Permainan Anak
Ilustrasi permainan anak
Begitu banyak hal yang bisa dijadikan permainan anak. Asal jeli melihat barang-barang yang ada di sekitar anak, maka apa pun bisa dijadikan permainan. Misalnya, kartu remi yang bisa dibuat sulap, korek api yang juga bisa dijadikan bahan tebakan, dan lain-lain. Kamar tidur pun bisa menjadi tempat permainan anak.
Intinya seluruh isi rumah bahkan seluruh isi dunia ini bisa dijadikan permainan anak. Tinggal bagaimana mengkreasikan dan menyesuaikan dengan umur dan kemampuan anak.
Permainan anak juga bisa sebagai sarana membentuk karakter anak. Karakter kejujuran, misalnya, bisa dilatih dengan beragam permainan anak. Ilmu Psikologi pun bisa diajarkan lewat permainan anak. Apalagi ilmu bersosialisasi dan berempati, permainan anak adalah sarana paling tepat untuk kedua hal tersebut.
Permainan Anak ‘Tebak-tebakan’
Salah satu permainan anak yang melatih kejujuran adalah ‘tebak-tebakan’. Permainan anak satu ini tidak membutuhkan alat peraga atau ruang yang luas. Anak-anak yang akan main ‘tebak-tebakan’ ini tinggal menentukan apa yang akan mereka tebak.
Contohnya, mereka bermain dengan kancing-kancing bekas atau kelereng. Masing-masing peserta menyimpan kancing atau kelereng di tangannya. Lalu mereka menebak jumlah kancing atau kelereng yang ada di genggaman tangan semua peserta dan menghitung total jumlah kancing atau kelereng termasuk yang dimilikinya. Misalnya, A menggemgam 3 buah, B menggenggam 4 buah, C menggenggam 1 buah. Total semuanya 8 buah. Yang bisa menebak tepat akan mengambil kancing atau kelereng punya yang lain.
Permainan anak ‘tebak-tebakan’ ini melatih kejujuran karena bisa saja peserta menjatuhkan kancing atau menyembunyikan kelereng yang telah digenggamnya. Kancing yang bentuknya lucu dan unik itu cukup bernilai di mata anak-anak karena bisa dijadikan mata boneka atau pemanis tas buatan sendiri. Barang lain yang bisa dijadikan bahan ‘tebak-tebakan’ adalah permen.
Ada yang menilai bahwa permainan anak ini seperti judi karena mengajari menebak dan berspekulasi. Tapi bila diamati dengan lebih saksama, permainan anak ‘tebak-tebakan’ ini melatih anak agar mampu melihat mimik wajah orang lain dan menganalisa apakah orang tersebut menyembunyikan sesuatu atau tidak.
Dari melihat dan mengamati ekspresi wajah tersebut, anak akan tahu apabila seseorang gelisah karena isi hatinya bisa ditebak atau seseorang itu merasa bangga karena isi hatinya tak bisa ditebak. Pandai membaca ekspresi wajah ini akan sangat penting dalam kehidupan anak selanjutnya terutama kalau dia akan menjadi seorang pebisnis.
Menebak perasaan orang lain juga bisa membuat anak belajar berempati. Jadi permainan anak ‘tebak-tebakan’ ini bukan mengajarkan untuk berspekulasi tapi mengajarkan anak agar mampu memiliki rasa percaya diri tinggi dan berani mengambil risiko. Nantinya ketika dewasa mereka tidak takut mengambil keputusan cepat.
Dalam permainan ini, masing-masing peserta harus bergantian menebak. Kalau diberlakukan peraturan cepat-cepatan menebak juga tidak jadi masalah. Kalau ternyata tebakan mereka sama, yang benar tinggal membagi hasil yang didapatkan. Jadi permainan anak ‘tebak-tebakan’ ini juga mengajarkan cara berkompromi dan bernegosiasi. Dalam hal ini, anak mengerti bahwa semua hal itu ada solusi dan bisa dibicarakan.
Permainan anak ‘tebak-tebakan’ ini cocok dimainkan oleh anak-anak usia sekolah dasar. Pada usia 7-12 tahun itu anak sudah bisa mengendalikan emosinya. Bila permainan anak ‘tebak-tebakan' dimainkan oleh anak usia TK, ada baiknya didampingi oleh orangtua. Pada usia TK tersebut biasanya masih cukup sulit bagi seorang anak untuk menerima kekalahan.
Untuk anak usia SMP dan SMA ke atas, permainan anak ‘tebak-tebakan’ ini akan semakin seru ketika mereka menggunakan bahan tebakan yang lebih menantang. Misalnya, mereka cukup menuliskan angka atau menyimpan angka tertentu dalam pikirannya berupa 1-10. Tebakan yang tepat tentunya harus diiringi dengan kemampuan menganalisa ekespresi wajah dan mengasah instuisi. Kejujuran sangat dibutuhkan dalam permainan seperti ini.
