logo anne ahira
Cari Artikel:  
Siapa Anne Ahira
Asian Brain Support

AnneAhira.com    Sosial & Budaya    Seni    Artikel Umum Seni    Pertunjukan Musik Tradisional

Belajar Bahasa dan Budaya Lewat Pertunjukan Musik Tradisional

Oleh: AnneAhira.com Content Team

Pertunjukan musik tradisional merupakan salah satu bentuk warisan budaya yang dimiliki oleh sebuah bangsa. Hal tersebut bisa sekaligus menjadi identitas budaya sebuah bangsa tersebut.

Bukan hanya antar bangsa, pertunjukan musik tradisional nyatanya memang khas di setiap daerah. Sebut saja pertunjukan musik tradisional yang ada di wilayah Indonesia. Dari ujung barat wilayah Indonesia hingga timur, pertunjukan musik tradisional selalu menampilkan kekhasannya sendiri.

Musik adalah bahasa universal, apapun bentuk musiknya. Musik tradisional yang agak jarang terdengar sebenarnya dapat dijadikan sarana untuk memperkenalkan dan memperdalam bahasa dan budaya sehingga pertunjukan musik tradisional tidak dilihat sebagai hiburan semata.

Perkembangan zaman nyatanya juga berimbas pada seni musik. Musik-musik yang datang karena pengaruh dari budaya luar negeri pun sudah sangat marak di Indonesia. Meninggalkan "ritual" pertunjukan musik tradisional yang sudah lebih dulu ada.

Kenyataannya, musik-musik beraliran seperti pop, rock, jazz, dan blues lebih sering didengar dan mendapat perhatian masyarakat belakangan ini. Berbeda dengan pertunjukan musik tradisional yang meskipun masih memiliki penggemar tetapi jumlahnya tidak sebanyak musik-musik mancanegara tersebut.

Perubahan ini tidak lantas menjadi kesalahan siapapun. Selera terhadap musik nyatanya memang mudah berubah. Tidak heran jika sering kita dengan istilah musisi musiman. Sekali muncul, nge-hits, lalu tenggelam. Begitupun dengan pertunjukan musik tradisional. Ciri khas tradisional bagi sebagian orang mungkin dirasa sudah cukup ketinggalan zaman.

Selain itu pertunjukan seni musik tradisional juga tidak bisa dinikmati setiap waktu. Sehingga, alasan untuk tidak terlalu sering mendengarkan musik tradisional pun bertambah. Pertunjukan musik tradisional biasanya hanya dilakukan saat-saat tertentu, terutama saat sedang digelar sebuah acara tradisional.

Jadi jelas, bahwa seni musik mancanegara tidak bisa dibandingkan dengan pertunjukan musik tradisional. Kedua jenis musik tersebut nyatanya memang memiliki "ranah" yang berbeda.

Pertunjukan Musik Tradisional - Bahasa dan Budaya dalam Lagu Daerah Sumatra Selatan

Seperti yang sudah diutarakan di atas bahwa pertunjukan musik tradisional di Indonesia berbeda di setiap wilayahnya. Salah satu yang cukup menarik perhatian karena kekhasannya adalah pertunjukan musik tradisional di kawasan Sumatera Selatan.

Orang Sumatera Selatan tidak hanya wong Palembang tapi juga orang Muara Enim, orang Tanjung Raja, orang Komering, orang Perjito, dan lain-lain yang mempunyai bahasa dan adat istiadat yang berbeda. Seorang pemerhati bahasa pernah bergurau bahwa ada paling tidak ada 385 jenis bahasa dari Sumatera Selatan. Sementara ini tak ada yang membantahnya karena saking banyaknya ragam bahasa di Sumatera Selatan yang mempunyai ratusan kecamatan tersebut. Bahasa-bahasa yang berbeda tersebut masih dapat kita dengarkan ketika menyaksikan pertunjukan musik tradisional khas Sumatera Selatan.

Namun, ada satu hal yang sangat disenangi oleh orang Sumatera Selatan, yaitu pertunjukan organ tunggal. Organ tunggal ini biasa hadir di acara pernikahan, aqiqah, sunatan, dan acara seremonial lainnya. Lagu dan musik yang dimainkan sangat beragam, mulai dari yang tradisional hingga musik dangdut. Perpaduan musik masa kini dengan musik tradisional menghasilkan sebuah seni musik yang cukup banyak diminati oleh masyarakat.

Kesenangan akan menonton pertunjukan musik tradisional atau memainkan alat musik tercermin dalam lirik lagu Gending Sriwijaya berikut ini:

Di kala 'ku merindukan keluhuran dulu kala. Kutembangkan nyanyi dari lagu Gending Sriwijaya. Dalam seni kunikmati lagi jaman bahagia. Kuciptakan kembali dari kandungan Maha Kala. Sriwijaya dengan Asrama Agung Sang Maha Guru. Tutur sabda Dharma pala Khirti Dharma Khirti. Berkumandang dari puncaknya Si. Guntang Maha Meru. Menaburkan tuntunan suci Gautama Buddha sakti.

Pertunjukan Musik Tradisional - Lagu Daerah Sumatera Selatan

Bila lagu Gending Sriwijaya berbahasa Indonesia, lain lagi dengan lagu Dek Sangke dari Muara Enim. Lagu ini memperlihatkan bahwa pantun merupakan bagian dari budaya menyampaikan pendapat.Pantun yang terbalut musik menjadi sebuah pertunjukan musik tradisional khas Sumatera Selatan yang tidak semua kebudayaan daerah memilikinya.

