Pertunjukan Gamelan Degung: Kreativitas Masyarakat Sunda
Ilustrasi pertunjukan gamelan
Bagi masyarakat Sunda, pertunjukan gamelan degung sudah tak asing lagi di telinga. Gamelan merupakan ensembel musik yang lebih mengedepankan atau menonjolkan metalofon, gambang, gendang, serta gong. Karena alat atau instrumennya selalu dimainkan secara bersama sebagai satu kesatuan yang utuh, istilah gamelan pun diberikan sebagai penyebutan.
Menurut asal katanya, gamelan diambil dari bahasa Jawa, yaitu gamel yang bermakna ‘memukul atau menabuh’ ditambah dengan akhiran –an untuk membentuk kata benda yang merujuk pada alatnya. Orkes gamelan tidak hanya ada di Pulau Jawa. Beberapa daerah, seperti Madura, Bali, dan Lombok, pun mengenal gamelan dalam jenis, ukuran, serta bentuk ensembel berbeda.
Pertunjukan Gamelan Degung
Ketika Anda menghadiri sebuah resepsi pernikahan adat Sunda, pertunjukan gamelan degung dapat ditemui di sana. Meskipun tidak sebatas seni pengiring perkawinan, pertunjukan degung tak bisa lepas dari ritual sakral tersebut. Pertunjukan gamelan degung identik dengan lantunan tembang-tembang Sunda oleh sang juru kawih atau sinden.
Degung merupakan kumpulan alat musik Sunda yang dimainkan secara bersama-sama. Penyanyi degung harus mampu menyelaraskan tempo dengan gamelan yang dimainkan. Bernyanyi diiringi gamelan degung sangatlah sulit. Perlu kejelian khusus untuk menentukan ketukan awal masuk lagu. Alunan instrumen degung yang lembut semakin memikat dengan iringan kecapi dan suling.
Pada masa awal perkembangannya, sekitar 1950an, para penyanyi dalam gamelan degung merupakan penyanyi dari kalangan penyanyi gamelan salendro pelog, yaitu pesinden atau ronggeng. Namun, para penyanyi degung kini, sejak 1970an, mayoritas berasal dari kalangan mamaos, yaitu penyanyi tembang Sunda Cianjuran. Mamaos ini terdiri atas pria dan wanita.
Gamelan Degung Ciri Khas Masyarakat Jawa Barat
Banyak gamelan yang tumbuh dan berkembang di wilayah Jawa Barat. Misalnya, gamelan salendro, gamelan pelog, dan gamelan degung. Beberapa pertunjukan, seperti tari, wayang, jaipongan, dan kliningan, biasa diiringi oleh gamelan pelog. Gamelan salendro pun memiliki fungsi yang hampir sama, namun kurang berkembang sehingga tidak terlalu dikenal masyarakat.
Tanpa mengesampingkan dua gamelan tersebut, gamelan degung dirasa cukup mewakili ciri khas masyarakat Jawa Barat. Degung adalah salah satu jenis gamelan yang sangat khas dan merupakan hasil kreativitas asli masyarakat Sunda. Degung mulai berkembang sekitar akhir abad ke-18 atau awal abad ke-19. Kini, perangkat gamelan degung semakin berkembang.
Dalam bukunya yang berjudul Toonkunst van Java (1934), Jaap Kunst mendata gamelan di seluruh Pulau Jawa. Data jumlah gamelan yang didapatkan adalah sebagai berikut.
• 5 perangkat di Bandung.
• 3 perangkat di Sumedang.
• 1 perangkat di Cianjur.
• 1 perangkat di Ciamis.
• 1 perangkat di Kasepuhan.
• 1 perangkat di Kanoman.
• 1 perangkat di Darmaraja.
• 1 perangkat di Banjar.
• 1 perangkat di Singaparna.
Itulah ulasan mengenai gamelan degung serta gamelan sebagai perangkat utamanya. Semoga kecintaan Anda terhadap budaya dan seni Sunda akan terus meningkat.
Pertunjukan Gamelan Sebagai Bukti Manusia Adalah Makhluk Musikal
Gamelan yang terdiri atas beberapa perangkat ini membuktikan kepada kita selaku masyarakat berbudaya bahwa manusia merupakan makhluk yang musikal. Bukan hanya dilihat dari ragam alat musik yang dimainkan saja, tapi juga dari ritme kehidupan yang dibentuk secara harmonis. Dalam diri manusia bahkan mengalir darah dan energi dengan cara yang serupa dengan musik.
Dengan demikian, musik gamelan merupakan salah satu musik tradisional yang dapat diterima eksistensinya hingga ke dunia internasional. Di berbagai negara bahkan gamelan telah dijadikan salah satu bahan ajar mengenai pendidikan berkarakter pada anak-anak di sekolah dasar.
Bukan hanya bagaimana memainkan perangkat musik yang terdapat pada pertunjukan gamelan saja, nilai-nilai filosofis yang hidup di dalamnya pun turut dipelajari sebagai harmonisasi antara manusia dengan pencipta dan manusia dengan manusia lainnya dalam kehidupan sosial.
Pada abad pertengahan, gamelan dijadikan sebagai salah satu media untuk pemujaan eksternal dan internal yang mengungkapkan makna esoterik yang berhubungan dengan cakra, panca indera, dan rasa. Ketiga hal tersebut merupakan elemen penting dalam kehidupan spiritual manusia yang wajib ada untuk bisa memahami hakikat kehidupan.
