Cerdas Mengatasi Osteoporosis
Ketika kita membahas masalah osteoporosis, maka kita harus memahami penyakit ini dengan baik.
Seringkali, kondisi ini dikaitkan dengan gangguan pada lutut, dan tulang (osteoartritis). Nyatanya, hal ini temasuk dua hal yang berbeda. Benarkah? Dimana letak perbedaannya?
Osteoporosis adalah pengeroposan tulang, sedangkan osteoartritis adalah perkapuran tulang. Pengeroposan tulang lebih pada kondisi hilangnya kepadatan tulang yang normal, sehingga mengakibatkan tulang mudah patah.
Secara harfiah, kondisi tulang yang keropos secara abnormal dapat diumpamakan seperti spon, tidak padat seperti batu bata. Penyakit ini dapat melemahkan tulang yang menyebabkan peningkatan resiko untuk patah tulang-tulang (bone fracture).
Osteoporosis tidak memberikan gejala, tidak sakit atau terasa nyeri jika tulangnya patah, karena telah rapuh. Berbeda dengan osteoartritis yang pasti menimbulkan rasa nyeri, terutama pada sendi lutut.
Lutut merupakan sendi terbesar dalam tubuh yang penggunaannya juga banyak digunakan dalam keseharian. Lutut membuat kita dapat bergerak, duduk hingga berlari. Selain itu lutut juga membantu menopang berat tubuh.
Ada beberapa faktor yang menentukan kekuatan tulang. Kepadatan tulang adalah jumlah tulang yang hadir dalam struktur kerangka. Umumnya, lebih tinggi kepadatan tulangnya, lebih kuat tulang-tulangnya.
Kepadatan tulang sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor genetik, yang pada gilirannya adakalanya dimodifikasi oleh faktor-faktor lingkungan dan obat-obat. Sebagai contoh, laki-laki mempunyai kepadatan tulang yang lebih tinggi daripada perempuan.
Orang-orang Amerika keturunan Afrika mempunyai kepadatan tulang yang lebih tinggi daripada orang Amerika keturunan Caucasian (kulit putih) atau Asia. Semakin kuat tulang, pastinya semakin aman dari osteoporosis.
Normalnya, kepadatan tulang berakumulasi selama masa kanak-kanak dan mencapai puncaknya pada sekitar umur 25 tahun. Kepadatan tulang kemudian dipertahankan untuk kira-kira sepuluh tahun.
Setelah umur 35, laki-laki maupun perempuan normalnya akan kehilangan 0.3% sampai 0.5% dari kepadatan tulang mereka per tahun sebagai bagian dari proses penuaan.
Karenanya, Estrogen berperan penting dalam mempertahankan kepadatan tulang pada perempuan. Ketika tingkat-tingkat estrogen jatuh setelah menopause, kehilangan tulang terjadi lebih cepat.
Selama lima sampai sepuluh tahun pertama setelah menopause, perempuan dapat menderita sampai dengan dua hingga empat persen kehilangan kepadatan tulang setiap tahun!
Ini dapat berakibat pada kehilangan 25 sampai 30% dari kepadatan tulang mereka selama periode waktu itu. Kehilangan tulang yang dipercepat setelah menopause adalah penyebab utama dari osteoporosis pada perempuan.
Perawatan osteoporosis dimaksudkan untuk melakukan pencegahan patah tulang dengan menghentikan kehilangan tulang, dan dengan meningkatkan kepadatan dan kekuatan tulang. Meskipun deteksi awal dan perawatan dilakukan tepat waktu, sebenarnya hanya mengurangi resiko patah tulang di kemudian hari.
Tidak satupun perawatan yang tersedia mampu menyembuhkan sepenuhnya. Oleh karenanya, pencegahan dari penyakit ini sama pentingnya seperti perawatan.
Tindakan perawatan dan pencegahan osteoporosis antara lain:
- Mengubah gaya hidup, yaitu dengan berolahraga yang cukup, menghindari merokok dan alcohol, memberikan asupan kalsium yang cukup, mencukupi asupan vitamin D, membatasi pemakaian kafein, seperti kopi.
- Menkonsumsi obat-obat yang menghentikan kehilangan tulang dan meningkatkan kekuatan tulang, seperti alendronate (Fosamax), risedronate (Actonel), raloxifene (Evista), ibandronate (Boniva), calcitonin (Calcimar), dan zoledronate (Reclast);
- Mengkonsumsi obat-obat yang meningkatkan pembentukan tulang seperti teriparatide (Forteo).
- Berhati-hatilah menggunakan obat tertentu misalnya steroid, diuretik, antikonvulsan
| Beri rating untuk artikel di atas |








