logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Referensi    Ilmu Sosial    Ilmu Sejarah

Peradaban Lembah Sungai Gangga


Ilustrasi peradaban lembah sungai gangga

Gangga dalam Bahasa India atau Ganges sebagai ejaan orang barat adalah nama sungai yang terletak di wilayah India bagian utara dan dijadikan sebagai sungai nasional masyarakat India oleh pemerintah. Nama Gangga sendiri diperoleh dari nama seorang dewi cantik jelita dalam kepercayaan Hindu yang melambangkan dewi kesuburan dan sebagai dewi pembersih dari segala dosa melalui air suci yang keluar dari kendi yang digambarkan selalu ia bawa.

Masyarakat India yang beragama Hindu percaya bahwa mandi atau membasuh diri di Sungai Gangga pada saat yang telah ditentukan akan menghilangkan dosa-dosa dan pelanggaran yang telah dilakukan oleh manusia. Selain untuk penyucian dosa, Sungai Gangga pun menjadi tempat melarung (menghanyutkan) abu jenazah yang akan mengantarkan rohnya ke surga. Lalu, bagaimana dengan peradaban lembah Sungai Gangga?

Peradaban Lembah Sungai Gangga

Selain karena kesakralannya, Sungai Gangga terutama di sekitar lembah sungainya memiliki peranan penting dalam sejarah India terutama dalam hal asal usul masyarakat India. Sebagaimana sejarah mencatat bangsa Arya yang tergolong dalam bangsa Indo-Jerman datang dari daerah Kaukasus lalu menyebar ke timur. Bangsa tersebut mulai memasuki India sekitar tahun 200-1500 SM, melalui sebuah celah yang diberi nama Celah Kaibar di antara Pegunungan Himalaya.

Setelah bangsa Arya ini sukses mengalahkan bangsa Dravida di lembah sungai Indus, mereka lalu hidup menetap dan memiliki mata pencaharian sebagai peternak. Mereka memilih lembah sungai untuk hidup menetap karena lembah sungai merupakan suatu daerah yang memiliki tanah subur, dekat sumber air sehingga ideal untuk dijadikan tempat tinggal. 

Bangsa Arya adalah bangsa penakluk, selanjutnya mereka melebarkan kekuasaannya ke lembah Sungai Gangga. Setelah mereka berhasil menduduki lembah sungai ini, mereka pun terus mengembangkan kebudayaannya yang telah bercampur dengan kebudayaan bangsa Dravida. Hasil percampuran budaya ini selanjutnya melahirkan suatu kebudayaan baru yang disebut kebudayaan Hindu.

Pemerintahan di lembah Sungai Gangga

Peperangan yang terjadi di antara kerajaan kecil di sekitar lembah sungai Gangga semakin meruncing dan akhirnya memecah belah mereka. Namun, muncullah kerajaan-kerajaan baru yang meredakan konflik ini. Di antaranya adalah Kerajaan Gupta dan kerajaan Harsha.

1. Kerajaan Gupta

Kerajaan Gupta didirikan oleh Raja Candragupta I yang memiliki pusat pemerintahan di Lembah Sungai Gangga. Pada masa pemerintahan Raja Candragupta I ini, agama Hindu menjadi agama negara atau agama utama masyarakat, namun agama Buddha masih bisa berkembang. Kebijaksanaan Raja Gupta 1 dengan toleransi beragamanya saat itu patut diacungi jempol.

Puncak kejayaan kerajaan Gupta sendiri ada pada era pemerintahan Raja Samudragupta yang merupakan cucu dari Raja Candragupta 1, di mana wilayah kekuasaannya mencakup lembah Sungai Gangga dan Sungai Indus dengan ibu kota kerajaan Kota Ayodhia.

2. Kerajaan Harsha

Sekitar abad ke-7 Masehi, berdirilah kerajaan Harsha yang dipimpin oleh Raja Harshawardana. Pada masa pemerintahan Harshawardana, kesusastraan dan pendidikan berkembang pesat, pun begitu dengan perkembangan agama Buddha, apalagi Raja Harshawardana yang awalnya memeluk agama Hindu berpindah agama menjadi Buddha. Sebagai buktinya, di lembah Sungai Gangga banyak dibangun vihara dan stupa-stupa yang dipelihara dengan baik.

Mitologi Sungai Gangga

Sungai gangga merupakan sungai yang sangat disucikan oleh agama hindu. Penamaan sungai ini sendiri berkaitan erat dengan cerita Dewi Gangga. Dewi Gangga adalah seorang dewi yang bertugas untuk mensucikan para roh.

