logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Referensi    Psikologi    Jurnal Psikologi

Mendekat kepada Nilai Keluhuran dengan Perasaan dan Emosi


Ilustrasi perasaan dan emosi

Berbicara mengenai perasaan dan emosi, kita akan ingat seorang yang sedang jatuh hati atau sedang marah-marah. Perasaan dan emosi memiliki asumsi di masyarakat adalah sebuah nilai rasa yang ada dalam hati. Jika dikaji lagi, bahwa sumber dari keduanya berasal dari satu tempat, yaitu hati.

Kembali kepada nilai rasa bahwa keduanya memiliki kesamaan. Hanya asumsi masyarakat saja yang membedakannya. Memang tak salah, karena macam-macam bentuk aplikasi dalam mengungkap perasaan dan emosi pun sama.

Jika emosi didekatkan dengan sebuah kemarahan, ada juga perasaan marah. Atau dibalik, jika perasaan didekatkan dengan emosi untuk mengasihi, tentu emosi spiritual (ESQ) pun ada. Jadi, keduanya yang sama itu hampir tak bisa dibedakan.

Memiliki perasaan dan emosi yang terasah akan mendekatkan kita kepada sebuah nilai-nilai luhur. Meski ada hambatan yang dipunyai, yaitu dorongan untuk mengungkapkan sesuatu secara sembarangan. Tengok saja seorang yang sedang melihat sebuah bencana di televisi.

Perasaan dan emosi yang sudah terasah akan membuat keduanya langsung bekerja. Hanya saja, aplikasi penyampaian yang berbeda. Ada yang ingin mendatangi lokasi bencana dan membantu.

Ada yang langsung mentransfer uangnya sebagai sumbangan. Ada yang marah dan menyalahkan Tuhan. Ada yang menangis saja sebagai sikap prihatin dan sebagainya.

Cara Melatih Kepekaan Emosi dan Perasaan

Berbagai cara bisa dilakukan untuk mengasah perasaan dan emosi ini. Ada yang melakukan dengan cara pelatihan, membaca, ataupun cara langsung.

1. Cara Pelatihan

Cara pelatihan ini bisa dilakukan dengan pendalaman nilai-nilai agama dan keluhuran nilai kemanusiaan. Tentu saja akan bertemu dengan sebuah sikap prihatin atas yang terjadi. Misalnya, akan prihatin melihat sebuah penggundulan hutan.

Yang artinya, perlakukan perusakan alam yang dilakukan, meski tak berada di sampingnya, sikap prihatin akan langsung muncul. Atau turunnya nilai moral sebagai akibat dari kurangnya pemahaman dari nilai-nilai agama, moral, dan sosial.
 
2. Membaca

Membaca karya fiksi yang berhubungan dengan kemanusiaan, alam, atau ketuhanan, tentu akan menggiring seseorang untuk memetik pesan yang ada di dalamnya. Bisa juga membaca sejarah yang tentunya akan memetik sebuah perjuangan yang luar biasa dari orang-orang terdahulu.

Hal itu akan membuat seseorang akan menjadi sadar tentang pentingnya sebuah sikap tolong-menolong, mengasihi, menghargai, dan menyayangi.

3. Cara Langsung

Berlatih langsung dari lapangan bisa dilakukan. Tentu saja tak sembarang orang bisa melatih perasaan dan emosi yang dimiliki. Sebagai bekal, seseorang yang ingin belajar langsung, yang utama harus dimiliki adalah kesadaran diri akan kejadian yang dilihat dan dirasakan. Menyimpulkan dengan baik dan tak mencurigai atau menyalahkan siapapun.

Bukan hanya beberapa cara di atas yang bisa dilakukan untuk mengasah perasaan dan emosi agar dekat dengan nilai keluhuran. Akan jelas jadinya ketika kita memahami secara baik bahwa aplikasi perasaan dan emosi membutuhkan kesadaran dan kepedulian.

Pemikiran yang jernih dan tak sembrono tentunya akan sangat mendukung dalam tindakan yang akan dilakukan.

Cara Mengendalikan Emosi

Setiap manusia pasti memiliki berbagai emosi, baik itu kesenangan, kesedihan, maupun kemarahan. Namun, jika emosi yang keluar dari diri manusia itu berlebihan, hal tersebut akan menjadi bumerang bagi diri manusia itu sendiri.

Oleh karena itu, agar perasaan seseorang bisa berkembang secara stabil, maka ada beberapa cara yang harus dilakukan agar emosi yang muncul bisa dikendalikan dengan baik sehingga tidak mengganggu kenyamanan lingkungan sekitar kita.

Berikut adalah beberapa cara yang bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari untuk menghindari emosi yang berlebihan pada diri kita.

Kendalikan Perasaan dan Pikiran

Emosi berasal dari perasaan. Namun, kita tidak bisa menyalahkan begitu saja perasaan tersebut apabila emosi yang keluar dari diri kita muncul terlalu berlebihan. Hal ini disebabkan oleh pikiran yang juga berperan penting dalam pembentukan emosi.

Dengan pikiran yang positif, maka seseorang akan memiliki perasaan yang positif pula. Demikian juga sebaliknya, ketika seseorang berpikiran negatif, maka perasaannya pun akan cenderung negatif. Hal inilah yang akan emmbuat emosi berlebihan sehingga tidak lagi menuntut akal sehat untuk bertindak.

Oleh karena itu, hal pertama yang bisa dilakukan untuk menghindari emosi berlebihan adalah senantiasa beroikiran atau berprasangka yang positif dan baik. Selain akan menghasilkan emosi yang baik pula, hal ini juga tentu akan sangat emmbuat hati kita menjadi nyaman.

