logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Sosial & Budaya    Seni    Seni Kontemporer

Ngayogjazz, Pertunjukan Seni Nan Sederhana


Ilustrasi pertunjukan seni 

Pertunjukan seni memang selalu menarik untuk dilihat. Beragam bentuk idealisme seni biasanya akan menyatu dan membaur. Seni tentunya juga memiliki banyak pilihan. Pilihan itu bergantung pada masing-masing individu. Pengaruh lingkungan memainkan peranan yang sangat penting dalam hal ini. Pengaruh itu akan memberikan warna pada pagelaran yang akan diadakan. Salah satunya adalah seni dalam musik jazz. Musik jazz yang biasanya identik di kalangan orang berduit, tapi kali ini dibawa dalam nuansa dan balutan yang sederhana. Acara pertunjukan  musik jazz ini diberi nama Ngayogjazz.

Yogya Ngejazz

Dari nama pagelaran seni ini sudah diketahui di mana diselenggarakannya. Yogyakarta, sebuah kota dengan nuansa pedesaan dan beragam macam seniman bermukim di kota pelajar ini, menyelenggarakan satu pagelaran musik jazz. Selama ini orang sudah banyak tahu tentang Jakjazz yang sudah mendunia itu. Kini giliran kota dengan nuansa kerajaan ini membuat satu pertunjukan yang mungkin lain daripada yang lain. Bagaimanapun, Yogyakarta tetap berbeda dan tidak bisa disamakan dengan pegelaran yang diadakan di kota lain yang ada di nusantara.

Tujuan dibuatnya pertunjukan jazz ini salah satunya adalah mendekatkan musik jazz di kalangan masyarakat sekaligus menghilangkan sebuah anggapan bahwa musik jazz hanya untuk dinikmati oleh masyarakat kelas atas. Ngayogjazz sendiri diprakasai oleh seniman kawakan Djaduk Ferianto. Seorang Djaduk Ferianto yang telah begitu banyak makan garam pentas seni dalam berbagai ragam terutama pertunjukan yang melibatkan alat musik tradisional, mampu menggerakkan berbagai kalangan untuk mensukseskan pergelaran seni satu ini.

Pemilihan tempat yang dianggap nyaman adalah salah satu hal yang membuat pagelaran satu ini menjadi sesuatu yang berbeda. Sama dengan pertunjukan musik jazz yang diselenggarakan di atas gunung Bromo, Jawa Timur yang memberikan nuansa berbeda. Pagelaran musik jazz ini juga ingin memberikan suasana lain dalam hal menikmati jazz yang memang sangat khas itu. Kalau bermain di udara pegunungan, para pemusik harus melakukan beberapa hal agar tangannya tidak kaku yang akan membuat nada-nada sumbang, di Ngayogjazz ini, pemain hanya harus menyesuaikan diri dengan suasana Yogya yang adem dan tentram.

Djaduk melihat musik jazz adalah sesuatu yang universal, bisa dinikmati siapa saja tanpa ada pembatasan, seperti halnya sejarah musik jazz yang mampu menggabungkan dan menyatukan berbagai macam bentuk perbedaan yang ada. Tidak heran kalau ia berminat menghadirkan pagelaran musik satu ini di kota kelahirannya. Ia yakin pagelaran musik jazz akan memberikan pengaruh yang baru kepada para seniman muda dan anak-anak yang selama ini mungkin belum mengetahui kalau ada musik jazz yang bisa juga dinikmati sambil belajar.

Sederhana Dalam Rupa

Ngayogjazz dibuat sebagai sebuah pertunjukan seni yang memang benar-benar sederhana. Pertunjukan ini sudah dimulai sejak 2006. "Hal sederhana" yang dimaksud di sini adalah dengan konsepnya. Pagelaran seni Ngayogjazz selalu diadakan di Bantul, Yogjakarta. Bantul adalah sebuah kota sederhana di Yogyakarta yang jauh dari hingar bingar keramaian kota. Persawahan masih bisa terlihat di tepi jalan dengan irigasi yang teratur dan baik. Rumpun bambu pun masih sering terlihat dengan dahan-dahannya yang seolah melambaikan tangan mengajak menari sering dengan tiupan angin.

