Mengenal Periodisasi Sastra di Indonesia
Ilustrasi periodisasi sastra
Periodisasi sastra selalu terjadi dalam beberapa kurun waktu tertentu. Biasanya terjadi karena perpindahan generasi dan jenis sastra. Beberapa orang membagi karya sastra dengan beberapa periode.
Namun, ternyata setiap para pengamat ahli malah cenderung memberikan pendapat yang berbeda. Apakah kemudian pendapat A atau pendapat B salah? Tentu tidak. Mengingat para pakar tersebut mumpuni di bidangnya. Hanya saja, mungkin orang yang kemudian mengikuti pendapat tersebut cenderung karena alasan subyektif saja.
Beberapa pendapat pakar tersebut pun tidaklah berbeda jauh ketika mereka membagi periodisasi sastra ke dalam beberapa dekade. Periodisasi sastra perlu dilakukan untuk menandai era baru dan perpindahan zaman. Pendapat para ahli tentang periodisasi sastra akan dibahas masing-masing.
Pembagian Periode Sastra Menurut Beberapa Pakar
Ada beragam pendapat mengenai pembagian periode sastra, diantaranya adalah pendapat dari Nugroho Notosusanto, Zuber Usman, Ajib Rosidi, HB jassin, JS Badudu, Usman Effendi, Zuber Usman, Sabarudin Ahmad, dan Zaidan Hendy. Beberapa diantaranya memiliki pembagian yang sama. Namun, juga ada yang berbeda. Inilah sekelumit pembagian periodisasi sastra.
Pembagian Periode - HB Jassin
HB Jassin membagi karya sastra terbagi menjadi dua bagian. Dan dari kedua bagian, tersebut ada sebagi lagi yang dibagi menjadi beberapa bagian. Menurutnya, karya sastra terbagi menjadi sastra melayu lama dan kesusastraan Indonesia modern. Kesusastraan Indonesia modern dibagi lagi menjadi empat, yaitu Angkatan 20, Angkatan 33 atau biasa dikenal dengan sebutan angkatan Pujangga Baru, Angkatan 45, dan Angkatan 66.
Pembagian Periode - JS Badudu
Kesusastraan Indonesia dibagi menjadi tiga periode besar, yaitu periodisasi sastra lama, periodisasi sastra peralihan, dan periodisasi sastra baru. Periodisasi sastra lama terdiri atas kesusastraan masa prasejarah dan kesusastraan era agama Hindu dan Arab.
Selanjutnya, periodisasi peralihan baru terdiri atas Angkatan Balai Pustaka. Dan yang terakhir, periodisasi sastra baru terdiri atas Angkatan Pujangga Baru, Angkatan 45 atau modern, dan Angkatan muda.
Pembagian Periode - Ajib Rosidi
Ajib menganggap bahwa masa periodisasi sastra itu terbagi menjadi dua periode. Yang pertama adalah periode masa kelahiran, yang terdiri atas tiga periode, yaitu periode awal abad ke 20 sampai abad 19, periode tahun 1933 sampai tahun 1942, dan periode tahun 1942 sampai tahun 19452. Yang kedua adalah masa perkembangan, yang terdiri atas periode tahun 1945 sampai tahun 1953, periode tahun 1953 sampai tahun 1960, dan periode tahun 1960 sampai sekarang.
Pembagian Periode - Zuber Usman
Menurut Zuber Usman, periodisasi sastra dibagi menjadi tiga, yaitu periode zaman kesusastraan lama, periode zaman kesusastraan peralihan, dan periode zaman kesusastraan baru. Untuk periode yang terakhir, ia membagi lagi menjadi empat, yaitu Angkatan Balai Pustaka, Angkatan Pujangga Baru, Angkatan Jepang, dan Angkatan 45.
Pembagian Periode - Usman Effendi
Secara ringkas, Usman Effendi membagi periode sastra ke dalam tiga periode. Periode tersebut adalah periode sastra lama, sastra baru, dan sastra modern.
