Perkembangan Peradaban Islam
Ilustrasi perkembangan peradaban islam
[kwd]Perkembangan peradaban Islam[/kwd] sejatinya dimulai semenjak hijrahnya Rasulullah Saw dari Mekkah ke Madinah. Di Madinah, Rasulullah Saw mengawali pengembangannya dari sisi ekonomi.
Hal pertama sekali yang dilakukan Beliau adalah mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshor. Setelah itu barulah mulai dibentuk baitul maal serta pasar-pasar yang berfungsi untuk menunjang kaum muslimin dalam bermuamalah.
Perkembangan peradaban Islam berlanjut hingga masa Al Khulafaur Rasyidin atau 4 khalifah setelah Rasulullah, yaitu Abu Bakar, Umar Bin Khattab, Usman Bin Affan, dan Ali Bin Abi Thalib.
Tak berhenti sampai di situ, perkembangan peradaban Islam tetap terus berlanjut hingga zaman khalifah-khalifah selanjutnya, seperti Umar Bin Abdul Aziz. Perkembangan peradaban Islam saat itu mampu menguasai sepertiga dari dunia terutama pada zaman Umar Bin Khattab.
Pengertian Peradaban
Kata Peradaban seringkali diberi arti yang sama dengan kebudayaan. Tetapi dalam B. Inggris terdapat perbedaan pengertian antara kedua istilah tersebut. Istilah Civilization untuk peradaban dan Culture untuk kebudayaan. Demikian pula dalam B. Arab dibedakan antara kata tsaqafah (kebudayaan), kata hadharah (kemajuan), dan tamaddun (peradaban).
Suatu peradaban ditunjukkan dalam gejala-gejala lahir, mis. Memiliki kota-kota besar, masyarakat telah memiliki keahlian di dalam industri pertanian, pertambangan, pembangunan, pengangkutan dsb., memiliki tertib politik dan kekuasaan, dan terdidik dalam kesenian yang indah-indah.
Peradaban Islam memiliki tiga pengertian yang berbeda. Pertama, kemajuan dan tingkat kecerdasan akal yang dihasilkan dalam suatu periode kekuasaan Islam mulai dari periode Nabi Muhammad Saw.
Sampai perkembangan kekuasaan sekarang; kedua, hasil-hasil yang dicapai oleh umat Islam dalam lapangan kesusasteraan, ilmu pengetahuan dan kesenian; ketiga, kemajuan politik atau kekuasaan Islam yang berperan melindungi pandangan hidup Islam terutama dalam hubungannya dengan ibadah-ibadah, penggunaan bahasa, dan kebiasaan hidup kemasyarakatan.
Meraih Kejayaan Islam dengan Iptek
Berdasarkan penjelasan Ibnu Khaldun tentang kebangkitan suatu peradaban, jika umat Islam ingin membangun kembali peradabannya, mereka harus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Tanpa ini, kebangkitan Islam hanya akan menjadi utopia belaka.
Menurut Ibnu Khaldun, wujud suatu peradaban merupakan produk dari akumulasi tiga elemen penting yaitu, kemampuan manusia untuk berfikir yang menghasilkan sains dan teknologi, kemampuan berorganisasi dalam bentuk kekuatan politik dan militer, dan kesanggupan berjuang untuk hidup.
Jadi kemampuan berfikir merupakan elemen asas suatu peradaban. Suatu bangsa akan beradab (berbudaya) hanya jika bangsa itu telah mencapai tingkat kemapuan intelektual tertentu. Sebab kesempurnaan manusia ditentukan oleh ketinggian pemikirannya.
Suatu peradaban hanya akan wujud jika manusia di dalamnya memiliki pemikiran yang tinggi sehingga mampu meningkatkan taraf kehidupannya. Suatu pemikiran tidak dapat tumbuh begitu saja tanpa sarana dan prasarana ataupun supra-struktur dan infra-struktur yang tersedia.
