Perkembangan Kelompok Sosial dalam Masyarakat Multikultural
Kekerasan di berbagai daerah yang dipicu konflik berbau agama cukup membuat hati miris. Seharusnya, ada cara-cara elegan yang dapat mengantisipasi kejadian tersebut. Bukankah perbedaan itu tak mungkin terhindarkan. Anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah saja bisa berbeda. Apalagi, orang yang tinggal di tempat lain.
Ada baiknya, pihak mayoritas memberikan toleransi dan pengertian yang sangat besar pada perkembangan kelompok sosial tertentu. Terutama, perkembangan kelompok sosial dalam masyarakat multikultural yang lekat dengan Indonesia. Kalaupun akan membatasi perkembangannya, pemerintah harus membuat peraturan yang tegas. Jangan sampai terjadi frustasi sosial yang akan berakibat pada revolusi sosial yang anarkis.
Bukan Buenos Aires
Indonesia bukan seperti ibukota Argentina, Buenos Aires, yang walaupun merupakan salah satu kota terpadat di dunia, masyarakatnya adalah monokultural sehingga penanganan masalah bisa lebih mudah dan tak harus melibatkan banyak unsur. Sementara itu, Indonesia merupakan suatu negara dengan banyak suku bangsa dan pandangan hidup yang sangat beragam.
Berbagai praktik keagamaan yang berbeda bisa saja menimbulkan kecemburuan. Bahkan, kebencian dari kelompok lain. Akan tetapi, Indonesia mempunyai Pancasila dan konsep Bhineka Tungkal Ika. Harusnya, dua hal ini bisa dijadikan landasan dalam menangani permasalahan yang ada.
Mengapa Ahmadiyah Dibenci?
Masyarakat Badui mempercayai adanya Tuhan. Praktik keagamaan mereka menggabungkan ritual Islam dan Hindu. Sebagian masyarakat Jawa juga mengakui bahwa mereka menganut agama Islam. Namun, praktik ritual mereka masih bercampur dengan ajaran Hindu.
Masyarakat Kampung Naga juga menganut agama Islam tapi masih ada juga ritual-ritual yang mirip dengan ritual agama Hindu. Namun, kelompok ini bisa hidup damai di lingkungannya dan tak ada gesekan apapun dengan masyarakat sekitar. Malahan, masyarakat menghargai peraturan dan adat istiadat yang ada di kelompok sosial tersebut.
Akan tetapi, mengapa umat Islam tertentu merasa sangat membenci Ahmadiyah? Pertama, nama kelompok ini yang membawa-bawa nama Islam. Kedua, keyakinan masyarakat di luar Ahmadiyah yang telah menganggap bahwa kelompok ini sesat dan menyesatkan. Ahmadiyah dianggap bathil dan telah menghina Islam dengan mempunyai nabi lain setelah Rasulullah, mempunyai kitab lain selain Al quran, dan mempunyai syahadat yang juga berbeda.
Hal-hal itulah yang membuat kekerasan tersebut terjadi. Selain itu, ketidaktegasan pemerintah dan kelambanan dalam mengantisipasi bara yang sudah mengendap dalam sekam membuat api itu berkobar. Masyarakat mayoritas merasa berhak menghukum kelompok minoritas. Mereka merasa mempunyai kekuatan, terutama berdasarkan ajaran agama. Bagai di zaman khalifah Abu Bakar saat menumpas para nabi palsu. Mereka lupa bahwa Indonesia bukan negara Islam dan setiap warga negara berhak hidup dan tumbuh di negeri nan indah ini.
Seharusnya, masing-masing pihak duduk bersama dan menjauhi perang. Tak akan habis dendam bila selalu dipupuk. Kebencian hanya akan melahirkan kehancuran yang memusnahkan akar-akar perdamaian yang menjadi salah satu syarat hidup bahagia.
Amish
Amerika juga mempunyai masyarakat Amish yang masih memegang teguh ajarannya. Namun, apa yang membuat pihak mayoritas menghargai mereka? Rasa toleransi dan penghormatan atas hak-hak asasi tiap warga negara untuk hidup dan berkembang di suatu negera dengan damai.






