Mengenang Perjuangan Indonesia Merebut Irian Barat
Ilustrasi perjuangan indonesia merebut irian barat
Penjajah kolonial Belanda memang tak rela bila Indonesia merdeka dan benar-benar bebas dari cengkraman kuku penjajahan. Buktinya sejak Indonesia mendeklarasikan sebagai negera merdeka dan berdaulat, Belanda masih belum begitu rela melepaskan sepenuhnya negeri jajahan. Pascadeklarasi Proklamasipada 1945, beberapa kali Belanda melakukan konfrontasi dengan Indonesia, guna mencari celah untuk menjajah kembali, salah satunya yang paling menyedot perhatian, tenaga, pikiran para pejuang adalah tentang pembebasan Irian Barat. Berikut ini kisah perjuangan Indonesia Merebut Irian Barat dari pendudukan Belanda.
Rencana Besar Soekarno Dengan Trikora
Perang dengan Belanda di perairan Indonesia Timur dan tanah Papua merupakan rencana besar dari Bung Karno -yang diwujudkan dalam deklarasi Trikora- untuk merebut Papua dari Belanda. Dahulu, Papua merupakan pulau terakhir yang masih diduduki Belanda. Dan tentu saja Belanda benar-benar tak rela bila pulau terakhir yang lama didudukinya ini, juga lepas dan merdeka di bawah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dari sinilah kenapa Belanda benar-benar mempertahankannya sampai darah penghabisan.
Awalnya ketika Indonesia mendeklarasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, dengan pembacaan Proklamasi oleh Soekarno di Jakarta. Setelah itu kubu Indonesia mengklaim seluruh pulau di Indonesia dari Aceh sampai Papua merupakan daerah intergasi Indonesia yang berdaulat. Dan inilah yang kemudian menyulut kemarahan Belanda. Sehingga mereka berpendapat bahwa tanah Papua masih tetap tanah jajahan Belanda, dan harus tetap dipertahankan sebagai markas terakhirnya. Mendengar pihak Belanda masih tetap belum melepaskan Papua ke Indonesia, maka pada 19 Desember 1961, Soekarno merancang operasi Trikora untuk membebaskan Papua dari cengkereman Belanda.
Saat itu, Soekarno yang sedang di Yogyakarta, memerintah Soeharto yang waktu itu masih aktif di TNI dengan pangkat Mayjen untuk memimpin operasi Trikora ini. Lantas Soekarno membentuk Komando Mandala, sebuah tim yang terdiri atas jajaran angkatan bersenjata yang dipersiapkan khusus untuk operasi militer di Papua. Sebuah persiapan perang telah dipersiapkan. Kelak, perjuangan merebut Irian Barat ini banyak menimbulkan berbagai masalah yang pengaruhnya terus berkepanjangan sampai sekarang ini. Namun tentu saja langkah berani Soekarno membentuk sebuah tim untuk merebut Irian Barat tersebut dapat dipertanggung jawabkan dan dapat dimaklumi, dalam kaitannya dengan mempertahankan kedaulatan Indonesia yang masih seumur jagung. Pemimpin mana pun tak akan pernah main-main dalam kaitannya dengan mempertahankan kedaulatan negara ini, setolol apapun pemimpin itu. Soal dampak dari perebutan Irian Barat ini meluas dari yang diperkirakan semula, itu pun menjadi bagian dari sebuah resiko yang harus diambil daripada membiarkan pemerintah kolonial Belanda tetap menguasai Irian Barat baik secara de facto maupun de jure.
Dukungan Persenjataan Dari Uni Soviet
Guna membangun kekuatan militer tentu harus membeli peralatan tempur yang mumpuni, apalagi Soekarno berencana menggelar operasi militer merebut Papua. Maka Soekarno mendekati Uni Soviet untuk membeli sejumlah persenjataan perang dan kendaraan perang lain seperti pesawat tempur dan kapal perang beserta rudal-rudalnya. Perlu Anda ketahui, waktu itu hubungan Indonesia dengan sejumlah negara komunis seperti Uni Soviet dan RRC begitu mesra.
Kemesraan hubungan ini membuat Amerika khawatir karena saat itu masih berlangsung perang dingin setelah usainya Perang Dunia II. Amerika cemas karena jika Indonesia menjadi negara komunis di Asia Tenggara, tentu akan menjadi ancaman bagi negara sekutu Amerika seperti, Australia, negara persemakmuran Singapura, dan Malaysia.
