Menciptakan Perilaku Budaya Demokrasi
Ilustrasi perilaku budaya demokrasi
Sering kali terjadi suatu demonstrasi yang berujung rusuh. Banyak orang yang memiliki perilaku untuk main hakim sendiri terhadap suatu tindak kriminalitas. Padahal semua itu sudah ada pihak yang berwajib yang menanganinya.
Tidak hanya itu, pembakaran rumah ibadah juga pernah terjadi hanya karena perbedaan pendapat. Apakah semua itu perilaku budaya demokrasi? Tentu saja semua itu bukanlah nilai dari budaya demokrasi yang selalu menghargai nilai kemanusiaan.
Budaya Demokrasi
Budaya demokrasi adalah budaya pengakuan pada yang lain. Budaya demokrasi adalah budaya yang mengutamakan kewajiban, bukan hak semata. Budaya demokrasi adalah budaya good and clean governance. Budaya demokrasi adalah budaya anti korupsi. Budaya demokrasi adalah budaya yang harus dirawat agar tumbuh subur di Indonesia.
Perawatan yang dilakukan tidak bisa dilaksanakan atau diserahkan pada sebagian orang atau kelompok saja. Semua yang tinggal harus ikut andil dalam upaya pelestariannya. Dengan demikian budaya dari demokrasi bisa terus berlangsung karena memang ada banyak pihak yang turut serta menjaganya.
Lain halnya jika masalah demokrasi hanya diserahkan pada segelintir orang atau golongan saja. Maka hal tersebut sebenarnya terlalu berbahaya untuk dilaksanakan. Ada hal negatif yang bisa saja terjadi jika hal tersebut dilakukan.
Ada kemungkinan pihak lain yang tidak ikut serta andil dalam pelaksanaan dalam upaya pemeliharaan budaya demokrasi yang sedang tumbuh. Jika terjadi hal yang demikian maka akan terjadi tumpang tindih dalam pelaksanannya. Orang yang tidak ikut andil dalam pelaksanaan budaya demokrasi bisa seenaknya merusak tatanan demokrasi yang sudah ada. Oleh karena itu, butuh dukungan dari semua pihak agar demokrasi dapat berlangsung dengan apik dan berlangsung dengan tertib.
Penyerahan pemeliharaan dan pelaksaan demokrasi hanya pada satu golongan atau segelintir orang juga memiliki imbas yang tidak baik. Akan ada penyetiran kekuasaan yang bisa dimonopoli oleh golongan tersebut saja. Adanya penguasaan terhadap kuasa suatu negara akan berakibat terjadinya kepemimpinan yang ditaktor.
Hal tersebut akan berakibat pada semakin buruknya tatanan masyarakat yang ada. Kebanyakan ketika kepimpinan dipegang oleh orang yang ditaktor maka kaum yang lemah akan selalu tertindas dan tidak mampu membela hak yang seharusnya diperolehnya. Penindasan akan terjadi dimana-mana.
Hal tersebut telah terjadi beberapa kali dalam masa-masa pemerintahan yang ada di bumi ini. Dari jaman dulu hingga sekarang terus berlangsung ketertindasan rakyat akibat adanya penguasaan terhadap suatu sistem pemerintahan oleh sebuah golongan saja.
Apa Nilai Budaya Demokrasi?
Beberapa nilai dari budaya demokrasi bisa dilihat dari beberapa sudur pandang. Berikut adalah beberapa sudut pandang tersebut.
1. HAM
Ham adalah hak asasi yang dimiliki oleh setiap manusia sejak lahir ke dunia. Nilai ini merupakan penyangga bagi kelangsungan demokrasi yang ada. HAM juga merupakan unsur penting dalam membangun budaya demokrasi yang sehat. Dengan berjalannya dan tidak adanya pelanggaran HAM maka akan mencerminkan dari nilai budaya demokrasi itu sendiri
HAM menegaskan kewajiban dan hak tiap individu. Memberi batas mana yang boleh dikerjakan dan mana yang tidak boleh dikerjakan. Apa yang bisa menyakiti dan tersakiti oleh orang lain. Itu semua adalah fungsi dari adanya HAM dalam kehidupan bermasyarakat.
Dalam perkembangan penerapan demokrasi sering terjadi kasus pelanggaran HAM oleh golongan tertentu. Sebuah golongan yang tidak ingin eksistensinya sebagai pimpinan untuk digusur. Tidak hanya itu, kebanyakan orang yang mengatasnamakan sebuah demokrasi namun ternyata bertolak belakang dari nilai demokrasi itu sendiri.
Adakah benar demokrasi yang selama ini benar-benar menjunjung tinggi nilai HAM akan benar melindungi HAM itu sendiri. Dalam sebuah praktek yang terjadi di lingkungan masyarakat dan bernegara semuanya itu jauh dari angan-angan.
Bahkan tidak sering adanya pelanggaran HAM dilakukan oleh beberapa golongan pembela HAM itu sendiri. Bagi sebagian kelompok orang hal tersebut adalah sebuah contoh bahwa sesungguhnya demokrasi masihlah belum layak untuk dijadikan sebagai sebuah cara dalam mengatur urusan masyarakat. Harus ada macam cara yang lain yang bisa digunakan.
