logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Sosial & Budaya    Seni    Seni Tradisional

Pertunjukan Wayang Golek, Pergelaran Pamungkas 7 Hari 7 Malam


Ilustrasi pertunjukan wayang golek

Pertunjukan wayang golek biasanya baru dimulai sejak tengah malam. Pertunjukan wayang golek sering dikatakan sebagai acara puncak dalam sebuah pergelaran. Wayang golek merupakan salah satu bentuk kesenian yang sangat akrab di kalangan masyarakat Sunda. Keberadaan wayang golek semakin memperkaya kebudayaan masyarakat dan Indonesia.

Acara Puncak Hajatan Akbar

Anda pasti pernah mendengar acara hajatan pernikahan yang berlangsung hingga 7 hari 7 malam. Perhelatan syukuran akbar ini biasanya dilakukan oleh seorang yang memiliki dana lebih. Bisa juga karena salah satu atau kedua orangtua mempelai merupakan orang yang cukup berpengaruh. Misalnya, pejabat atau kalangan atas lain.

Biasanya, hajatan tersebut dibagi menjadi beberapa sesi hiburan. Misalnya, malam pertama pengajian, malam kedua pertunjukan yang mengundang beberapa penyanyi ternama, dan seterusnya. Nah, pada malam terakhir atau malam ketujuh, wayang golek dihadirkan sebagai pertunjukan pamungkas. Biasanya, wayang golek dipentaskan hingga semalam suntuk.

Wayang Golek di Era Layar Tancap

Dahulu, saat layar tancap masih dijadikan sarana hiburan luar biasa, kesenian wayang golek menjadi salah satu pertunjukan maha agung yang tak boleh dilewatkan. Pertunjukan wayang golek hampir secara rutin diadakan setiap minggu di sebuah lapangan. Masyarakat pun berbondong-bondong menyaksikan pertunjukan yang diperankan boneka kayu ini. Terutama, masyarakat pedesaan.

Sayangnya, perkembangan teknologi tidak seiring dengan perkembangan wayang golek. Perkembangan teknologi malah boleh dikatakan menghilangkan jejak kesenian yang sarat nasihat dan nilai spiritual ini. Semakin banyaknya tontonan yang dianggap lebih mengasyikan membuat orang lebih senang menonton film dan teater orang, bukan kayu seperti wayang golek.

Wayang Golek Merambah Televisi

Kemunduran wayang golek sebagai tradisi dan kesenian merakyat telah membuat sebagian orang berpikir kreatif untuk menghidupkan kembali seni wayang golek. Wayang golek yang tadinya dipentaskan pada sebuah panggung dan ditonton puluhan, bahkan ratusan, warga dialihmediakan pada layar pertunjukan kaca yang lebih sempit, televisi.

Wayang golek di televisi biasanya tidak secara utuh menampilkan tokoh wayang kayu. Pengadegannya dikolaborasikan dengan orang. Hal ini bertujuan untuk menghidupkan cerita benda yang tadinya tidak hidup. Tokoh kayu yang dimainkan dalang dikomunkasikan dengan manusia. Salah satu acara televisi yang menghadirkan wayang adalah "Pojok Si Cepot" di stasiun TV lokal, STV.

Wayang Orang Era Modern

Jika wayang golek menampilkan tokoh-tokoh dari kayu, wayang orang merupakan seni pertunjukan yang diperankan oleh orang. Sebenarnya, wayang orang lebih mirip dengan seni teater. Namun, isi dan jalan ceritanya sedikit berbeda. Teater mayoritas menampilkan cerita-cerita serius. Sementara itu, wayang orang berisi lelucon sebagai sarana hiburan yang mampu mengundang tawa.

Belakangan ini, sebuah stasiun TV swasta menampilkan pertunjukan wayang orang yang sangat fenomenal. Hampir setiap orang yang memiliki televisi pasti tidak melewatkan acara tersebut. Acara yang digawangi Parto sebagai dalang tersebut sontak mendapat apresiasi berlebih dari penonton. Ya, "Opera van Java" memang menjadi fenomena baru perwayangan Indonesia.

Kehadiran tokoh-tokoh unik dan mampu menciptakan lelucon spontan membuat acara ini semakin diminati. Sule (SOS) dapat dikatakan sebagai ujung tombak OVJ. Ia selalu menghadirkan kelucuan-kelucuan yang diciptakannya secara spontan dan segar. Tingkah menggelitiknya menjadi semakin komplit dengan kehadiran tokoh lain, yaitu Azis Gagap, Nunung, dan Andre Taulany.

Pesan Dalam Wayang Golek

Dalam penelitian Rizalullah, (2003) Pesan yang berbentuk ceritera yang sering ditampilkan para dalang pertunjukan wayang golek, dan yang disenangi masyarakat penontonnya adalah cerita yang bersumberkan cerita Parwa, Kanda, Babak, meliputi cerita Ramayana dan Mahabarata. Perkembangan cerita yang tidak termasuk dalam Parwa disebut Sempalan. Cerita yang dipersiapkan untuk pertunjukan di Alun-alun Kota Cimahi adalah "Tiwasna Bangbang Suteja", merupakan sempalan dari Mahabarata.

Ceritera ini menurut seorang dalang kondang Asep Sunandar Sunarya dipersiapkan satu hari menjelang pertunjukan berlangsung, yang konon inspirasi dialog, sempal guyon, dagelan, dan permainan wayang, selalu hadir di kala pertunjukan sedang berlangsung secara spontan.