Pembagian Periode - Zaidan Hendy
Senada dengan Zuber Usman, Zaidan pun mengikuti jejak JS Badudu dalam membagi periodisasi sastra menjadi tiga periode zaman. Yang pertama adalah sastra lama, yang dibagi lagi menjadi tiga, yaitu:
- Sastra kuno, mencakup di dalamnya sastra prasejarah.
- Sastra hindu, sastra yang diciptakan untuk berupa kidung sejarah.
- Sastra Islam. Corak ini masuk ketika Islam bersentuhan dengan Budaya melayu Indonesia. Saat islam masuk, yang tersentuh bukan saja budaya, namun dari segi tulisan dan bahasa pun terkena imbasnya. Kisah-kisah islami pun muncul di zaman tersebut.
Yang kedua adalah sastra peralihan. Dan yang ketiga adalah sastra baru, yang dibagi lagi menjadi empat angkatan, yaitu:
- Angkatan Balai Pustaka
- Angkatan Pujangga Baru
- Angkatan 45
- Angkatan 66
Pembagian Periode - Nugroho Notosusanto
Yang satu ini sedikit berbeda dengan yang lain. Nugrogo Notosusanto membagi periode sastra menjadi dua, yaitu periode melayu lama dan periode Indonesia modern. Periode yang kedua dibagi lagi menjadi masa kebangkitan (Tahun 1920, Tahun 1933, dan Tahun 1942) dan masa perkembangan (Tahun 19452 dan Tahun 1950).
Pembagian Periode - Sabarudin Ahmad
Ini adalah pendapat para pakar yang terakhir. Sabarudin hanya membagi kesusastraan Indonesia ke dalam dua periode saja, yaitu periode lama (Dinamisme, Hiduisme, dan Islamisme) dan periode baru (Balai Pustaka, Pujangga Baru, dan Angkatan 45).P
Para Angkatan dalam Periodisasi Sastra
Dalam beberapa pendapat pakar tentang periode sastra, tampak disebutkan angkatan-angkatan dimana sastra dibagi-bagi lagi menjadi beberapa kelompok, walau dalam kajiannya dianggap satu periode. Yuk, kenali angkatan-angkatan dalam sastra yang memperkaya khazanah budaya bahasa Indonesia.
1. Angkatan Balai Pustaka
Sering sekali angkatan ini disebut-sebut di setiap pembagian periode. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan Angkatan Balai Pustaka itu?
Angkatan Balai Pustaka dinamai berdasarkan nama penerbit yang saat itu getol menerbitkan karya sastra anak negeri. Banyak sekali buah tangan lahir dan menjadi buku yang dinikmati para pembaca dari penerbit yang satu ini.
Balai Pustaka menerbitkan banyak roman, puisi, novel, cerita pendek. Misinya saat itu adalah mencegah pengaruh buruk dari sastra melayu rendah yang mengedepankan kisah-kisah cabul dan liar yang sekiranya bisa merusak kebahasaan dan moral bangsa.
Beberapa penulis dan karyanya yang dikenal sampai saat ini dan dikenang diantaranya adalah:
- Abdoel Muis dengan karya-karyanya yang berjudul Surapati(terbit 1950), Salah Asuhan, Anak Surapati (1953), danPertemuan Zodoh (1964)
- Aman Datuk Mandjoido, yang menulis Si Doel Anak Jakarta,Menebus Dosa, dan Sampaikan Salamku Kepadanya.
- Anak Agoeng Panji tisna, yang salah satu karyanya pernah difilmnya, yaitu Soekreni Gadis Bali (1936)
- Hamka atau Haji Abdul Malik Karim Amarullah. Gaungnya seolah tiada mati sampai di zaman sekarang. Karyanya yang terkenal tentu saja Di Bawah Lindungan Ka’bah yang difilmkan dua kali. Selain itu, ia juga menulis Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, dan lain sebagainya.