Ambil Keputusan dengan Logika

Pada saat seseorang merasakan emosi yang berlebihan, maka ia tidak akan bisa berpikir jernih sehingga apa yang dilakukannya seringkali merupakan tindakan yang hanya sekadar menurut hawa nafsu.

Oleh karena itu, selalu usahakan agar berbuat setelah berpikir. Dengan pemikiran yang jernih, maka emosi seseorang pun akan semakin sehat karena tindakan yang dilakukan berdasarkan pemikiran yang sehat bukan berdasarkan hawa nafsu sesaat. Gunakanlah akal yang diberikan Tuhan kepada kita untuk berpikir dengan sehat.

Emosi Meningkat, Kecerdasan Menurun

Camkanlah bahwa ketika emosi meningkat, maka kecerdasan emosi seseorang cenderung menurun bahkan hilang sama sekali. Oleh sebab itu, hindarilah berbuat sesuatu apabila kondisi hati sudah terasa tidak nyaman. Hal ini bisa dikurangi dengan cara berdoa atau melakukan olah napas sehingga otak kita bisa menerima energi positif dari lingkungan.

Selain itu, kita juga bisa bertukar pikiran atau berbagi perasaan dengan orang yang dipercaya untuk mengurangi beban yang ada di dalam pikiran kita. Kita juga bisa mendengarkan musik instrumen atau musik klasik untuk merehatkan pikiran kalut dan perasaan negatif kita.

Pikirkan Hal Negatif yang Dirasakan

Apakah dampak negatif yang akan muncul jika emosi yang kita luapkan tidak terorganisasi dengan baik? Hal itu bisa membantu kita untuk lebih berhati-hati dalam melakukan sesuatu.

Selain itu, pikirkan kembali masalah yang sedang dihadapi sehingga kita bisa menemukan solusi yang lebih tepat daripada hanya sekadar marah-marah atau menangis karena kedua hal tersebut tidak akan menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi.

Hapuslah Segala Pemikiran dan Keyakinan yang Salah

Jika ada sebuah keyakinan yang membuat diri kita merasa bersalah, bahkan terpuruk, hapuslah pemikiran dan keyakinan tersebut. Ubahlah keyakinan itu menjadi sesuatu yang lebih positif.

Misalnya saja, saat Anda tidak berada di sisi seseorang yang Anda cintai saat ia meninggal dunia, maka jangan pernah berpikir bahwa Anda tidak peduli padanya. Pikirkanlah bahwa pada saat itu, Anda juga sedang benar-benar memikirkan orang yang Anda cintai itu.

Mengendalikan Berbagai Reaksi Negatif

Saat menemukan hal yang tidak menyenangkan, mungkin kita akan sangat merasa marah atau kecewa. Namun, alihkan pemikiran dan reaksi negatif tersebut dengan emmikirkan hal yang indah dan menyenangkan atau ambillah hikmah di balik kejadian tersebut.

Tidak Ada Benar Atau Salah dalam Perasaan

Menjadi marah, sedih, senang, kecewa, dan perasaan serta emosi lainnya adalah hal wajar yang dimiliki oleh setiap manusia. Tidak ada yang salah menyangkut perasaan. Yang ada hanyalah bagaimana kita mengendalikan semuanya agar tidak keluar dari jalur yang seharusnya.

Berbagai pengalaman emosi bisa menjadi satu pelajaran berharga bagi kita agar bisa menghadapi pengalaman emosi selanjutnya dengan lebih baik lagi.

Perhatikan Kondisi Tubuh

Perasaan dan emosi yang buruk tidak hanya disebabkan oleh adanya suatu masalah yang mesti kita hadapi. Hal tersebut bisa saja muncul apabila kondisi badan kita sedang tidak sehat. Oleh sebab itu, jagalah kesehatan tubuh kita agar selalu sehat sehingga tidak emmebrikan pengaruh yang buruk bagi kesehatan mental kita.

Carilah Kegiatan Positif yang Menyenangkan

Menghindari perasaan negaif bisa juga dilakukan dengan cara mencari kegiatan positif yang menyenangkan sehingga kita bisa melupakan sejenak masalah yang sedang kita hadapi saat ini. Menyenangkan diri sendiri juga bisa dilakukan dengan membeli makanan kesukaan kita dan menikmatinya di tempat yang juga menjadi tempat favorit kita.

Senantiasa Bersyukur Terhadap Kebesaran Tuhan

Ada satu hal yang kerap dilupakan manusia saat ia menghadapi cobaan, yakni bersyukur karena Tuhan telah memberikan kepercayaan untuk bisa menyelesaikan berbagai tugas di dunia ini.


Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Kumpulan Jurnal Psikologi: Bakat Anak
  • Adakah yang Lebih Penting Daripada Otak Manusia?
  • Perkembangan Alam Pikiran Manusia dalam Teori Sigmund Freud
  • 12 Cara Meminimalisasi Stres Kerja
  • Cara Mengobati Depresi
  • Pengertian, Tujuan, dan Manfaat Bimbingan Konseling
  • Pertanyaan Psikologi Seorang Jomblo Abadi
  • Memahami DSM dalam Jurnal Psikologi Abnormal
  • Jurnal Psikologi Perkembangan, Membangun Minat Anak
  • Kelainan Seksual dan Skandal Seks Orang-Orang Terkenal
  • Penyimpangan Seksual - Masalah Psikologi dan Sosial
  • Artikel Psikologi – Daya Ingat sampai Wolby
  • Perasaan Perempuan Itu Seperti Apa Sih?
  • Schizophrenia: Jenis Penyakit Kejiwaan Paling Destruktif
  • Isu-Isu Menarik dalam Jurnal Psikologi Klinis
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA