Pernak-pernik Pertandingan Sepak Bola Indonesia

Petandingan sepak bola Indonesia selalu menghadirkan tontonan sekaligus ironi. Dua hal itu seolah tak mau dilepaskan satu dengan lainnya. Pertandingan yang menghibur terutama bagi para fans setia tiap-tiap klub. Dan ironi, bagi sebuah pertandingan yang selalu diwarnai dengan kericuhan baik antar pemain maupun antar penonton.
Dalam setiap momen pertandingan sepak bola Indonesia selalu dijumpai trik dan intrik yang diperagakan para pemain untuk memenangkan permainan sekaligus menghibur petonton yang hadir dan yang menonton melalui siaran udara.
Antusiasme penonton selalu terlihat ketika tim-tim kesayangan berlaga di lapangan. Tercatat, ada sejumlah tim-tim besar seperti Persib Bandung, Persija Jakarta, Arema Malang, Persebaaya Surabaya, dan PSM Makassar yang mempunyai fans fanatik terhadap klubnya masing-masing.
Realitas yang Irasional
Memang sulit disangkal sepak bola sebagai ajang pemersatu berbagai pluritas tak terbatas. Dimulai dari suku, bahasa, agama, warna kulit, etnis, dsb seolah membaur karena satu kepentingan: membela klub kesayangan. Di berbagai belahan dunia manapun, sepak bola mampu menembus sekat-sekat itu sehingga yang pada awalnya bangsa Afrika begitu sengsara karena rasisme yang kerapkali dikumandangkan bangsa kulit putih Eropa, bisa pupus, yang salah satunya disebabkan oleh sepak bola.
Jika sudah berbicara sepak bola, hal yang irasonal bisa dengan mudah dilakukan tanpa kalkulasi yang memerlukan nilai-nilai penggunaan rasio. Bisa Anda bayangkan, Bondo Nekat (Bonek), sebutan untuk suporter fanatik dari kesebelasan Persebaya Surabaya bisa nekat ke Jakarta atau Bandung dengan hanya bermodalkan rokok sebungkus dan uang tak lebih dari Rp. 20 ribu. Dengan berbuat anarkis, mereka biasa menumpang kereta dari Surabaya ke kota tujuan timnya bertanding.
Perilaku-perilaku irasional juga bisa terlihat ketika seorang penonton memasuki lapangan pertandingan hanya karena kecewa kepada timnya yang kalah. Atau melempari pemain lawan dengan botol air minum mineral sebagai implikasi dari kekesalannya karena timnya kalah. Biasanya jika sudah demikian, wasit lah yang sangat mudah dikambinghitamkan.
Di titik itulah bentuk irasional terjadi, dimana sesuatu yang secara norma “haram” untuk dilakukan, namun karena dorongan luapan kekesalan dan marah sebagai akibat dari rasa cinta yang tak terbalaskan, karena timnya kalah atau main diluar harapan, dsb misalnya, maka apapun akan dilakukannya.
Sepak Bola dan Wanita
Jangan dikira, sepak bola hanya diasosiasikan dengan kaum pria saja. Ternyata banyak wanita di negeri ini yang juga menyukai sepak bola. Contohnya misal, dulu ketika masih di kampung sudah menjadi agenda rutin setiap tahun di bulan Agustus selalu diadakan pertandingan sepak bola tingkat Rukun Warga (RW).
Mayoritas penduduk kampung tumplek ke lapangan, tak terkecuali wanita. Malah mungkin jumlah penonton laki-laki dan wanita bisa dibilang hampir sama jumlahnya. Begitu juga dengan pertandingan-pertandingan Liga Super yang selalu saja terlihat banyak wanita juga yang menonton langsung di lapangan untuk menyemarakkan pertandingan.
Para penonton wanita ini seakan tak mau ketinggalan dengan prianya. Mereka berjingkrak, menari dan bernyanyi dengan yel-yel yang dikoordinasikan untuk mendukung penuh tim kesayangannya. Bahkan, lebih dari itu, ternyata ada juga beberapa orang wanita yang mempunyai kedudukan dalam sebuah tim sepak bola, misalnya menjabat sebagai manajer tim atau asisten pelatih.
Perlu Pembenahan
Melihat kondisi Liga Super Indonesia kini, hemat saya perlu dilakukan beberapa perbaikan supaya iklim liga yang dihaharapkan bisa berimbas pada kualitas tim nasional bisa menjadi lebih baik dan kompetitif. Yakni:
- Badan liga sebagai otoritas paling berwenang dalam menangani kompetisi secara nasional harus menindak tegas sebuah tim yang pendukungnya selalu berbuat rusuh. Yang selama ini terjadi kerap keputusan komisi disiplin PSSI bersifat lunak dan kurang memberikan efek jera.
- Lakukan pembinaan pemain usia dini sejak sekarang untuk regenerasi pemain. Mereka yang berbakat bisa saja dibuatkan satu tim sebagai anggota “khusus” di Liga Super.
- Batasi pemain asing hanya maksimal tiga orang supaya bisa memberikan kesempatan yang lebih luas kepada pemain-pemian lokal untuk berkembang secara maksimal.
- Berikan reward dan punishment kepada pemain, pelatih, ofisial, dan penonton sesuai dengan prestasi atau pelanggaran yang pernah diperbuatnya.
- Tempatkan orang-orang yang reformis dan visioner di internal PSSI untuk menyokong perombakan total di tubuh persepakbolaan nasional.
- Jauhkan PSSI dari berbagai kepentingan politik.