Maka dari itu, pembangunan kembali peradaban Islam harus dimulai dari pembangunan ilmu pengetahuan Islam. Orang mungkin memprioritaskan pembangunan ekonomi dari pada ilmu, dan hal itu tidak sepenuhnya salah, sebab ekonomi akan berperan meningkatkan taraf kehidupan.
Namun, sejatinya faktor materi dan ekonomi menentukan setting kehidupan manusia, sedangkan yang mengarahkan seseorang untuk memberi respon seseorang terhadap situasi yang sedang dihadapinya adalah faktor ilmu pengetahuan. Dari sini, kita melihat peran vital pendidikan sebagai jalan kebangkitan peradaban Islam.
Periodisasi Peradaban Islam
Sejarah Islam adalah bagian dari ilmu pengetahuan Agama Islam dan tidak boleh dipandang terpisah dari ilmu pengetahuan agama Islam. Oleh karena itu dalam menulis sejarah Islam harus mempunyai pengetahuan tentang cabang-cabang ilmu pengetahuan agama Islam seperti Al-Qur’an, As-Sunnah, Fiqih, Tauhid, Tarikh Tasyri.
Menurut para sejarawan perkembangan historiogragfi Islam terbagi kedalam empat periode, di antaranya:
1. Periode awal sampai pada abad ke 3 Hijriyah
Ciri dari masa ini adalah belum terpecahkannya antara legenda dan tradisi Arab sebelum Islam dengan sejarah Islam yang relatif ilmiah yang muncul pada abad ke dua Hijriyah. Penulisan sejarah abad ini masih dipengaruhi oleh tradisi penulis Persia. Salah satu buku yang terkenal adalah buku yang berjudul Khudai-Nama (Buku Raja-raja).
2. Periode dimulai abad ke 3 sampai abad ke enam Hijriyah
Ciri periode ini adalah diakui sebagai disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Ciri lainnya ditandai dengan lahirnya sejarawan-sejarawan wilayah/propinsi, seperti Fathu Mishr karya Abdurrahman bin Abdullah bin Abdul Hakam, dan Tarikh Baghdad karya Ibnu Abi Thahir Taifur.
3. Periode abad keenam sampai abad kesepuluh
Ciri periode ini adalah digunakannya dua bahasa yakni bahasa Arab dan Persia.
4. Periode abad kesepuluh sampai abad ketiga belas Hijriyah
Ciri periode ini adalah pdipergunakannya bahasa Turki dalam penulisan sejarah. Hal ini sebagai akibat logis dari tegaknya Dinasti Turki Utsmani dan ekspansi Barat terhadap dunia Islam
Periodisasi Sejarah Islam
Periodisasi sejarah merupakan ciri bagi ilmu sejarah yang mengkaji peristiwa dalam konteks waktu dan tempat dengan tolok ukur yang bermacam-macam. Menurut Prof. DR. H.N. Shiddiqi, ada beberapa pendapat yaitu:
- Tolok ukurnya adalah pada sistem politik, hal ini biasanya digunakan pada sejarah konvensional.
- Tolok ukurnya pada persoalan ekonomi (maju-mundurnya ekonomi) dalam sebuah negara.
- Tolok ukurnya pada tingkat peradaban dan kebudayaan suatu bangsa.
- Tolok ukurnya pada masuk dan berkembangnya suatu agama.
Menurut Frof. Dr. Harun Nasution periodisasi sejarah Islam terbagi pada 3 periode:
1. Periode Klasik (650-1250 M)
Meliputi dua masa kemajuan yaitu masa Rasululloh SAW, Khulafaurrasyidin, Bani Umayyah, dan masa-masa permulaan Dawlah Abbasiyah.
2. Periode Pertengahan (1250-1800 M)
Pada periode ini terjadi dua masa kemunduran dan masa Tiga Kerajaan Besar. Turki Utsmani, Dawlah Shafawiyah, dan Dawlah Mongoliyah di India. Fase Tga Kerajaan Besar mengalami kemajuan pada tahun 1500-1700 M. dan mengalami kemunduran kembali pada 1700-1800 M.