Cerita mengenai Dewi Gangga sendiri ada beberapa versi atau bahasan. Dalam sastra Hindu, Dewi Gangga dianggap sebagai pengasuh atau ibu asuh dari Dewa kartikeya atau yang dikenal juga sebagai Dewa Murugan. Dewa Kartikeya adalah dewa dari putera Dewa Siwa dan Dewi Parwati. Dewi Gangga juga dikenal sebagai ibu dari Dewabrata yang dikenal juga dengan nama Bisma yang merupakan salah satu tokoh yang ada pada cerita Mahabarata.

Ada sebuah kepercayaan di India yang merupakan penganut ajaran agama hindu bahwasannya suatu saat sungai gangga akan mengering bersamaan dengan mengeringanya sunga Saraswati. Peristiwa itu diyakini akan terjadi pada masa kegelapan yang juga dikenal dengan masa sekarang.

Masa sekarang ini akan berakhir yang akan digantikan dengan masa kebenaran atau lebih dikenal dengan nama Satyayuga.

Kelahiran Dewi Gangga

Ada berberapa versi tentang kelahiran Dewi Gangga dalam kepercayaan agama Hindu.  Salah satu cerita tentang kelahiran Dewi Gangga adalah berasal dari air suci di Kamandalu Brahma yang berubah menjadi seorang gadis bernama Gangga. Kamandalu Brahma adalah sebuah wadah kendi yang digunakan untuk menyimpan air.

Dalam cerita lain digambarkan bahwa Dewa Brahma yang dengan takzim sedang mencuci kaki dari Dewa Wisnu. Air cucian kaki Dewa Wisnu tersebut kemudian dikumpulkan dalam Kamandalu miliknya. Cerita ini merupakan cerita yang diambil dari legenda Waisnawa.

Di sebuah cerita yang lain digambarkan bahwa Gangga merupakan puteri dari seorang raja gunung. Raja Gunung tersebut bernama Himawan dengan seorang istri Mena. Dengan silsilah tersebut maka Dewi Gangga juga bisa dikatakan sebagai adik dari Dewi Parwati. Walaupun memiliki berbagai macam versi mengenai kelahiran Dewi Gangga tetapi semua versi tersebut mengatakan bahwa Dewi Gangga lahir di Surga dengan asuhan dari Dewa Brahma.

Turunnya Dewi Gangga ke Bumi

Diceritakan bahwa ada seorang raja bernama Sagara yang memiliki sebuah keistimewaan dibandingkan dengan raja lain pada umumnya. Keistimewaan dari Raja Sagara adalah beliau memiliki anak laki-laki yang sangat banyak. Diceritakan bahwa karena banyaknya jumlahnya ada sekitar nam puluh ribu putra yang dimiliki oleh Raja Sagara.

Hingga datang sebuah kisah tragis yang diawali dengan adanya sebuah perayaan. Raja Sagara mengadakan sebuah perayaan untuk menghormati kemakmuran yang telah diraih oleh kerajaannya. Dalam upacara tersebut ada sebuah bagian terpenting dan bagian terpenting tersebut adalah seekor kuda. Upacara tersebut tidak bisa berlangsung jika tanpa adanya kuda.

Di sisi lain, Dewa Indra merasa sangat cemburu akan kemakmuran yang dimiliki oleh Raja Sagara. Akhirnya Dewa Indra mencuri seekor kuda tersebut yang sebenarnya akan dijadikan sebagai bagian terpenting dari upacara. Karena tidak menemukan kuda yang akan digunakan untuk upacara maka Raja Sagara memerintahkan ke enam puluh ribu puteranya untuk mencarinya di seluruh penjuru negeri.

Hingga pada akhirnya ditemukanlah kuda yang hilang tersebut. Kuda tersebut berada di dunia bawah tanah yang dikenal dengan Patala. Kuda tersebut ketika ditemukan tepat berada di depan seorang resi yang sedang bersemedi. Resi tersebut bernama Resi Kapila.

Tanpa tahu siapa yang mencuri sebenarnya, ke semua putera Raja Sagara mencaci maki resi yang sedang bersemedi tersebut. Sudah bertahun-tahun resi tersebut bersemedi dan tidak pernah sekalipun membuka matanya ketika bersemedi.