Dilihat dari penyajiannya, "Tiwasna Bangbang Suteja" menyuguhkan sajian yang penuh dengan petuah-petuah yang diselipkan melalui tokoh-tokoh wayang dengan dialog bahasa yang komunikatif, bahasa masyarakat umumnya disertai banyolan-banyolan dari awal hingga akhir cerita. Inti ceritera ini, menceritakan Bangbang Suteja anak Kresna bertanding melawan Gatotkaca.

Semula Gatotkaca kalah, otot serta tulang-tulangnya hancur tak berdaya akibat ajian dari Suteja atas bantuan Kresna. Namun atas pertolongan para dewa yang disampaikan melalui tangan Semar, akhirnya Gatotkaca dapat hidup kembali dan bertanding untuk kedua kalinya melawan Suteja, yang pada akhir cerita Bangbang Suteja tewas dikalahkan oleh Gatotkaca.

Pesan-pesan pada pertunjukan seni wayang golek bukan hanya merupakan susunan ceritera yang benar, namun mempunyai arti-arti yang simbolis yang sangat dalam. Misalnya dalam pola Avatar Wisnu seakan-akan mengajar kepada kita, bahwa pada saat-saat kejahatan merajalela dan telah melampaui batas-batas kemanusiaan, dewata dan kekuatan-kekuatan kebaikan akhirnya akan melawan dan memperoleh kemenangan, sehingga ketenangan tiba.

Tiwasna Bangbang Suteja agaknya mengambil pola cerita Minteraga, yaitu suatu pola ceritera yang memberi gambaran kepada kita bahwa manusia akan mendapat anugerah dewata setelah ia dapat membuktikan keteguhan hatinya dalam mengabdi kepada kebaikan.

Dalam hal ini, di gambarkan oleh tokoh Gatotkaca. Tiwasna Bangbang Suteja seolah-olah menggambarkan seorang ayah yang tidak dapat membendung emosi akan pengaduan dari anaknya sendiri. Dia tidak bijaksana, dia lupa akan peradilan dan kebenaran, sehingga tanpa disaring duduk persoalannya langsung percaya dan bahkan membantu anaknya untuk bertanding melawan saudaranya sendiri.

Sedangkan Gatotkaca adalah figur satria yang mempunyai keteguhan hati dalam mengabdi kebaikan, sehingga mendapat anugerah dewata berupa pusaka yang diberikan lewat tangan Semar. Pola cerita ini hasil garapan atau rekaan dari dalang Asep S. Sunarya hasil dari perkembangan pola ceritera yang ada.

Apabila dikaitkan dengan isi dari ceritera, dapat dipastikan bahwa tema yang terkandung dalam garapan ceritera ini menunjuk kepada tema kepahlawanan. Sifat kepahlawanan yang dimaksud adalah perwujudan sikap baik/ kebaikan yang diperankan oleh Gatotkaca, dipertentangkan dengan sifat jahat/ kejahatan yang diperankan oleh Bangbang Suteja anak dari Kresna. Ada pesan-pesan yang ditonjolkan disini, yaitu sifat dari Kresna yang cepat terbakar emosinya sehingga berakibat fatal, kehilangan anak kandung serta pasukannya.

Sifat kebaikan dan kejahatan dalam cerita ini diuraikan pula lewat dialog Semar yang ditujukan kepada anak-anaknya, bahwa kejelekan selalu tumbuh subur walaupun tidak ditanam. Ibarat rumput yang tumbuh di sekitar padi. Rumput adalah sifat jelek yang ada dalam pribadi manusia, iri, dengki, serakah, nafsu jahat, penipuan, dendam, dan lain sebagainya.

Rumput selalu mengganggu pertumbuhan padi, apabila tidak disiangi akan tumbuh semakin subur. Sedangkan sifat baik diibaratkan seperti padi yang harus telaten ditanam, dipelihara, dijaga dari segala gangguan hama, sehingga dapat dipetik hasilnya dan berguna bagi kehidupan manusia. Sifat dari padi harus ditanam di dalam jiwa sanubari manusia.

Dalam ceritera pertunjukan wayang golek ini, tema kejahatan terkalahkan oleh kebaikan, selain dimainkan oleh tokoh sentral Gatotkaca dan Bangbang Suteja, dihidangkan pula lewat sajian bentrokan-bentrokan, peperangan antara panakawan Cepot, Udel, Dawala melawan para Balad Buta berupa adu-mulut, baku-hantam, sindiran-sindiran pedas, banyolan-banyolan/ dagelan, serta gerakan-gerakan lucu, porno, dan sedikit jorok.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Kesenian Ludruk yang Tergerus Zaman
  • Tarian Nusantara sebagai Identitas Budaya Bangsa Indonesia
  • Ragam Pertunjukan Tari Nusantara
  • Alat dan Seni Musik Tradisional
  • Perkembangan Seni Lukis Nusantara
  • Seni Rupa Prasejarah: Lukisan di Gua
  • Pertunjukkan Barongsai Versus Pertunjukkan Kuda Lumping
  • Karakter Patung 3 Dimensi Zaman Peradaban Kuno
  • Wayang Prabu, Tokoh Raja-Raja dalam Pewayangan
  • Kesenian Suku Batak - Ulos, Seni Kriya Adiluhung
  • Pakaian Tradisional Aceh dalam Budaya
  • Beragam Jenis Alat Musik Kesenian Melayu
  • Pengetahuan Seputar Tari Bali
  • Kesenian Tari di Indonesia yang Identik dengan Magis
  • Pengertian Seni Tradisional di Indonesia
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA