Pernikahan Dini, Haruskah Terjadi?

Salah Siapa ?
Pernikahan hakekatnya adalah penyatuan dua insan manusia laki – laki dan perempuan dalam ikatan yang suci. Ikatan yang mengandung arti sakral, janji setia di hadapan Tuhan dalam membina rumah tangga yang baik dan harmonis. Namun terkadang orang masih mempertanyakan “Sebenarnya apa sih yang dicari dalam pernikahan? Bukannya kalau oarang menikah itu tambah susah karena banyak masalah ?”. Menikah atau tidak tentu orang hidup itu pasti punya masalah. Lantas, bagaimana bila ada sanak keluarga atau orang di sekitar kita ingin atau terpaksa menikah dalam usia muda atau pernikahan dini?
Pernikahan bukan hanya sekadar pesta dan kesenangan sesaat. Sejatinya, bila seseorang memutuskan untuk menikah, hendaknya sudah siap, baik secara mental maupun secara material. Karena tatkala seseorang memasuki gerbang pernikahan, maka terbentang di hadapannya sejuta masalah yang harus siap dihadapi dan dicari jalan keluarnya.
Mencari siapa yang salah dan saling menyalahkan satu sama lain juga bukan jalan terbaik. Sekecil apapun orang tua, keluarga bahkan si anak juga ikut menyumbang kesalahan terjadinya pernikahan dini. Hendaknya semua pihak saling menyadari bahwa apapun alasannya, pernikahan dini membawa dampak negatif yang besar untuk semua pihak, terutama anak.
Motif pernikahan dini
Ekonomi
Faktor ekonomi adalah faktor yang sering dijadikan alasan pernikahan dini. Orang tua yang tak mampu membiayai hidup dan sekolah terkadang membuat sang anak memutuskan menikah di usia dini. Sejuta harapan sudah terbayang bahwa dengan menikah dini hidupnya akan tercukupi secara materi. Benarkah ? Bisa ya bisa tidak. Ya, jika suami sudah mapan secara materi, tapi jika tidak, maka justru akan menambah masalah. Jangankan untuk membantu keluarga, untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga baru pun pasti memerlukan dana besar dan membuat pusing kepala.
Solusi : Jika memang harus putus sekolah dan membantu ekonomi keluarga, mengapa tidak meminta anak untuk melakukan aktivitas ekonomi yang positif? Sesuaikan dengan minat dan bakat anak. Misalnya : cari dan beri anak modal untuk berdagang, masukkan ke sanggar tari, ikut program padat karya yang memberikan ketrampilan.
Pendidikan
Tugas seorang anak adalah sekolah dengan baik. Namun, terkadang faktor ekonomi menjadi alasan terjadinya putus sekolah. Karena tidak sekolah dan tak ada kegiatan positif yang dilakukan, maka ketika datang seseorang melamar, maka langsung diterima tanpa memikirkan efek ke depannya. Padahal dengan pendidikan, kehidupan anak jauh lebih baik. Sudah menjadi tugas orang tua agar anak mendapatkan pendidikan yang layak, seberat apapun masalah yang dihadapi.
Solusi : Biarkan anak mendapat kesempatan mengenyam pendidikan setinggi – tingginya. Beri akses dan cari sarana agar anak sibuk sekolah dan tidak ada kesempatan memikirkan hal – hal yang negatif.
MBA = Married By Accident
Seketat apapun orang tua melindungi anaknya dari pengaruh luar, tetap saja kena imbasnya walau sedikit. Dengan perkembangan jaman yang cepat, internet dan sarana media lain yang mudah diakses membuat anak terjerumus dalam pergaulan bebas. Terkadang orang tua tidak mampu mengikuti perkembangan jaman dan akhirnya terkaget – kaget dengan efeknya.
Apalagi istilah “ Pacaran “ sudah menjadi hal wajib untuk anak – anak muda. Ada perasaan malu dan minder bila tidak punya pacar. Karena terlanjur bebas dan asyik menjalin hubungan dengan lawan jenis, terkadang membuat anak lupa diri. Hamil di luar nikah adalah akibat yang sering terjadi dari pergaulan bebas. Karena malu dan dianggap aib, maka orang tua memutuskan menikahkan anaknya, padahal masih sekolah.
Solusi : Tidak ada solusi yang terbaik selain memberi kesempatan si jabang bayi menikmati dunia, walaupun dengan resiko menanggung malu atau anak harus cuti sekolah dulu. Setelah melahirkan, si ibu bisa melanjutkan sekolah dan untuk sementara orang tua lah yang membantu mengasuh si jabang bayi.
Mencegah Pergaulan Bebas
Karena takut anaknya melakukan hubungan yang tidak seharusnya dengan lawan jenis, maka orang tua memaksakan menikahkan anaknya. Alasan “ takut hamil “ dan “ zina” adalah alasan yang sering dipakai. Padahal, mungkin si anak sedang menikmati sekolah dan masa mudanya.
Solusi : Bekali anak dari rumah dengan aturan norma sosial dan nilai – nilai agama. Dengan penjelasan yang efektif dan dari hati ke hati, maka anak akan tahu akibat negatif bila terlalu jauh bergaul. Dan sebagai orang tua, kita juga membantu anak untuk melalui proses pendewasaan diri tanpa harus mengekangnya dengan doktrin/aturan yang kaku.
Efek Negatif
- Ekplositasi Anak ( Seks )
- Hilangnya kesempatan untuk mendapat pendidikan / sekolah
- Rentan terhadap penyakit kanker servik
- Mudah terjadi perceraian
- Pemaksaan akan kematangan dan kedewasaan cara berfikir anak
- Hilangnya masa muda
- Bunuh diri
- Terjadinya penyimpangan sosial
Walaupun tidak dianjurkan, namun dalam beberapa kasus ada sisi positif dari pernikahan dini yang bisa kita ambil :
- Membuat anak semangat belajar. Tentu dengan catatan suaminya tetap mendukung si anak melanjutkan sekolah walaupun sudah menikah
- Anak merasa bahagia karena sudah mampu mengangkat harkat hidup keluarga menjadi lebih layak
- Bila secara materi suami cukup atau bahkan kaya, maka si anak akan mendapat kesempatan melanjutkan sekolah ke jenjang kuliah.
- Orang tua merasa aman karena ada yang sudah bisa menjaga anaknya ( terutama bila orang tua si anak sudah tua dan sakit – sakitan ).
Pernikahan dini bak dua sisi mata uang. Mempunya efek domino yang tidak mudah untuk dijalankan. Namun, apapun keputusan yang diambil, hendaknya orang tua tetap mengutamakan kepentingan dan kebaikan anak. Apa artinya harta, pangkat dan nama baik bila hidup anak tidak bahagia?