Mendapatkan gangguan yang berasa berasal dari putera Raja Sagara akhirnya sang resi membuka matanya untuk yang pertama kali ketika sedang bersemedia. Ketika sang mata resi terbuka dan memandang semua putera Raja Sagara. Seketika itu semua tubuh putera Raja Sagara langsung terbakar dan akhirnya semuanya meninggal dunia tanpa tersisa.

Semenjak itu jiwa dari roh putera Raja Sagara menjadi tidak tenang dan gentayangan seperti hantu penasaran. Semua itu karena upacara terakhir mereka yang tidak pernah terlaksanakan. Lalu ada seorang yang bernama Bhagirata yang merupakan keturunan dari Raja Sagara, putera dari Dilipa.

Mengetahui nasib akan leluhurnya yang masih menjadi roh gentayangan maka Bhagirata bersumpah akan membawa Dewi Gangga untuk turun ke bumi. Tujuannya adalah tidak lain agar roh semua leluhurnya menjadi suci dengan air yang dimiliki oleh Dewi Gangga. Dengan demikian para roh tersebut akan bisa naik ke surga karena roh mereka telah suci.

Untuk mewujudkan sumpahnya tersebut, Bhagiratha menyembah Dewa Brahma agar memberikan restunya supaya Dewi Gangga mau turun ke bumi. Akhirnya Dewa Brahma pun bersedia dan memberikan restunya. Dewa Brahma pun mengutus dewi Gangga agar turun ke bumi untuk turun ke dunia bawah agar roh leluhur Bhagiratha tersucikan oleh air Dewi Gangga.

Namun keadaan berkata lain, Dewi Gangga merasa terhina karena harus turun ke bumi dan berada di dunia bawah tanah. Lalu dengan sombong Dewi Gangga memiliki keinginan untuk membersihkan seluruh isi dunia ketika beliau turun nanti.

Membaca situasi yang genting tersebut, Bhagiratha tidak tinggal diam saja. Bhagiratha pun menyembah Dewa Siwa untuk mengatasi kesulitannya tersebut. Dan Dewa Siwa pun menyanggupi untuk mengatasi kesombnongan yang dimiliki oleh dewi Gangga.

Ketika turun ke bumi, Dewi Gangga turun ke atas rambut Dewa Siwa. Tentu saja masih dengan sikap congkak yang dimiliki oleh Dewi Gangga. Namun Dewa Siwa tetap tenang dan akhirnya mampu menjebak Dewi Gangga dengan rambutnya lalu membiarkannya keluar hanya melalui arus kecil saja. Sentuhan suci dari Dewa Siwa tersebut telah mensucikan Dewi Gangga yang congkak nan angkuh tersebut.

Akhirnya Dewi Gangga pun melewati dunia bawah tanah untuk mensucikan roh para leluhur Bhagiratha tersebut. Di dunia bawah tanah tersebut Dewi Gangga juga membuat aliran yang bercabang-cabang untuk menolong jiwa yang tersesat yang berada di sana.

Usaha Bhagiratha pun tidak sia-sia dan menuai hasil yang gemilang. Karena usaha dari Bhagiratha yang telah mampu membuat Dewi Gangga turun ke bumi maka sungai Gangga juga dikenal dengan nama Bhagirathi. Dan istilah Bhagirath prayatna dipakai sebagai penggambaran untuk sebuah usaha yang sangat sulit.

Tolong di SHARE :
Tweet
Artikel Terkait
  • Kisah Pendiri Kerajaan Malaka
  • Sejarah Kerajaan Aceh di Indonesia
  • Mengenang Perjuangan Indonesia Merebut Irian Barat
  • Kerajaan Kutai Martadipura
  • Sejarah Kerajaan Kutai Martadipura
  • Kutai, Saksi Sejarah Kuno Kerajaan Tertua Nusantara
  • Sejarah Kerajaan Majapahit
  • Tokoh-tokoh di Balik Perkembangan Teknologi Indonesia
  • Kontroversi G30S PKI
  • Menelusuri Sejarah Pergerakan Nasional
  • Mengenal Sejarah dan Lambang Kerajaan Sriwijaya
  • Sejarah Perang Diponegoro
  • Sejarah Bali Pun Berkaitan dengan Ekspedisi Gajah Mada
  • Perjuangan Mahatma Gandhi: Ahimsa, Perlawanan Tanpa Kekerasan
  • Manusia, Makhluk Multi Kompleks
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Komp. Buah Batu Regency Blok A2 No.9
Bandung Jawa Barat - INDONESIA