga menjadi nereka dunia! Itulah mengapa, salah satu penyebab hancurnya rumah tangga adalah ketika pasangan gemar melakukan penyimpangan seksual, baik dalam kadar ringan maupun berat.
Satu dari sekian banyak penyimpangan seksual yang sangat berbahaya, sebagaimana yang ditanyakan calon istri pada awal tulisan, adalah sadisme. Apakah itu? Secara umum, sadisme dapat diartikan sebagai sebuah perbuatan, dalam konteks hubungan seks antara laki-laki dan perempuan, di mana yang bersangkutan baru merasakan kepuasan dan kenikmatan seks apabila dapat menimbulkan kesakitan fisik atau psikis pada pasangannya.
Dengan demikian, seseorang sadisme tidak segan-segan untuk memukul, menyiksa, mengikat, melukai, bahkan membunuh pasangan seksualnya. Dia sangat menikmati jeritan, tangisan, lolongan, atau teriakan pasangannya karena dengan cara itulah dia bisa mendapatkan kepuasan seksual.
Penderita sadisme pada umumnya adalah laki-laki. Hal ini dapat dimengerti karena dalam hubungan seksual laki-laki biasanya lebih dominan dibandingkan perempuan, selain fisiknya yang cenderung lebih kuat. Walaupun demikian, hubungan seksual yang intens antara seorang lelaki pengidap sadisme dengan pasangan perempuannya, lambat laun dapat berpengaruh pula pada si perempuan.
Dalam kondisi teraniaya akibat kekerasan fisik dan psikis yang diterimanya, si perempuan boleh jadi akan mulai mengalami kepuasan dan kenikmatan seksual. Pengulangan pengalaman tersebut pada akhirnya akan melahirkan kelainan pada pasangan laki-laki sadisme yang disebut masochisme. Artinya, ia akan menikmati dan mendapatkan kepuasan seksual pada waktu mengalami sakit (pada diri sendiri). Orang yang bersangkutan akan mengasosiasikan rasa sakit dengan kenikmatan seksual.
Pertanyaannya sekarang, apa yang menyebabkan seseorang mengidap penyimpangan seksual berupa sadisme? Prof. Dr. Sawistri Sadarjoen, Psi. dalam buku Bunga Rampai Kasus Gangguan Psikoseksual, (2005:18) mengungkapkan beberapa faktor penyebab sadisme dalam seksual, yaitu:
- Pada masa kecilnya, pengidap sadisme dibesarkan dalam pola asuh yang sarat dengan kekerasan fisik dan psikis. Kondisi tersebut kemudian melahirkan sikap kebencian, perlawanan, kemarahan, dan penolakan diri yang sangat intens. Hal ini menjadikan yang bersangkutan memiliki kecenderungan untuk melampiaskan dendam kesumat masa lalunya itu kepada orang yang berada di bawah kekuasaannya.
- Dalam konteks hubungan seksual, sambil menyiksa dan melampiaskan kemarahan yang terpendam, ia pun mendapatkan rangsangan seksual erotik yang memuncak. Dengan demikian, ia mendapatkan pemenuhan dua “kebutuhan” sekaligus, yaitu melampiaskan amarah dan hasrat seksualnya.
- Tindakan sadisme dilakukan sebagai kompensasi dari berbagai keadaan frustasi.
- Pengidap sadisme cenderung memandang seks sebagai sesuatu yang penuh dosa. Karena itu, dia terdorong untuk melakukan kekerasan pada pasangan seksualnya agar dapat mengurangi perasaan dosa seksualnya tersebut.