Congklak - Permainan Anak yang Semain Tengggelam
Congklak bisa dikategorikan sebagai permainan anak yang melatih kejujuran. Buah congklak bisa menggunakan kerang, biji-biji buah seperti biji jambu air atau biji rambutan yang dipotong dua, batu-batu kecil, dan lain-lain.
Bermain congklak cukup mudah. Para pemain cukup memainkan buah congklak dari satu lubang ke lubang lainnya. Kalau buah congklak jatuh ke lubang terakhir, pemain tinggal mengambil semua buah congklak yang ada di lubang tersebut. Di sinilah letak nilai kejujuran diuji.
Peraturan dalam congklak adalah kalau buah congklak jatuh pada lubang yang kosong, maka permainan seorang pemain berakhir dan pemain lawan yang akan main. Kejujuran itu sangat diharapkan. Bisa saja pemain tersebut menjatuhkan tidak satu buah congklak di satu lubang tapi dua buah dengan harapan bahwa buah congklak terakhir tersebut tidak jatuh di lubang yang kosong sehingga dia bisa terus bisa melanjutkan permainan.
Kecurangan ini tentu saja berdampak kepada perolehan buah congklak di akhir pemainan nanti. Kalau hal ini terus berlangsung, itu artinya kemenangan di atas kecurangan. Hal inilah yang membuat seorang anak merasa sakit hati kalau dia tahu teman mainnya berbuat curang. Akibatnya adalah bahwa anak yang bermain curang tersebut tidak diajak main lagi atau setiap kali dia main, teman-teman yang lain akan selalu bertanya apakah dia curang atau tidak.
Pengawasan seperti ini tentunya membuat permainan anak yang seharusnya menyenangkan menjadi berkurang gregetnya. Yang diawasi juga akhirnya mungkin juga akan tersinggung. Apalagi kalau dia sudah berusaha untuk tidak curang lagi, tapi teman-temannya masih saja mencurigai dirinya.
Kalau orangtua mengetahui apa yang terjadi, sebaiknya orangtua memberikan pengertian kepada semua anak. Penyampaian yang bijaksana akan membuat suasana bermain menjadi kondusif lagi. Tapi hendaknya orangtua bertanya penyebab awal keadaan yang tidak menyenangkan tersebut. Karena kalau orangyua tidak bertanya menyebab awal ketegangan, ditakutkan ada informasi yang hilang. Kalau informasi yang hilang tersebut terlupakan, permainan anak yang seharusnya menyenangkan akan menjadi permusuhan yang tidak jarang terbawa hingga anak menginjak remaja atau bahkan dewasa.
Kelereng - Permainan Anak yang Membutuhkan Kejujuran
Jangan dikira permainan anak yang berupa saling menembak kelereng tidak membutuhkan kejujuran. Biasanya permainan anak satu ini membutuhkan beberapa pemain.
Ada beberapa teknik bermain kelerang ini. Misalnya, permainan saling membidik kelereng lawan pada jarak tertentu. Kalau satu pemain mampu membidik dan bidikannya mengenai kelereng lawan, itu artinya dia berhak mendapatkan kelereng lawan tersebut. Letak kejujuran tersebut adalah ketika menentukan jarak bidikan. Bisa jadi seorang pemain menggeser letak kelerengnya sehingga jarak bidikannya semakin dekat.
Permainan anak seperti yang di atas bisa saja ajang perkelahian ketika kecurangan tersebut diketahui pemain yang lain dan yang melakukan kecurangan tidak mau mengakui kecurangannya. Memang biasanya pemain lawan akan memberi tanda letak tempat bidikan. Tapi kalau pemainnya banyak, bisa jadi pemain lawan tidak melihat pergerakan seoarng pemain yang menggeser letak kelerengnya.
Penentuan letak bidikan adalah dengan cara para pemain secara bergiliran melempar kelereng-kelereng para pemain. Dari lemparan tersebut dilihat jarak terjauh dan terdekat kepada lubang acuan. Kelerang yang terjauh berhak membidik kelereng yang lebih dekat ke lubang acuan.
Agar lemparan tidak terlalu jauh, dibuatlah lingkaran. Bila ada kelereng yang keluar dari lingkaran, itu artinya kelereng tersebut berada di garis lingkaran. Kelereng yang ada digaris lingkaran ini mendapat giliran pertama. Kalau ada beberapa kelereng yang jatuh di luar lingkaran, giliran membidik ditentukan oleh jauh dekatnya jarak titik jatuh kelereng. Pemain yang melempar kelereng juga harus jujur. Bisa jadi dengan ketangkasannya dia bisa mengatur letak kelereng di dalam genggamannya.
Itulah beberapa permainan anak yang dapat melatih kejujuran. Semoga bermanfaat!

