Perjuangan Mahatma Gandhi: Ahimsa, Perlawanan Tanpa Kekerasan

Ini bukanlah perjuangan mengenai spiritual (agama) atau nasionalisme. Kami tidak menentang apa pun. Idenya hanyalah bagaimana semua manusia dapat hidup bersama. (Mahatma Gandhi)
William Wallace memimpin pasukannya di Skotlandia untuk melawan para feodal yang berasal dari Britania. Korban berjatuhan di berbagai pihak. Kedengarannya heroik memang, tapi tampaknya itu bukanlah cara Mahatma Gandhi. Perjuangan Mahatma Gandhi penuh dengan kasih sayang dan anti kekerasan. Ia lebih memilih untuk melawan kekerasan dengan kebajikan.
Jika membayangkan dunia tanpa Mahatma Gandhi, adalah seperti membayangkan dunia tanpa Marthin Luther King, Nelson Mandela, atau bahkan Seokarno sekalipun. Gandhi adalah seorang pemikir dan pejuang yang mempunyai kelas dan pemikiran luar biasa.
Mohandas Karamchand Gandhi
Sejak kecil, Ghandi memang terinspirasi oleh dongeng-dongeng heroik India. Sebut saja cerita tentang Harischandra, sebuah epik local tentang patriotisme dan perjuangan seorang raja dari India. Bahkan, Ghandi mengaku ia bertingkah seperti Harischandra beberapa kali. Tak terhitung jumlahnya, tutur Ghandi.
Ghandi berasal dari kalangan keluarga menengah. Karena bapaknya bekerja pada pemerintahan Inggris Ini membuat Gandhi maka bisa bersekolah ke Inggris.
Setelah selesai sekolah di Inggris, Gandhi hijrah ke Afrika Selatan. Berbekal pengetahuannya tentang hukum, Gandhi memperjuangkan hak-hak rakyat India di sana. Maklum, Afrika Selatan pada abad 18 merupakan negara yang tidak adil. Hukum bagi masyarakat kulit putih dan kulit lain dibedakan.
Hal ini mengusik Gandhi. Ia merasa semua orang mempunyai kedudukan yang sama di mata hukum. Baik itu kulit putih, hitam, atau berwarna. Karena merasa punya pekerjaan yang lebih besar, pada 1914 Gandhi kembali ke India. Ia berangkat ke tanah Gujarat itu dengan harapan bisa memerdekakan negaranya.
Ahimsa
Sejak kembali ke tanah kelahirannya, Gandhi mencoba memberikan pendidikan pada masyarakat India bahwa mereka sedang dijajah. Mereka harus melwan, api bukan dengan senjata, itulah yang diajarkannya. Gandhi mulai mengajak para masyarakat untuk membangun ekonomi mandiri. Gandhi kemudian membangun pabrik garam untuk masyarakat India. Ajaran Gandhi ini dikenal dengan sebutan Ahimsa.
Salah satu cara yang paling popular untuk protes dalam Ahimsa adalah mogok makan. Selain itu, dalam Ahimsa setiap orang harus melakukan sesuau tanpa pamrih. Karena Gandhi berpikir bahwa hawa nafsu adalah akar dari semua kejahatan. Pada dasarnya, Ahimsa memiliki beberapa asumsi.
Pertama, kemerdekaan dan kesejahteraan dimulai dari sebuah kemandirian. Kedua, kemajuan akan bisa dicapai bukan lewat reformasi birokrarsi, tapi melalui perjuangan yang dilakukan sendiri oleh masyarakat. Untuk itu ketulusan dan kerelaan rakyat sangat penting di sini.
Ahimsa dan Gandhi adalah salah sau warisan pemikiran yang terlupakan. Ia kalah di tengah glamornya demokrasi, sosialisme, liberarisme, dan sederet pemikiran lain yang membuat mengkerut dahi. Ahimsa sangat sederhana. Ia adalah melakukan sesuatu dengan cinta, tulus dan kasih sayang. Tidak ada yang lebih sederhana daripada itu, tapi tidak ada juga yang lebih kuat.






