Gaya Hidup Materialistik Penyebab Terpuruknya Perekonomian Amerika Serikat
Tanyakankah kepada anak-anak remaja sekarang, bila mereka mempunyai uang dan waktu, ke manakah mereka akan pergi? Jawabannya, Amerika. Mengapa Amerika? Polesan depan dunia Amerika begitu menggoda. Kehidupan wah yang penuh canda tawa sangat membius. Namun, tahukah kita bahwa gaya hidup materialistik tersebutlah yang menyebabkan terpuruknya perekonomian Amerika Serikat?
Tidaklah sulit menemukan berita banyak wanita mati karena komplikasi operasi plastik yang telah dilakukannya. Pemujaan akan fisik yang sempurna telah membutakan mata rakyat Amerika.
Lihatlah reaksi masyarakat ketika mengetahui Britney Spears yang masih memiliki lemak di sekujur tubuhnya, berani tampil di show-nya hanya dengan dua helai kain penutup bagian vitalnya. Berita yang tersorot adalah tentang lemak yang dimiliki Britney Spears, bukan membahas tentang ketidaksopanannya memakai ‘bikini’ di acara tersebut.
Belum lagi, tingkat stres masyarakat yang tinggi karena ketiadaan pekerjaan dan hutang yang semakin menumpuk. Masyarakat yang ‘gila dan sakit’ seperti ini semakin memperparah perekonomian Amerika. Pertama, pengeluaran uang obat semakin tinggi, terutama untuk pembelian antidepresan. Kedua, peredaran obat-obatan terlarang semakin merajarela. Bahkan, ada wacana untuk melegalkan peredaran drugs.
Belum lagi, semakin banyaknya penyakit baru yang berkaitan dengan penggunaan antibiotik berlebihan. Semua hal tersebut, mau tidak mau, berkaitan langsung dengan kondisi perekonomian Amerika saat ini.
Sudah satu setengah tahun Barack Obama yang sangat diharapkan oleh jutaan rakyat Amerika mampu membawa mereka dari resesi ekonomi yang telah menyebabkan tingkat pengangguran mencapai 9,6%. Namun, kefrustasian itu malah semakin menjadi.
Keadaan ini membuat rakyat Amerika beralih ke partai Republik, partai saingan Demokrat. Pada pemilihan wakil rakyat bulan lalu, Demokrat kalah hingga Republik menguasai federal. Kini, Obama harus berjuang keras mewujudkan programnya.
Dengan berkurangnya dukungan di konggres, itu berarti semakin terhambatlah program pemulihan ekonomi yang telah dirancang Obama. Partai Republik akan berusaha menarik simpati rakyat, terutama dalam rangka mengambil tampuk pemerintahan pada pemilihan presiden berikutnya.
Pemerintahan Obama telah berusaha membuka 151.000 lowongan kerja. Namun, hal tersebut masih belum mampu mengeluarkan Amerika dari jerat resesi ekonominya. Kekalahan telak malah dialami Amerika dari Cina. Kini, Yuan Cina semakin kuat. Perekonomian Cina mendominasi perekonomian dunia.
Tidak dapat dipungkiri bahwa gaya hidup masyarakat Cina yang sederhana dan gemar menabung telah membantu pembangunan ekonomi Cina dengan pesat. Sementara rakyat Amerika yang terkenal dengan the big spender, kurang bisa menopang perekonomian bangsanya.
Partai Republik, bahkan, berniat mengucurkan dana sebesar $600 juta dolar ke bidang perbankan. Kebijakan ini membuat khawatir berbagai pihak di dalam maupun di luar negeri Amerika. Bila uang segar terlalu banyak beredar di perbankan, dikhawatirkan uang tersebut akan menjadi pemicu resesi ekonomi tahap kedua. Hal ini disebabkan tabiat masyarakat Amerika yang selalu haus uang.
Bukti kehidupan yang terlalu materialistik adalah jutaan dolar yang habis dipakai di meja operasi plastik dan tingkat penjualan barang-barang penunjang kehidupan materialistik yang terlalu banyak. Misalnya, penjualan obat terapi hormon.
Selain itu, kehidupan serba cepat, serba besar, serba bagus, juga akan membuat rakyat Amerika tidak peduli berapa tingkat utang kartu kreditnya. Ditambah pertumbuhan ekonomi yang masih sangat lamban dan pengangguran yang masih tinggi, potensi kredit macet sangat tinggi.
Apalagi, pemerintahan Obama sudah menaikkan pajak. Keterpurukan perekonomian Amerika ini akan semakin menjadi bila rakyatnya tidak mengubah gaya hidup. Lalu, masihkah kita bermimpi untuk hidup di Amerika?






