Makna Peribahasa Jawa

Pengertian Peribahasa
Peribahasa adalah suatu kalimat yang di dalamnya terkandung arti dan maksud tertentu. Jadi makna dalam kalimat tersebut tidak secara gamblang dijelaskan namun harus pembaca sendiri yang memberi arti atau menginterprestasikannya. Di Indonesia sendiri yang mempunyai banyak bahasa lokal atau daerah juga punya peribahasa yang menjadi bagian dari budaya daerah tersebut. Misalnya di daerah Jawa. Di tempat ini juga banyak peribahasa Jawa yang sering diucapkan masyarakat untuk menilai terhadap suatu hal.
Arti dan Maksud Peribahasa Jawa
Berikut ini beberapa contoh peribahasa Jawa yang mempunyai arti dan maksud serta makna yang cukup dalam dan kadangkala mengandung kritikan sosial.
- Kebo nusu gudel
Peribahasa Jawa ini merupakan sindiran yang cukup tajam (satire). Maksudnya adalah menggambarkan keadaan orang tua yang tidak mau atau bisa bekerja sehingga semua kebutuhan hidupnya harus ditanggung oleh anaknya sendiri. Padahal orang tualah yang harus memberi penghidupan bagi anaknya, terutama bila anaknya belum mampu untuk mandiri.
- Kuasane kari sakmegare payung
Peribahasa Jawa yang satu ini punya makna yang cukup dalam dan sering diucapkan di daerah kerajaan pada jaman penjajahan dulu. Karena peribahasa ini menggambarkan bila wilayah kekuasaan kerajaan semakin sempit karena terus kalah dalamm setiap perundingan atau perang dengan Belanda. Demikian pula ketika memasuki jaman kemerdekaan karena para raja sudah tidak punya kekuatan politik lagi.
- Ngunduh wohing pakarti
Arti dari peribahasa Jawa ini mengundung ajaran moral yang juga tinggi. Maksudnya adalah bila setiap orang itu selalu menanggung akibat dari segala perbuatan yang dilakukannya. Bila dia sering berbuat tidak baik, maka di kemudian hari pasti juga akan menemui masalah yang tidak baik pula.
- Sak dumuk bathuk sak nyari bumi
Peribahasa Jawa yang satu ini juga sering diucapkan pada masa penjajahan terutama oleh para pahlawan kita yang sedang berperang melawan tentara Belanda. Maksudnya adalah bila kita harus mampu mempertahankan apa yang telah menjadi hak milik kita. Terutama hak atas kepemilikan tanah yang pada waktu itu sering diambil alih oleh penjajah.
- Nut kemuting jaman
Setiap orang harus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman yang ada. Karena dari waktu ke waktu selalu terjadi perubahan. Ini adalah maksud atau inti dari peribahasa Jawa yang satu ini.
- Ngoyak layangan pedot
Sedangkan peribahasa Jawa ini punya maksud untuk menggambarkan keadaan seseorang yang melakukan kerja keras namun tidak menghasilkan apapun juga. Jadi semua waktu, tenaga dan pikiran yang ada terbuang dengan sia-sia.
- Kacang ninggal lanjaran
Setiap orang pasti akan meninggalkan kesan pada orang lain, terutama bila dia sudah meninggal atau pergi dari suatu tempat. Bila dia punya tingkah laku yang baik, maka kenangan atau kesan yang ditinggalkan juga bagus. Namun bila dia sering berkelakuan buruk, maka ingatan masyarakat pada orang tersebut juga tidak baik. Ini adalah pesan moral dari peribahasa Jawa di atas.
| Beri rating untuk artikel di atas |