- Marah Roesli, terutama terkenal atas romannya yang berjudulSiti Noerbaya yang kemudian menjadi ickn dari perkawinan paksa.
- Noer Sutan Iskandar. Penulis yang satu ini sangat produktif penulis pada saat itu sehingga dijuluki dengan “Raja Pengarang Balai Pustaka. Beberapa buku yang ditulisnya antara lain Salah Pilih, Katak Hendak Menjadi Lembu, danKarena Mertua.
- Soetan Takdir Alisjahbana. Penulis yang satu ini memang mumpuni sebagai seniman. Karya yang lahir bukan hanya sekedar roman, namun juga puisi. Karyanya yang terkenal adalah Anak Perawan Disarang Penyamun, Dian Tak Kunjung Padam, dan Layar Terkembang. Tulisannya banyak yang bercerita tentang emansipasi wanita.
- Toelis Sutan Sati. Pastinya penulis yang satu ini tidak kalah hebat dengan rekannya yang lain. Bukunya sendiri sampai sekarang masih dicetak. Pernah juga karyanya difilmnya dan sukses di masanya. Karyanya antara lain Sengsara Membawa NIkmat yang pernah dibuat mini serinya.
2. Angkatan Pujangga Baru
Angkatan ini lahir karena protes terhadap sensor yang dilakukan penerbit Balai Pustaka. Angkatan ini menghembuskan napas modern dan tema-tema perjuangan sarat di angkatan ini. Dipelopori oleh Soetan Takdir Alisjhabana, angkatan ini pun lahir. Penulisnya diantara lain:
- 1. Armijn Pane
- Karya yang ditelurkannya “Jinak-jinak Merpati (kumpulan cerpen)” novel “Belenggu” dan “Antara Bumi Dan Langit” juga masih ada kumpulan cerpennya yang lain
- 2. Moh. Yamin
- Penulis yang satu ini pastinya tidak pupus dalam ingatan para penggemar sastra tempo dulu. Karya yang ditelurkannya di masa itu adalah “Ken Arok dan Ken Dedes” lalu “Gajah Mada”, kemudian “Tanah Air” dan masih ada yang lainnya
- 3. Sanusi Pane. Saudara kandung dari Armijn Pane ini juga seniman, karyanya yang juga menjadi legenda adalah “Sadyankala Ning Majapahit”
- 4. Tengku Amir Hamzah
- 5. Roestam Effendi
- 6. Selasih
3. Karya Sastra angkatan 45
Karya sastra angkatan ini dianggap lebih realistis ketimbang pendahulunya, yaitu angkatan Pujangga Baru yang dianggap lebih pada romantic idealistic. Para seniman yang berperan diantaranya
- Asrul Sani, yang terkenal dengan karyanya Dari Suatu Masa Dari Suatu Tempat (Kumpulan Cerpen). Ia juga menulis kisah Naga Bonar.
- Achdiat K Miharza, terkenal dengan karya sastranya yang berjudul Atheis.
- Chairil Anwar. Siapa yang tidak kenal pengarang yang satu ini. Ia dianggap sebagai penggebrak dunia puisi Indonesia. Karya puisinya yang terkenal adalah Aku, Kerawang Bekasi, dan kumpulan sajak yang berjudul Kerikil Tajam Dan Yang Terhempas Dan Yang Terputus.
- Idrus. Karya sastranya yang terkenal adalah Dari Ave Maria ke Jalan Lain Ke Roma.
- Pramudya Ananta Toer
- Moechtar Lubis
- Utuy Tatang Sontan
Itulah beberapa angkatan yang mempengaruhi perkembangan kesusastraan Indonesia. Dalam periodisasi sastra Indonesia, para seniman ini memberi kontribusi lebih dengan karyanya bagi anak bangsa.