Aliran air sungai yang jernih dengan bentuk rumah yang masih sangat sederhana dan masih dalam bentuk aslinya, masih juga berderet sejajar  di perkampungan yang asri. Setelah gempa 2006 yang melanda Yogyakarta yang membuat bagitu banyak masyarakat Bantul yang menjadi korban, ternyata tidak membuat masyarakatnya berhenti berkarya dan berhenti membangun kembali peradaban mereka yang sempat porak poranda itu. Mereka terus bangkit dan berusaha sekuat tenaga membuat kehidupannya normal lagi seperti sedia kala. Inilah salah satu kekuatan yang dimiliki oleh orang Bantul.

Perlu diketahui bahwa, bupati Bantul melarang berdirinya mini market modern. Hal ini dilakukan untuk melindungi para pedagang tradisional yang terkadang telah berusia sangat lanjut. Ketiadaan mini market modern ini malah semakin mengokohkan keberadaan kota Bantul sebagai salah satu kota yang asri dan masih seperti yang dulu. Ciri pedesaan dan suasana yang sangat nyaman itu tetap saja ada. Siapa pun yang datang ke Bantul akan bisa merasakan suasana yang sangat bersahabat dengan alam itu.

Dalam alam yang sederhana ini, Ngayogjazz hadir dengan suasana yang tak kalah sederhananya. Selain itu, dalam pertunjukan  Ngayogjazz ini juga ditampilkan sebuah karakteristik lokal yang berkaitan dengan seni. Pada 2008 misalnya, Ngayogjazz mengadakan pertunjukannya di desa Tembi, Bantul, Yogyakarta. Saat itu musik jazz dimainkan di pedesaan yang jauh dari kota, sambil menikmati kesejukan alam dari desa Tembi, Bantul.

Lain lagi pada tahun berikutnya, 2009. Ngayogjazz diadakan di Pasar Seni Gabusan, yang masih berlokasi di Bantul. Pertunjukan jazz diduetkan dengan kesenian lokal milik warga Bantul. Sebuah pertunjukan  yang memang unik tentunya. Apalagi Ngayogjazz diadakan untuk menepis anggapan kalau musik jazz adalah musik untuk orang-orang golongan atas. Perbedaan budaya antara jazz dan kesenian lokal Bantul disatukan, dan menjadi sebuah interaksi tersendiri. Masyarakat tentu saja sangat menikmati pertunjukkan ini. Mereka datang dari berbagai daerah yang ada di Yogyakarta.

Bahkan ada turis asing yang juga menikmati pagelaran seni yang mungkin tak akan ditemui di tempat lain. Suara jangkrik yang bersautan dengan makanan malam yang khas, seperti ronde (air jahe) yang hangat serta ubi rebus dan kacang rebus, menambah kekhitmatan penampilan para musisi yang memeriahkan pagelaran seni tersebut. Perlu diketahui bahwa Pasar Seni Gabusan dibangun untuk mewadahi para seniman yang menjual berbagai pernak-pernik barang seni khas Yogyakarta.

Dengan adanya pertujukan yang sangat spektakuler ini, semakin banyak orang yang tahu dan sadar bahwa ada satu pasar seni yang bisa dikunjungi. Bahkan pasar seni ini bisa dijadikan tempat rekreasi baru yang menyuguhkan berbagai hal yang berkaitan dengan barang seni. Harga yang ditawarkan juga beragam dan cukup murah bial dibandingkan dengan harga barang yang sama di tempat lain. Barang-barang yang dijual di pasar seni ini juga dijual ke Bali. Bagaimanapun, Bali masih menjadi salah satu tujuan para pengrajin dalam menjual dagangannya.

