Mengenal Sosok Panglima Perang Suku Dayak
Apakah Anda—terutama yang bukan merupakan anggota suku Dayak—tahu sosok panglima perang suku Dayak?
Meski konon hanya sebatas mitos, namun banyak masyarakat Dayak percaya bahwa sosok yang dikenal berwibawa, tangguh, kuat dalam pendirian, dan tetua yang diagungkan masih hidup sampai saat ini meski umurnya sudah ratusan tahun. Ia dipercaya sebagai sosok yang agung, sakti mandraguna, dan tingalnya di pedalaman gunung Kalimantan, dan kerap bersentuhan dengan dunia gaib.
Penglima perang suku Dayak ini kembali muncul namanya terutama ketika kerusuhan antara Sambas dan Sampit yang banyak menelan korban. Masyarakat setempat percaya bahwa panglima burung tinggal di perbatasan antara Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.
Versi lain juga menyebutkan bahwa panglima burung merupakan jelmaan burung yang bisa mencala putera-mencala puteri menjadi laki-laki atau perempuan sesuai dengan kondisi dan keinginannya. Beliau juga konon telah meninggal namun rohnya masih tetap bisa diajak komunikasi dengan masyarakat.
Mengaku-ngaku
Saking terkenal dan dihormatinya panglima burung, seperti halnya banyak yang ingin menjadi nabi palsu, sampai-sampai banyak juga masyarakat yang mengaku-ngaku menjadi panglima burung dengan berbagai reka dan upayanya yang dibuat-buat dan terkadang tak masuk akal. Di daerah-daerah rawan konflik seperti Tarakan, Pontianak atau Sampit pengakuan dari orang sebagai panglima burung banyak bermunculan.
Namun sebagaimana yang sudah-sudah, hal tersebut disikapi beragam oleh masyarakat sekitar. Ada yang percaya, ada yang tidak percaya dan ada yang ragu alias setengah percaya dan setengah tidak percaya. Namun, apapun itu jika ditilik dari berbagai cerita yang berkembang di masyarakat sosok panglima burung ini merupakan penggambaran masyarakat Dayak pada umumnya yang baik, sabar, dan sebenarnya tak suka berkonfrontasi.
Terjadinya Perang
Penggambaran sosok panglima burung yang humanis, penyabar dan tidak suka kekerasan telah begitu melegenda bagi masyarakat Dayak secara umum. Namun keadaan akan berubah dan membuat sang panglima turun gunung dari kediamannya ketika konon batas kesabarannya sudah habis.
Mungkin dengan cacian, pancingan untuk berperang dari suku lain atau hal lainnya yang dianggap melecehkan martabat suku Dayak, maka tak segan-segan panglima burung akan berubah menjadi murka dan marah besar. Kondisi demikian sama dengan segala sifat yang dmiliki masyarakat Dayak secara umum.
Panglima burung konon bisa dipanggil dengan ritual yang disebut Mangkuk Merah ketika perang suku Dayak akan segera dimulai. Upacara ritual tersebut dilakukan untuk mengumpulkan prajurit Dayak di seluruh Kalimantan. Akhirnya sahutan perang terjdi di seluruh penjuru kota, sambil prajurit yang siap berperang membawa mandau sebagai alat untuk berperang.
Jika sudah demikian, jangan harap ada senyuman kebaikan atu tatapan persahabatan dari suku Dayak. Sebaliknya, pembunuhan, pembacokan sampai pemenggalan kepala bisa terjdi secara membabi buta. Makanya jangan sekali-kali membuat orang Dayak murka yang akan menimbulkan perang antar suku yang sulit dihentikannya.
Hal demikianlah yang kemarin terjadi di Sampit kemarin, dimana sebenarnya perang suku Dayak terjadi disebabkan oleh permasalahan yang sepele.






