Peringatan Dini Tsunami Mencegah Korban Bencana
Tsunami adalah salah satu bencana alam yang paling menakutkan. Ratusan ribu nyawa telah hilang akibat tsunami besar di Aceh pada tahun 2004. Peningkatan-peningkatan kewaspadaan terus dilakukan untuk memperkecil korban akibat tsunami itu. Diantaranya adalah dengan memasang sistem peringatan dini tsunami di daerah-daerah rawan gempa yang berada di lepas pantai.
Asal Mula Tsunami
Tsunami berasal dari bahasa Jepang yang berarti gelombang laut. Tsunami bisa terjadi akibat beberapa sebab yaitu gempa di dasar laut, tanah longsor dasar laut, jatuhnya meteor di laut, ataupun letusan gunung api yang berada di dasar laut. Tetapi tsunami yang paling banyak terjadi adalah akibat dari adanya gempa di dasar laut. Tetapi tidak semua gempa yang ada di dasar laut akan menyebabkan tsunami.
Syarat-syarat gempa yang bisa menyebabkan tsunami antara lain:
- Pusat gempa berada di dasar laut dan kedalamannya tidak lebih dari 60 km.
- Kekuatan gempa lebih dari 7 skala richter.
Ciri-ciri Akan Terjadinya Tsunami
Agar bisa terhindar dari bahaya tsunami, kita harus mengetahui ciri-ciri gejala alam yang akan menimbulkan tsunami. Di antaranya adalah surutnya permukaan laut setelah terjadinya gempa besar hingga terlihat dasar laut. Biasanya setelah hal ini terjadi, maka gelombang air laut akan menghantam dengan kekuatan sangat besar. Jika melihat tanda-tanda seperti ini, kita harus mencari tempat tinggi untuk berlindung diantaranya dengan naik ke atas bukit atau dengan menaiki gedung yang tinggi.
Sistem Peringatan Dini Tsunami di Indonesia
Sistem peringatan dini tsunami dipasang untuk memberikan peringatan kepada warga akan datangnya tsunami. Di Indonesia sendiri, system peringatan dini tsunami dikembangkan oleh BMKG (Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika) bersama dengan instansi pemerintah pusat, pemerintah daerah, instansi non pemerintah, dan negara-negara donor.
Dengan sistem peringatan dini tsunami ini, diharapkan pemberitahuan tentang adanya bahaya tsunami bias diberikan maksimal 5 menit setelah gempa bumi terjadi.
Sistem peringatan dini tsunami ini bekerja dengan cara merekam terjadinya gempa dengan menggunakan seismograf yaitu alat pencatat gempa, yang kemudian hasil catatan gempa ini akan dikirimkan ke BMKG pusat yang ada di Jakarta menggunakan satelit. Data ini kemudian diolah oleh BMKG menggunakan peralatan canggih dan apabila data yang dihasilkan memberitahukan akan datangnya tsunami, BMKG akan memberikan hasil pengolahan data ini kepada masyarakat melalui pemerintah daerah dan media.
Selain itu peringatan tentang adanya bahaya tsunami juga dikirimkan melalui SMS, Facsimilie, telepon, Ranet (radio internet), FM RDS (Radio Data System), dan juga melalui website resmi BMG yaitu www.bmg.go.id. Tetapi dari pengalaman di lapangan, media yang paling efektif untuk memberitahukan peringatan dini tsunami ini adalah radio. Karena itu masyarakat di sekitar pantai yang berpeluang sangat besar terkena tsunami ini disarankan memiliki radio FM yang bisa digunakan untuk mengetahui adanya bahaya tsunami.