Gamelan dijadikan sebagai media untuk mencapai perjalanan spiritual dengan melakukan penjernihan pikiran, hati, dan jiwa manusia yang pada akhirnya bisa menstabilkan kondisi psikologis manusia. Hal ini juga bahkan dibuktikan dengan adanya pengaruh musik pada air. Musik yang baik akan membuat air membentuk kristal heksagonal yang indah. Dengan demikian, diri manusia pun bisa mendapatkan pengaruh yang baik dari musik yang indah.
Sebuah lembaga penelitian pernah menemukan bahwa gamelan sangat baik untuk pertumbuhan dan perkembangan otak karena bisa menghasilkan gelombang suara supersonic yang mampu menstimulasi peningkatan produksi hormon-hormon penting di dalam otak. Stimulasinya bahkan lebih baik dibandingkan dengan stimulasi yang dihasilkan dari musik klasik yang selama ini dipergunakan untuk meningkatkan perkembangan otak pada janin.
Pertunjukan Gamelan di Ranah Kebudayaan Indonesia
Dewasa ini, sangat jarang anak muda menaruh perhatian mereka pada pertunjukan seni tradisional gamelan. Bukan hanya karena dianggap sebagai sesuatu yang kolot, mereka pun bahkan menganggap bahwa gamelan tidak menarik untuk didengar. Hal tersebut jelas menjadi suatu ironi yang mempertanyakan di mana letak keunggulan gamelan dibandingkan dengan jenis musik modern lainnya.
Sementara itu, orang-orang asing bergelut dengan dunia pengetahuan sehingga bisa menemukan manfaat yang sangat baik bagi perkembangan otak dan perkembangan kepribadian bagi manusia dengan penelitian-penelitian yang dilakukannya.
Dengan demikian, ada beberapa faktor yang berpengaruh terhadap menurunnya intensitas pertunjukan gamelan di Indonesia, yakni adanya pakem tradisional yang tidak dimasuki oleh pakem baru sebagai adaptasi budaya; minimnya peneliti yang menghasilkan riset tentang seni tradisi gamelan; gamelan hanya dipersepsikan untuk orang dewasa sehingga komposisi musik bagi anak-anak tidak diproduksi; dan hegemoni yang kuat dari modernisasi sehingga seni tradisi kalah dengan seni modern.
Nilai-nilai yang Terkandung dalam Seni Tradisi Gamelan
Berikut adalah beberapa nilai yang terdapat di dalam seni pertunjukan gamelan :
1. Nilai Estetika
Seni pertunjukan ini memiliki nilai estetika yang tinggi. Mulai dari banyaknya alat yang harus dimainkan oleh niyaga, hingga banyaknya pesinden dengan susunan yang terdiri atas alat-alat berbahan logam. Sementara itu, alat lainnya berupa alat gesek dan alat pukul yang terbuat dari kayu dan kawat. Keindahan yang terdapat di dalamnya dihasilkan dari banyaknya harmoni yang dipersatukan.
2. Nilai Historis
Gamelan memiliki nilai sejarah yang panjang sehingga perkembangannya mengalami banyak perubahan, baik dalam cara pembuatannya maupun kualitas yang dihasilkannya. Gamelan yang biasa digunakan bagi kalangan istana ini bahkan sudah menjadi sesuatu yang langka karena dianggap sebagai benda bersejarah.
3. Nilai Budaya
Secara budaya, tentu gamelan memiliki nilai yang adiluhung karena telah diwariskan oleh leluhur kita dengan pakem-pakem tertentu yang bernilai filosofis. Gamelan tidak hanya dianggap sebagai seni tradisi yang enak untuk didengar atau bernilai estetis, tapi juga memiliki nilai lain yang juga penting dalam kehidupan masyarakat yang berbudaya.
4. Nilai Spiritual
Nilai spiritual sebagai nilai yang bersifat adiluhung ini merupakan representasi dari kedekatan Tuhan dengan manusia. Beragam hal yang berhubungan dengan ketuhanan selalu dilakukan sebelum acara pertunjukan gamelan dilakukan. Bahkan perangkat gamelan pun dilarang untuk dilangkahi dengan adanya nilai-nilai mistis. Oleh sebab itulah gamelan sering digunakan untuk mengiringi prosesi-prosesi yang sakral dan religius.
5. Nilai Demokrasi
Adanya nilai-nilai demokratis dalam gamelan tercermin dari berbagai fungsi seluruh alat yang digunakan. Ada yang berfungsi sebagai pengendali, ada yang berfungsi sebagai pemberhentian atau pengawasan dalam permainan, ada yang menutup irama musik serta memberikan keseimbangan pada musik, dan sebagian besar alat lain yang berfungsi secara harmonis untuk menghasilkan nilai yang seimbang.
6. Nilai Sosial
Nilai sosial yang dihasilkan dari pertunjukan ini adalah adanya kebersamaan dan tidak saling mendahului antara pemain gamelan yang satu dengan pemain gamelan yang lainnya. Bahkan pada zaman wali songo pun, gamelan dijadikan sebagai media untuk bisa menjalin hubungan sosial yang baik antarumat beragama.

