Kisah Perjalanan Ibadah Haji
Ilustrasi perjalanan ibadah haji
Kisah tentang perjalanan ibadah haji dari masa ke masa ternyata berbeda. Ibadah haji termasuk rukun Islam yang ke-5, hukumnya wajib bagi orang yang mampu. Berbeda dengan kewajiban syariat Islam yang lainnya, kewajiban menunaikan ibadah haji bisa dikatakan cukup berat. Inilah ibadah yang sangat mengandalkan kekuatan fisik dan mental. Lamanya berada di tanah suci juga terkadang membuat kerinduan yang begitu mendalam terhadap keluarga.
Resiko Ibadah Haji
Bagi orang yang menunaikan ibadah haji ke tanah suci, mereka menghadapi resiko berat. Mulai kesengsaraan di perjalanan, ancaman kematian karena berdesakan, hingga terinjak-injak oleh sesama jemaah haji saat menjalankan rangkaian ibadah haji. Bahkan tahun 2008 jamaah haji asal Indonesia pernah mengalami kelaparan akibat manajemen yang kurang baik dari panitia penyelenggara haji. Hal-hal yang tersebut di muka merupakan resiko yang dialami oleh jamaah haji pada zaman modern ini.
Banyak yang begitu bahagia menginjakan kaki di tanha suci sehingga tidak mengatur tenaga dnegan baik. Diawal kehadirannya, ia selalu pergi ke masjid dan tidak mengindahkan kesehatan. Akhirnya ketika hari H yang dinantikan tiba, ia sakit dan tidak mampu melakukan kewajiban haji. Ia pun harus membayar dam atau denda. Padahal ibadah haji ini adalah ibadah fisik. Lingkungan yang baru dengan suhu sangat terkadang cukup ekstrim, membutuhkan strategi dan harus sangat mengenal keadaan diri sendiri.
Kalau sekiranya sudah terasa sakit dan tempat menginap jauh dari masjid, ada baiknya tidak ke masjid dan menghemat tenaga untuk rukun haji yang memang wajib dilakukan. Berbeda kalau tenaga cukup kuat dan badan terasa sehat. Perjalanan ke masjid yang berjarak 3-4 km, itu tidak terasa berat karena memang niat ibadah telah memberikan suntikan tenaga yang sangat luar biasa. Apalagi ditunjang dengan asupan makanan dengan gizi seimbang dan multi vitamin yang memang telah disiapkan.
Tidak heran kalau dalam menunaikan haji ini, pemerintah menyarankan agar orang-orang yang berusia muda secepatnya mendaftarkan diri untuk berhaji. Dengan demikian diharapkan bahwa ibadah yang akan dijalankan selama kurang lebih satu bulan penuh itu akan terlaksana dengan baik. Tetapi tidak bisa juga dipukul rata bahwa orang yang usia lanjut itu tidak mampu melakukan ibadah seutuhnya. Banyak peristiwa yang membuktikan kekuasaan Alalh Swt.
Orang tua yang berusia 70 tahunan, malah tampak gagah dan tidak kekurangan apapun. Allah Swt membuatnya kuat beribadah. Tidak hanya yang laki-laki, wanita yang berusia lanjut pun mampu melaksankan semua rukun haji dengan baik. Mereka terlihat tidak kekurangan apapun. Usia senja membuat mereka lebih pasrah dan tawakal. Sikap inilah yang membuat mereka tidak sombong dan tidak merasa hebat dan sehat. Kekurangan mereka membuat mereka merasa bahwa mereka harus berpasrah selalu.
Akhirnya dengan doa yang tak terputus itulah mereka bisa menunaikan rukun Islam ke-5 dengan mulus dan lancar. Sebaliknya, anak orang yang merasa sangat sehat ketika di tanah air yang dibuktikan dengan pemeriksaan kesehatan, akhirnya jatuh sakit dan harus membayar denda cukup banyak. Ia tidak mampu melakukan kewajiban hajinya sendiri. Kesombongan walau sedikit pun ternyata menjadi bumerang yang menyakitkan.
Tiada yang sulit kalau dibuat mudah dan tiada yang mudah kalau dibuat sulit. Tawakal dan selalu berpasrah adalah kunci berhaji yang harus dicamkan oleh orang-orang yang telah memasang niat melangkah ke tanah suci. Setelah kembali ke tanah air pun, tidak perlu memasang titel haji di depan nama karena sesungguhnya gelar haji itu bukan sesuatu yang menjadi pembeda dalam status sosial. Kalau dipasangkan titel haji, ditakutkan malah akan terserang penyakit riya’
Resiko Berhaji Zaman Dahulu
Kalau sekarang saja masih begitu banyak rintangan yang dihadapi ketika berhaji lalu bagaimanakah resiko yang dihadapi oleh jamaah haji ratusan tahun yang lalu? Beratnya perjuangan itu pasti akan membuat banyak orang berpikir lama untuk mempersiapkan bekal berangakt ke tanah air. Kalau sekarang saja jamaah haji reguler itu minimal meluangkan waktu sekira 40 hari, jamaah haji zaman dahulu harus mempersiapkan waktu selama setengah tahun. Atau bahkan lebih. Perjalanan dengan kapal laut saja bisa mencapai 30 hari. Pulang pergi, 60 hari.