Terkadang pantun juga dipakai untuk menyindir seseorang. Perhatikan lirik lagu Dek Sangke (Tak Kusangka) berikut ini.

Dek sangke aku dek sangke (Tak Kusangka). Awak tunak ngaku juare (Aku kira pendiam kok mengaku hebat). Alamat badan kan sare (bakalan sengsara). Akhirnya masuk penjare (akhirnya masuk penjara).

Dek sangke aku dek sangke. Cempedak babuah nangke (Tak kusangka cempedak berbuah nagka). Dek sangke aku dek sangke. Cempedak babuah nangke. Dek sangke aku dek sangke. Ujiku bujang tak batanye tua bangke (aku kira bujang tak tahunya sudah tua). Anaknye lah gadis gale (anaknya sudah besar-besar). Dek sangke gadis tegile (tak kusangka banyak gadis tergila-gila).

Dek sangke aku dek sangke. Cempedak babuah nangke. Dek sangke. aku dek sangke. Cempedak babuah nangke. Dek sangke aku dek sangke. Ujiku gadis tak batanye jande mude (aku kira gadis tak tahunya janda muda). Anaknye lah ade tige (anaknya ada tiga). Dak sangke bujang tegile (tak kusangka bujang tergila-gila).

Sebenarnya, lirik lagu ini masih panjang dan masih bisa diperpanjang sesuai dengan kebutuhan. Lagu Dek Sangke ini merupakan kritik sosial terhadap kehidupan masyarakat yang sering mengejutkan. Tidak diketahui kapan lagu ini diciptakan. Tapi lirik lagu benar-benar masih sesuai dengan keadaan saat ini. Lirik-lirik lagu yang terdapat dalam musik tradisional dan sering diperdengarkan ketika digelar pertunjukan musik tradisional memang cenderung lebih bersifat humanis, sosial, dan apa adanya.

Bagaimana dengan lagu Kabile-bile berikut ini?

Kabile-bile mangkeku lege (Kapan aku lega?). Kebile-bile kuade kance (Kapan aku mempunyai kawan?). Kabile nian jagunglah putih (Kapan jagung akan matang?). Putih dik putih kukendam kina (Mau matang atau tidak, akan kutunggu). Kebile nian ibung kah nulih (Kapan ibu akan pulang?). Nulih dik nulih kudendam kina (mau pulang atau tidak tetap kunanti).

Kabile nian mampat begune (kapan aku berguna?). Mangke dik payah ku nandan lagi (biar tidak capek, aku main lagi). Kebile nian sifat begune. Mangke dik payah ku midang lagi (biar tidak capek aku jalan lagi). Oh, malang nian nasib 'mbak ini (malangnya nasibku). Bilangan jeme lah laut gale (semua orang sudah pergi). Alahkah sedih ai tumbak ini (sedihnya aku). Aku 'mbak ini dide bekance (aku tak mempunyai teman).

Lagu ini mengungkapkan perasaan seseorang yang gelisah karena merasa ditinggalkan. Kedua lagu Dek Sangke dan Kabile-bile tersebut mempunyai akar bahasa yang berbeda. Hanya dari dua lagu itu saja sudah bisa dilihat betapa beragamnya bahasa apalagi logat yang ada di Sumatera Selatan. Dari pertunjukan musik tradisional Sumatera Selatan, sekaligus kita jadi ikut melestarikan bahasa khas Sumatera Selatan.

Pertunjukan Musik Tradisional - Budaya dan Bahasa dalam Musik Tradisional

Tidak bisa tidak bahwa ketika membicarakan sesuatu yang tradisional, hal-hal yang berbau tradisional pasti akan tersirat. Begitupun ketika membicarakan pertunjukan musik tradisional. Pertunjukan musik tradisional bisa jadi tidak melulu membicarakan alat musik tradisional, tapi lebih luas daripada itu.

Hal yang sangat identik dengan pertunjukan musik tradisional antara lain adalah bahasa dan budaya tradisional sebuah daerah itu sendiri. Bahasa-bahasa tradisional setiap daerah pasti selalu terangkum indah dalam balutan nada tradisional yang juga indah.

Selain bahasa, budaya sebuah daerah juga ikut tergambarkan dengan jelas. Pertunjukan musik tradisional seringkali mengiringi sebuah acara adat, dan itulah yang dimaksud dengan pertunjukan musik tradisional sebagai bagian dari sebuah budaya.

Tolong SHARE
artikel ini
Share
Share
Nama:
Email:
Komentar:
    
Catatan : Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, jangan menggunakan terlalu banyak singkatan seperti SMS. Setiap komentar memerlukan persetujuan moderator.

Anne Ahira - Asian Brain on Facebook
Artikel Terkait
  • Hal-Hal Pokok dalam Proposal Pertunjukan Musik
  • Kekhasan Motif Ukiran Kayu
  • Tarian Indonesia dari Masa ke Masa
  • Perihal Seni Kerajinan Anyaman
  • Pertunjukkan Barongsai Versus Pertunjukkan Kuda Lumping
  • Unsur dan Teknik Ukiran Indonesia
  • Kesenian Jawa Barat – Keindahan yang Diwakilkan Oleh Tarian Tradisional
Share

facebook

Twitter

Linkedin


Beranda | Kontak Kami | Privacy | Artikel Sitemap | Sitemap | RSS Feeds | Bisnis Online

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA