Perpustakaan Sekolah Dasar, Tempat Favorit Pelajar
Mengapa Ada Perpustakaan Sekolah?
Agar kegiatan belajar mengajar di sekolah berjalan lancar dan mendapatkan hasil yang maksimal, tentu saja membutuhkan sarana dan prasarana yang memadai. Termasuk pengadaan sarana perpustakaan. Tujuan didirikan perpustakaan sekolah tentu saja agar minat baca anak meningkat. Selain itu, perpustakaan juga merupakan sumber pengayaan materi ajar bagi para pendidik dan peserta didik. Karena itu, buku-buku yang dikoleksinya pun haruslah beragam.
Ruangan yang Asyik
Bagaimana agar perpustakaan menjadi sarana yang mampu meningkatkan minat baca anak? Tentu saja isi perpustakaan itu harus menarik. Pertama yang anak lihat adalah penampilan fisik dari perpustakaan itu. Bukan ruangan kumuh di sudut bangunan sekolah, tapi sebuah ruangan yang menjanjikan kesenangan di dalamnya. Warna dinding yang terang, tata ruang yang menarik dan hiasan dinding yang menarik. Karena perpustakaan ini untuk anak-anak SD, tentu saja harius diperhatikan karakter dari anak SD itu sendiri.
Mereka yang lincah dan tak bisa duduk lama, alangkah lebih nyaman dengan menyediakan karpet besar berwarna mencolok dengan bantal-bantal besar untuk kenyamanan membaca. Seperti ruang baca mereka di rumah, yang membuat betah para penghuninya.
Tak perlu meja kursi yang tertutup rapat di kanan kirinya, seakan tak mau diganggu. Rak-rak tempat buku juga dibuat warna warni dan tingginya tak melebihi rata-rata tinggi badan mereka. Ini sangat memudahkan mereka untuk mencari dan mengambil buku yang dinginkan.
Perlu juga diadakan hiasan dinding tokoh kartun atau poster buku yang sedang ngetop, atau boleh juga karya anak-anak sendiri. Dan yang tak kalah penting adalah ruangan perpustakaan yang cukup besar dengan sirkulasi udara yang cukup, sinar matahari masuk dengan leluasa.
Ini termasuk faktor penting, karena sekaligus sebagai langkah perawatan buku agar tidak mudah rusak karena udara lembab.
Materi yang Beragam
Dilihat dari sisi materi, perpustakaan SD akan menjadi lebih baik jika dilengkapi dengan berbagai buku ensiklopedi anak. Di perpustakaan, anak-anak tidak hanya melulu membaca dan meminjam buku, tapi juga menyediakan ruang audio visual. Dengan demikian anak-anak bisa mendapatkan sumber belajar degan cara yang lain.
Atau, bisa juga anak-anak diberi kebebasan untuk mengakses internet (tentu saja setelah yakin aman dari situs-situs yang tidak pada tempatnya). Koran dan majalah anak juga selalu tersedia edisi yang terbaru.
Lingkungan yang Ramah
Ada hal yang kadang terlupakan oleh pihak sekolah, yaitu terkait petugas perpustakaan atau pustakawan. Petugas perpustakaan yang ditunjuk kerap orang yang terlalu tegas (kata halus dari judes), tidak ramah (sedikit galak) dan jarang tersenyum. Padahal yang dihadapinya adalah anak-anak SD yang usianya kisaran 6-12 th.
Pustakawan model begini pasti dibenci anak-anak. Jika sudah dibenci, maka anak-anak akan tidak menghargai profesinya, dan pada akhirnya perpustakaan tak ubahnya seperti gudang buku dengan penjaga yang bermuka masam. Barangkali hanya berteman dengan tikus dan kecoak saja. Sayang sekali, bukan?
Library Fundrasing
Pengadaan materi untuk koleksi perpustakaan biasanya menjadi tugas sekolah dan dinas pendidikan untuk sekolah negeri, atau yayasan untuk sekolah swasta. Namun, jika sekolah berani merangkul pihak swasta (penerbit, misalnya) atau orang tua murid, hasilnya bisa jadi akan lebih baik dari yang diharapkan. Misalnya dengan mengadakan Library Fundrasing. Anak-anak dan orang tua secara aktif bersama-sama melakukan kegiatan amal mengumpulkan dana untuk perpustakaan.
Tempat Favorit
Apapun caranya, perpustakaan untuk anak SD harus menarik untuk dikunjungi, bahkan digandrungi anak-anak. Apalagi jika perpustakaan dijadikan sebagai markas mereka berkumpul sesaat sebelum pulang sekolah, sambil menunggu jemputan datang. Kerjasama dengan guru kelas juga sangat dianjurkan, misalnya saat pelajaran sosial anak-anak diharuskan mencari sumber materi pelajaran di perpustakaan. Dengan begitu, anak-anak akan terbiasa melakukan studi literature. Dan anggapan bahwa “buku itu adalah gudang ilmu” akan melekat dalam kesehariannya.
Merekapun akan menemukan banyak hal dari berbagai literatur yang ditemukan di perpustakaan. Ini membiasakan mereka untuk berdiskusi atau berdebat dengan teman, namun mereka sudah punya sumber materi yang jelas yang didapat di perpustakaan. Dengan begitu, anak-anak akan merasa terbiasa dan nyaman dengan suasana perpustakaan.
“Dilarang berbicara di perpustakaan!” adalah pengumuman kuno yang harus segera diganti dengan : “Silakan datang ke perpustakaan beramai-ramai!”