Presiden Amerika, John F Kennedy, dengan gencar mendesak Belanda menyerahkan masalah di Papua kepada Liga Bangsa-Bangsa, tapi Belanda tak bergeming. Tak pelak kubu Amerika tak begitu memperhatikan operasi Trikora ini.
Operasi Militer Dilancarkan
Operasi Trikora dimulai dari misi insersi/ penyusupan lewat pantai oleh agen-agen spionase yang direkut oleh tentara dari masyarakat. Tujuannya untuk memantau kekuatan persenjataan lawan dan markas-markas militer musuh. Sifat operasi spionase ini belum terpadu, masih sendiri-sendiri. Dengan demikian manfaatnya pun belum dirasakan secara langsung.
Tapi, setelah itu Bung Karno mengerahkan kekuatan militernya dari segenap angkatan bersenjata, seperti Angkatan Udara dengan menerjunkan sekompi tentara di belantara hutan Papua dan di divisi Angkatan Laut mengerahkan sejumlah kapal tempur. Tentu saja serangan dan unjuk kekuatan ini membuat pemerintah kolonial Belanda berpikir dan mulai mengatur strategi. Indonesia yang ingin merebut Irian Barat dari tangan Belanda, bukan hanya gertak sambal tetapi merupakan sebuah gerakan yang direncanakan secara matang.
Yos Sudarso Gugur di Laut Aru
Setiap pertempuran pasti memakan korban. Demikian juga konsekuensi operasi Trikora yang memakan banyak korban dari Tentara Republik Indonesia. Komodor Yos Sudarso, kapten perang TNI AL adalah salah satu pejuang yang gugur tersebut. Namanya kemudian diabadikan menjadi nama salah satu kapal perang Indonesia.
Komodor Yos Sudarso menjadi tumbal dari perjuangan yang ingin membebaskan Irian Barat dari cengkraman Belanda yang tak rela memberikan begitu saja kepada Indonesia yang telah memproklamirkan kemerdekaannya. Peristiwanya ini bermula dari misi patroli dan pengintaian di Laut Aru pada tanggal 15 Januari 1962. Saat itu, ada tiga kapal perang yang berlayar. Kapal-kapal itu adalah KRI Macan Tutul yang dikomandani Yos Sudarso, KRI Macan Kumbang, dan KRI Harimau. Ketiga kapal ini berlayar secara beriringan.
Di tengah laut, iringan kapal ini dihadang oleh Pesawat pengintai Belanda. Pilot pesawat tempur Belanda tersebut menganggap bahwa ketiga kapal itu adalah ancaman, kemudian pesawat Belanda menghujani dengan rudal anti kapal kepada ketiga kapal perang Indonesia. Ketiga kapal Indonesia pun membalas serangan. Saling serang dengan persenjataan canggih untuk ukuran tahun itu tidak bisa dihindari lagi. Perang sudah dikibarkan dan bagi seorang pejuang pantang untuk surut ke belakang. Benar adanya pepatah yang mengatakan lebih baik berkalang tanah daripada meninggalkan medan perang sendiri-sendiri atau berkelompok. Perjuangan belum berakhir sampai dengan darah penghabisan. Inilah prinsip para pejuang Indonesia yang menggelorakan semangat untuk tetap mempertahankan ibu pertiwi dari serangan musuh. Tidak ada kompromi yang dilakukan ketiga kapal perang Indonesia itu selain maju terus pantang mundur sampai dengan darah penghabisan. Inilah sebuah kehormatan yang harus senantiasa dipertahankan.
Namun sayang, pertempuran laut itu tak berimbang. KRI Macan Tutul karam diterjang roket yang diluncurkan dari pesawat perang milik Belanda. Yos Sudarso bersama anak buah di KRI Macan Tutul tenggelam dan gugur sebagai pahlawan perang Indonesia kala merebut Papua.
Pembebasan Irian Barat memang berhasil dilakukan sekalipun tidak benar-benar bebas dalam arti sesungguhnya. Pergolakan separatis terus berlangsung dengan berbagai pihak dan berbagai latar belakang. Bahkan sampai sekarang Irian Barat atau lebih popular dengan Papua, belum benar-benar selesai. Masalah ketidak adilan pembagian hasil kekayaan antara daerah dan pusat, terus memicu konflik dan berakhir dengan pemberontakan baik secara terorganisir maupun secara liar. Dan langkah berani memang harus ditempuh pemerintah sekarang ini bila menginginkan Papua benar-benar merdeka, seperti juga langkah berani yang diambil Soekarno ketika membebaskan Irian Barat dari Belanda.