Mengingat suasana yang sangat mendukung itulah, perhelatan ini terus diselenggarakan. Semakin lama, semakin orang mengenal kalau ada satu pagelaran jazz yang diadakan di Yogyakarta. Harga tiket pesawat dari Jakarta ke Yogyakarat pada hari biasa yang tidak terlalu mahal, telah mendorong banyak orang Jakarta datang hanay untuk merasakan kenikmatan mendengarkan musik jazz di tengah alam pedesaan yang sudah sangat jarang ada di Jakarta. Mereka berlibur dan menghibur diri dengan mendapatkan pengalaman yang beda dari biasanya.

Seni dalam Kedukaan

Pada 2010, Ngayogjazz rencananya akan diadakan menjelang akhir tahun, tapi karena kondisi Yogyakarta yang baru saja tertimpa bencana, erupsi gunung merapi membuat pertunjukan satu ini diundur pada Januari 2011. Kali ini Ngayogjazz kembali menggelar perhelatannya di Bantul. Lebih tepatnya di pelataran seniman kondang Jogja, Joko Pekik. Tentu saja kedukaan itu membekas dalam apalagi dengan kematian juru kunci Gunung Merapi, Mbah Marijan, yang sangat mengenaskan. Namun demikian, hidup memang harus terus berlangsung dan tidak boleh melenakan hingga terpuruk ke dalam jurang duka yang begitu dalam.

Bukankah bukannya sekali ini Yogyakarta dirundung kemalangan. Jiwa dan raga mereka yang tetap tegar dan terus berjuang hingga hayat dikandung badan terpisahkan. Tekad inilah yang membuat penyelenggaraan pagelaran seni ini semakin menambah semangat para pendukung acara dan pihak penyelenggara. Mereka tak ingin membuat kedukaan menjadi kesedihan yang abadi.

Meskipun sempat diguyur hujan pada malam harinya, pertunjukan jazz tidak berhenti. Dibalut dengan pohon-pohon rindang dan masih hijaunya lingkungan sekitar, tidak membuat Ngayogjazz kehilangan karakternya sebaga pertunjukan seni yang tampil sederhana. Ngayogjazz selalu menampilkan beberapa musisi jazz yang sudah terkenal tentunya, seperti Tohpati, Rika Roeslan, Trie Utami, Iga Mawarni, dan sederet musisi jazz lainnya, ditambah dengan seniman-seniman lokal khas Yogyakarta yang selalu memberi warna tersendiri. Ngayogjazz sekarang sudah tumbuh sebagai pertunjukan  yang lebih dari sekadar hiburan. Ngayogjazz akan selalu dinanti dan ditunggu setiap tahunnya karena menampilkan berbagai macam bentuk seni dan kebudayaan.

Tolong di SHARE :
Tweet
Artikel Terkait
  • Lukisan Kaligrafi: Seni Mistisme pada Dua Akar Budaya
  • Memahami Pengertian Seni Menurut Para Ahli
  • Babak Demi Babak Sejarah Seni
  • Jejak-Jejak Seni Rupa Mancanegara
  • Gambar Malaikat Karya Pelukis Legendaris
  • Perkembangan dan Tokoh Seni Patung Nusantara
  • Perkembangan Kerajinan Patung di Dunia - ANNEAHIRA.COM
  • Seni Kerajinan Keramik
  • Sejarah Seni Tari - Dari Ritual kepada Kontemporer
  • Sejarah Seni Lukis Melahirkan Aliran dalam Lukisan
  • Tentang Seni Rupa: Apresiasi Terhadap Pameran Seni Rupa
  • Seni Busana dalam Teater
  • Isi Proposal Pameran Seni Rupa
  • Patung Zeus: Salah Satu Keajaiban Dunia pada Masa Kuno
  • Sejarah Kesenian dan Berbagai Tujuannya
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Komp. Buah Batu Regency Blok A2 No.9
Bandung Jawa Barat - INDONESIA