Memahami Hakikat Pernikahan
Pernikahan ialah dambaan setiap orang. Setiap manusia pasti ingin melakukan pernikahan, membina hubungan rumah tangga bersama orang yang dicintai, memiliki anak-anak yang manis dan cerdas, dan bisa menyalurkan kasih sayang terhadap anggota keluarga.
Setiap orang pasti pulalah menginginkan hanya sekali seumur hidup dalam melakukan pernikahan. Dalam setiap pernikahan, pastilah ia menginginkan bahwa yang menjadi pasangannya ialah pasangan hingga akhir hayat.
Keinginan yang mulia itu idealnya dibarengi dengan berbagai upaya untuk mempertahankan ikatan pernikahan yang suci. Bukan hanya itu, sebelum memasuki gerbang pernikahan, hal-hal yang sifatnya persiapan juga takbisa dikesampingkan.
Satu hal yang harus diingat adalah, pernikahan memang hal biasa bagi setiap manusia, sekaligus menjadi luar biasa ketika akan dihadapi. Dilihat dari hal ini, pernikahan bisa dikategorikan sebagai sebuah peristiwa unik yang terjadi dalam kehidupan manusia.
Siapapun pasti menginginkan pernikahannya selalu dipenuhi dengan hal-hal baik. Mulai dari persiapan hingga bagaimana menjalani biduk rumah tangga itu sendiri. Ibarat akan mengarungi lautan, pernikahan juga membutuhkan kesiapan bekal, baik mental maupun pemenuhan kebutuhan. Jika ada badai yang menerjang, itu semua tidak akan menjadi masalah bila persiapan sudah matang. Bila semua disiapkan dengan baik.
Persiapan Pernikahan
Pernikahan bagi sebagian orang bukan hanya merupakan sesuatu yang sakral, namun menjadi suatu hal yang harus dipersiapkan sebaik-baiknya. Persiapan pernikahan ini bukanlah pada tataran ikrar menjalani kehidupan rumah tangga saat akad nikah atau pemberkatan, bahkan bukan pula pada resepsi.
Persiapan pernikahan yang dimaksud ialah mempersiapkan diri secara lahir dan batin, secara fisik dan mental. Pun menentukan pasangan yang tepat yang benar-benar bisa menjadi rekan dalam membangun rumah tangga yang harmonis.
Siapapun pasti menginginkan pernikahannya langgeng hanya dengan satu pasangan, sebab itulah pemilihan pasangan hidup juga menjadi hal yang cukup penting ketika Anda tengah "mencicil" untuk mempersiapkan pernikahan. Apa dan bagaimana kriteria pasangan yang baik tentu hanya Anda sendiri yang dapat menilai dan merasakannya.
Sebuah pernikahan yang hanya dilandasi oleh nafsu untuk berkeluarga saja tanpa memahami betul maksud dari sebuah kehidupan rumah tangga, pastilah tidak akan berjalan dengan baik. Ujung-ujungnya ialah perceraian.
Nafsu yang dimaksud tentu saja nafsu seksual. Jika ekspektasi atau pengharapan manusia terhadap pernikahan hanya untuk hal itu, maka biasanya, pernikahan tidak akan bertahan lama.
Selain berkenaan dengan nafsu seksual, memilih pasangan hanya berdasarkan kecantikan atau ketampanan fisik juga termasuk nafsu. Hal itu sama-sama cenderung tidak akan membuat ikatan pernikahan berjalan lama.
Seperti yang telah diketahui bahwa kecantikan atau ketampanan hanya bersifat sementara. Kulit yang mulus akan berubah keriput, rambut yang hitam tergerai akan berubah memutih, badan yang langsing bagi para wanita biasanya akan berubah menjadi gendut usai melahirkan. Jika sudah demikian, biasanya akan timbul hal-hal yang dapat merusak keharmonisan pernikahan, misalnya suami mencari selingkuhan yang lebih muda atau sebaliknya.
Untuk itu, ada baiknya jika Anda mengubah kriteria pasangan yang ideal untuk Anda. Tambahkan kecantikan hati dan perilaku dalam daftar pencarian Anda. Hal tersebut niscaya tidak akan luntur oleh waktu.
Ada hal yang lebih menyedihkan, yaitu ketika pernikahan yang hanya didasari oleh rasa malu sebab pasangannya telah hamil terlebih dulu. Hal inilah yang saat ini banyak terjadi dan seolah-olah telah menjadi fenomena yang tak asing lagi bagi masyarakat kita untuk menikahkan anaknya yang telah hamil terlebih dulu.