3. Periode Modern (1800- sekarang)
Pada mperiode ini umat Islam banyak belajar dari dunia Barat dalam rangka mengembalikan balance of power. Dalam era ini Islam mulai bangkit kembali dengan melakukan pembaharuan (tajdid).
Kemajuan Peradaban Islam
Sejak awal, Rasulullah Saw tidak pernah mengajar sistem feodal atau monarki. Maka, pemilihan khalifah (pada masa khulafaur rasyidin) dilakukan dengan tiga model pemilihan: aklamasi; penunjukan; atau (ketiga) melalui tim formatur (dewan syura).
Sementara di bidang ekonomi, Nabi Saw mewariskan prinsip: mengakui hak individu berikut penggunaannya; kepemilikan pribadi itu harus dipertanggungjawabkan kepada Allah Swt; dan (prinsip ketiga) harta tersebut harus disalurkan kepada fakir miskin atau yang lebih membutuhkan. Sedang sistem sosial Islam merangkul semua lapisan masyarakat; mempertalikan si kaya dengan si miskin, dan raja dengan rakyat. Tidak ada kasta-kasta dalam Islam.
Islam menyajikan sistem tolong menolong antarumat dalam lapangan politik, perekonomian, kehidupan sosial, bahkan sistem perdamaian. Islamlah yang mencetuskan sistem perjanjian, konsulat, suaka politik, dan dakwah. Kerja sama dan kontak ekonomi dibolehkan dengan pihak lain, seperti Yahudi, Persia dan Romawi.
Semasa Dinasti Umayyah (Amawiyah) berkuasa (661-770M), banyak institusi politik dibentuk, misalnya undang-undang pemerintahan, dewan menteri, lembaga sekretariat negara, jawatan pos dan giro serta penasihat khusus di bidang politik.
Dalam tatanan ekonomi dan keuangan juga dibentuk jawatan ekspor dan impor, badan urusan logistik, lembaga sejenis perbankan, dan badan pertanahan negara. Sedang dalam tatanan teknologi, dinasti ini telah mampu menciptakan senjata-senjata perang yang canggih pada masanya, sarana transportasi darat maupun laut, sistem pertanian maupun pengairan
Penerapan ekonomi Islam dirasakan dan telah terbukti mampu memakmurkan penduduk Madinah dan juga negeri-negeri jajahan Islam. Kemakmuran ini ditandai dengan kebingungan para pengelola baitul maal untuk menyalurkan zakat yang telah terkumpul, karena tidak ada penduduknya yang termasuk ke dalam kriteria delapan asnaf tersebut.
Pada saat itu perkembangan peradaban Islam sangatlah maju dari semua sektor, mulai dari ekonomi, pemerintahan, politik, pendidikan, kebudayaan, kesehatan, kesenian, dan lain-lain. Sehingga dapat dikatakan sebagai zaman kejayaan Islam.
Hal ini diukur dengan adanya pasar dan juga kebudayaan yang tinggi di kalangan umat muslim, berbeda dengan barat pada saat itu yang masih tertinggal dan kebanyakan mata pencaharian dari orang barat pada saat itu adalah berburu.
Karena peradabannya yang tinggi, umat muslim pada waktu itu banyak menjadi rujukan dan acuan di segala bidang. Banyak ilmuwan barat yang menimba ilmu di Arab maupun di negara-negara Eropa yang telah menjadi jajahan muslim. Tujuannya tak lain adalah untuk sekedar berguru atau berdiskusi dengan ulama-ulama muslim.
Salah satu bukti adalah bergurunya Adam Smith bapak ekonomi kapitalis kepada Abu Ubaid, yang pada waktu itu sering mengadakan diskusi di Eropa. Dalam penulisan bukunya yang fenomenal yaitu The Wealth of Nations, Adam Smith banyak terinspirasi oleh buku Al Amwal karya Abu Ubaid.