Namun bagi sebagian yang lainnya menimbang bahwa hal tersebut adalah kesalahan dari pelakunya bukan dari demokrasinya. Hal tersebut bisa saja terjadi tetapi yang menjadi dasarnya adalah ternyata demokrasi sendiri masih dinilai kurang mengikat pelakunya untuk bisa memberikan kenyaman dan keamanan dalam hidup bermasyarakat yang sejatinya menjunjung tinggi nilai HAM.
2. Transparansi
Dalam kehidupan demokrasi menuntut adanya transparan dalam pelaksanaannya. Era ketika publik dapat mengakses bebas pranata politik. Transaparan erat kaitannya dengan kredibilitas dan keadilan. Transparansi berarti bertanggung jawab secara elegan pada publik dengan terbuka.
Transparansi dalam segala hal merupakan langkah yang paling bijak. Tidak adanya transparansi dalam setiap tindakan yang terjadi berarti dimungkinkan adanya sesuatu hal yang patut untuk dicurigai. Ketidaktransparansi merupakan awal dari berhentinya demokrasi.
Transparansi atau kejelasan dalam aspek hukumlah yang banyak diharapkan dari penerapan demokrasi di berbagai negara seperti halnya di negara kita. Namun memang banyak sekali hal yang mempengaruhi transparasi hukum ini. Tak hanya demokrasi saja namun juga tarik menarik antar banyak kepentingan juga mempengaruhinya.
Hal ini tentunya bisa jadi menyakiti hati rakyat. Karena memang rakyatlah yang menjadi objek demokrasi. Jika memang transparansi hukum tak dapat dihasilkan atau ditimbulkan oleh adanya demokrasi di negara yang menerapkannya maka hal penerapan demokrasi ini akan menjadi sebuh hal yang patut dipertanyakan lagi.
3. Antikorupsi
Budaya demokrasi tidak merebut yang bukan haknya. Korupsi adalah extra ordinary crime yang ganas. Merebut anggaran hajat hidup orang banyak. Demokrasi dibangun bukan untuk orang per orang atau kelompok per kelompok, melainkan orang banyak. Budaya antikorupsi adalah perilaku untuk bersetia pada kepentingan publik.
Sejatinya korupsi memang telah menjadi sebuh hal yang mendarah daging dalam kehidupan dan pemerintahan indonesia. Memang harus dibutuhkan sebuah tekad dan semangat yang begitu kuat untuk memberangus adanya paraktek korupsi di berbagai bidang.
Selain itu juga diperlukan aparat hukum yang memang sudah sadar benar akan niat yang tulus dan mulia ini. Sehingga harapan bahwa Indonesia akan terbebas dari adanya korupsi yang meraja lela maka akan menjadi sebuah mimpi indah yang terealisasikan.
4. Jujur
Politik itu tidak kotor. Politik itu bersih. Perilaku polik yang kotor. Kejujuran dalam budaya demokrasi sangat penting. Jujur dalam membuat regulasi. Jujur dalam tugas negara. Jujur dalam menjalankan amanah. Jujur adalah budaya demokrasi yang mencerminkan politik bersih itu masih ada.
Memang pada saat ini anggapan bahwa kejujuran itu mahal dan jarang ditemui menjadi sebuah hal yang biasa. Di kalangan para petinggi atau orang yang memiliki jabatan yang tinggi di pemerintahan terutama mereka yang sering bermain politik banyak yang meragukan jika ada anggotanya yang bersih.
Kenapa bisa demikian? Di tempat yang seperti itu semua baik dan buruk tidak seperti hitam dan putih. Semuanya nampak samar-samar dan tidak bisa dibedakan antara yang benar dan salah. Buktinya sendiri masih banyak berbagai kasus yang belum terpecahkan seputar korupsi. Ada yang jelas nyata terbukti namun kekuatan hukum lagi-lagi masih ragu-ragu untuk bertindak.
Semua itu tidak lain karena lemahnya dari sistem penegak hukum yang ternyata lagi-lagi juga ikut dalam skandal yang kurang jujur. Akibatnya rakyat sudah tidak percaya lagi pada sistem demokrasi yang mengusung kejujuran ini.
Budaya Lokal
Budaya demokrasi yang baik akan menyerap budaya lokal. Budaya demokrasi setiap negara tidak akan selalu kompatibel. Pasti memiliki kearifan lokal. Budaya demokrasi yang baik tidak bersifat memaksa, tetapi bersifat persuasif. Bahkan, demokrasi itu bukan pilihan tunggal. Demokrasi harus datang dari kemauan sendiri.
Budaya demokrasi mengakui perbedaan. Bahkan, untuk yang berbeda dengan prinsip demokrasi itu sendiri. Agree to disagree. Setuju untuk tidak setuju. Pemberian ruang bagi yang lain penting dalam budaya demokrasi. Budaya demokrasi tidak selalu sama. Homogen. Suku bangsa sama. Agama sama. Namun, kerap berbeda latar belakang.
Demokrasi mengikat mereka dengan budaya lokal. Tanpa memberi pilihan tunggal, melainkan menempelkan perbedaan menjadi satu. Bak ikatan lidi. Budaya demokrasi akan mengakomodasi perbedaan. Hiruk-pikuk dalam bentuk demonstrasi, diskusi, tulisan, dan sebagainya, adalah konsekuensi yang harus diterima.
Akan tetapi, budaya demokrasi pun tidak sebatas kebebasan semata, tetapi kesejahteraan. Budaya demokrasi yang baik adalah pemenuhan hak ekonomi layak bagi publik.