Pernikahan yang mereka lakukan dulu bukanlah semacam penyelamatan nama baik keluarga atau pihak wanita yang telah berbadan dua. Pernikahan menjadi jalan untuk memperbaiki keadaan, mengoreksi kesalahan yang telah mereka lakukan dulu.
Selain salah menurut agama, pernikahan karena disebabkan hamil di luar ikatan sah juga salah menurut budaya serta adat. Pernikahan yang disebabkan keran hal itu hanya akan menimbulkan permasalahan di kemudian hari.
Rasa malu akan dibawa seumur hidup oleh pasangan maupun orangtua. Sungguh menyedihkan. Pernikahan yang sejatinya menghadirkan kebahagiaan justru hilang karena ulah dan nafsu sesaat.
Sekali lagi, bahwa persiapan pernikahan bukan hanya berkenaan dengan materi. Ada hal lebih penting dibanding itu semua, yakni persiapan mental. Bahwa Anda akan menjadi istri dan suami, orangtua dari anak-anak, dengan kata lain, tanggung jawab yang dipikul akan jauh lebih berat.
Hakikat Pernikahan
Sejatinya, pernikahan bukanlah hanya pesta pora, melampiaskan kegembiraan dan kemewahan dalam satu hari saja. Pernikahan bukanlah kesakralan saat akad nikah atau pemberkatan semata. Justru, kesakralannya terletak pada bagaimana kedua insan yang telah menyatu dalam bingkai pernikahan, bisa merefleksikan kesucian akad atau pemberkatan dalam menjalani kehidupan rumah tangga.
Toleransi, saling menghargai, dan bekerja sama menjadi kunci dalam membangun kehidupan rumah tangga. Semuanya bukan hanya terletak pada bagaimana kita menyikapi kehidupan rumah tangga, namun ditentukan pula bagaimana kita memosisikan diri sebagai suami atau istri bagi diri sendiri dan pasangan, serta ayah atau ibu bagi anak-anaknya. Pernikahan menunjukkan tanggung jawab yang naik satu tingkat dibandingkan saat Anda masih sendiri.
Itu sebabnya banyak pria atau wanita yang masih melajang meski usia mereka telah dianggap sangat cukup bahkan lebih dari mapan untuk menikah. Mereka memiliki pandangan lain terhadap sebuah pernikahan.
Bagi mereka, pernikahan bukan hanya memiliki pasangan seumur hidup, kemudian memiliki anak-anak, dan cucu kelak. Lebih dari itu, pernikahan merupakan jalan untuk membuatnya menjadi individu yang lebih baik yang menghasilkan anak-anak yang lebih baik dalam segala hal dibanding dengan dirinya.
Jika menikah hanya akan menghasilkan generasi yang memiliki kehidupan yang sama atau tak jauh beda dengan dirinya, maka pernikahan yang mereka lakukan termasuk gagal. Hanya menjadi kemestian atas dorongan omongan orang tua semata. Mereka memutuskan menunda pernikahan sebab mereka ingin memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya kelak.
Bagi mereka, memberi makanan yang baik bagi anak termasuk mudah. Namun memberi pendidikan yang baik untuk anak tidaklah mudah. Melalui pendidikan yang baik, anak-anaknya bisa mengubah nasib keluarganya. Melalui pendidikan yang baik, anak-anaknya bisa menjadi individu yang berguna bagi masyarakatnya. Itu sebabnya, banyak yang memutuskan menikah saat mereka telah memasuki usia 30-an sebab pada usia itu mereka telah benar-benar siap menjalani pernikahan seutuhnya.
Dikaitkan dengan permasalahan agama, hakikat pernikahan jauh lebih sakral. Bahwa pernikahan adalah ladang yang bisa ditanami amal sebanyak-banyaknya. Untuk para wanita, bagaimana caranya menjadi istri kebanggan suami, yang dapat menjaga nama baik keluarga, dan menjadi ibu yang baik untuk anak-anak. Begitupun dengan para pria, bahwa amal bisa diperoleh ketika bisa menjadi imam yang baik, memenuhi kebutuhan keluarga, dan menjadi ayah panutan bagi anak-anak.
Pernikahan bukanlah hanya dilihat dari persiapannya saja, bukanlah dilihat dari pestanya. Pernikahan yang dilangsungkan secara mewah dan megah bukan menjadi jaminan langgengnya sebuah ikatan pernikahan, begitupun dengan pernikahan yang sederhana, hal itu bukan jaminan bahwa pernikahan itu pasti tidak akan berlangsung lama.