Tentu kita tahu para jamaah haji di zaman dulu tidak naik pesawat terbang sebagai transportasi haji. Transportasi darat yang diandalkan saat itu hanyalah unta dan kuda. Bisa kita bayangkan, betapa berat ujian yang harus diterima oleh jamaah haji yang bertempat tinggal jauh dari tanah suci seperti Indonesia. Sehingga pada masa dahulu, perjalanan ibadah haji selalu dilepas kepergiannya dengan tangisan, karena khawatir tidak akan kembali lagi ke tanah air.
Dulu perjalanan haji dari Indonesia menuju Mekkah bisa jadi harus mencapai 2 hingga 6 bulan. Perjalanan menyeberangi pulau-pulau hanya bisa dilakukan dengan kapal layar sederhana. Untuk melaksanakan perjalanan ibadah haji, sesorang harus mempersiapkan segala kemungkinan terburuk. Saat itu jamaah haji ada yang ditemukan tertunda sampai di tanah suci karena kehabisan bekal ataupun menderita sakit.
Para bajak laut, perampok, angin topan dan badai juga cukup mengancam, maka diperlukan kewaspadaan yang tinggi bagi para kafilah haji. Dalam masa-masa semacam ini mereka tinggal di negara-negara tempat perahu layar mereka singgah. Beratnya perjuangan untuk menunaikan perjalanan ibadah haji pada masa itu, membuat kita yang hidup di zaman modern ini bisa memahami mengapa bila di masa lalu seorang muslim yang telah berhasil melaksanakan ibadah haji bisa mendapatkan kedudukan terhormat di kalangan masyarakat begitu kembali ke negeri asalnya.
Mereka kemudian mendapatkan gelar “haji” ataupun “hajjah” di depan nama panggilannya. Sebuah gelar yang umum disandang para jemaah haji yang tinggal jauh dari Baitullah, seperti mereka yang berasal dari Negara Indonesia ataupun Malaysia. Sedangkan gelar ini tidak populer di negara-negara di Timur Tengah yang dekat dengan Baitullah.
Kapankah Kaum Muslim Di Indonesia Mulai Melakukan Perjalanan Ibadah Haji?
Jawabannya adalah sejak Islam menyebar di Indonesia lewat para kafilah dagang yang mampir dan berniaga di Nusantara, artinya semenjak para juru dakwah menyebarkan Islam ke masyarakat di Indonesia. Hal ini termaktub dalam naskah kuno yang sempat ditemukan, yaitu naskah ‘Carita Parahiyangan’ yang mengisahkan tentang pemeluk agama Islam yang pertama kali di tanah Sunda.
Sedangkan naskah kuno yang memuat kisah tentang perjalanan ibadah haji orang-orang zaman dulu selain ‘Carita Parahyangan’ adalah ‘Carita Purwaka Caruban Nagari’ dan juga naskah-naskah yang berisi tradisi di Cirebon seperti ‘Wawacan Sunan Gunung Jat’i, ‘Wawacan Walangsungsang’ dan ‘Babad Cirebon’.
Beberapa catatan tentang kaum muslimin Indonesia yang pada zaman dulu yang telah berhasil menunaikan perjalanan ibadah haji, memperlihatkan kenyataan pada zaman itu ternyata ibadah haji merupakan ibadah yang hanya terjangkau kaum elit, yaitu orang-orag dari kalangan istana atau keluarga kerajaan.
Nampaknya pada zaman itu, perjalanan untuk melaksanakan ibadah haji memerlukan pengorbanan harta yang sangat besar. Selain karena menurut syariat bahwa orang yang melakukan perjalan ibadah haji harus meninggalkan keluarganya dalam kondisi mampu, dalam arti jangan sampai keluarganya justru menderita kelaparan karena seluruh harta telah dipakai perjalanan haji.
Seorang yang melakukan perjalanan haji juga harus mempersiapkan biaya hidup yang tidak sedikit untuk perjalanan ibadah hajinya yang bisa jadi butuh waktu berbulan-bulan lamanya.
Perjalanan Melaksanakan Ibadah Haji Saat Ini
Saat ini perjalanan ibadah haji dapat dilakukan dalam waktu singkat. Seorang yang berencana melaksanakan perjalanan ibadah haji tinggal mempersiapkan dana yang dikenal dengan nama ‘ONH' (Ongkos Naik Haji). Nilai ONH besarnya ditentukan pemerintah. dalam nilai rupiah, nilai tiap tahunnya berbeda tergantung nilai kurs mata uang yang berlaku saat itu.
Beberapa lembaga KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji) di bawah supervisi pemerintah di bawah manajemen Departemen Agama, mereka membantu mengkoordinir penyelenggaraannya. Namun saat ini tiap tahunnya para calon jama’ah haji harus mengantri untuk bisa melakukan perjalanan ibadah haji, karena jumlah kuota jemaah haji tiap negara per tahunnya dibatasi oleh Pemerintah Arab Saudi. Hal ini dilakukan dengan harapan para jama’ah haji bisa difasilitasi dengan baik.

