Perusahaan Agraris: Peluang dan Tantangan
Perusahaan Agrobisnis di Negara Agraris
Tahukah Anda tentang perusahaan agraris dan hubungannya dengan agrobisnis? Indonesia secara global ikut berkompetisi dalam industri agrobisnis. Menurut sumber pemerintah, Hongkong hanya memiliki luas lahan pertanian 7 persen. Jenis sayuran yang diimpor dari Indonesia adalah kentang, tomat, kol, brokoli, selada, wartel, ketimun, jamur, bayam, kubis, dan wortel.
Seperti halnya sebuah bisnis yang mengalami pasang-surut, agrobisnis pun mengalami keadaan yang kurang lebih sama. Masih kuat dalam ingatan kita harga cabai yang melebihi harga daging sapi dan mencapai klimaks dengan harga Rp110.000,- per kilogram. Pemerintah kemudian mengadakan rapat darurat bersama seluruh staf terkait dan beberapa minggu kemudian harga cabai turun menjadi setengahnya.
Sebab-sebab kenaikan, di antaranya meletusnya Gunung Merapi mengakibatkan pasokan cabai dari Jateng ke Jakarta terhambat, musim tanam yang anomali, serangan hama, cuaca ekstrem yang tidak lagi dapat dijadikan patokan untuk musim tanam dan musim tuai, serta kenaikan harga akibat ulah spekulan nakal. Fenomena dan alasan kenaikan tersebut bisa diterima di Pulau Jawa, namun bagaimana dengan sejumlah provinsi yang mengalami keadaan serupa. Berarti ada faktor X yang perlu penelitian lebih lanjut.
Anehnya, setelah melambungnya harga cabai, banyak pebisnis bergiat terjun ke bidang agrobisnis yang mencakup empat garapan utama, peternakan, pertanian, perkebunan, dan perikanan. Bisnis tersebut sangat menjanjikan karena tantangan dan peluangnya besar. Tantangan saat ini adalah musim yang tidak menentu. Sementara peluangnya adalah setiap orang masih membutuhkan pangan, tanpa terkecuali.
Sebelum mendirikan perusahaan agraris, sebaiknya Anda bertanya secara reflektif kepada diri Anda sendiri. Kemudian, tanyalah kepada ahlinya. Apakah Anda ingin berbisnis di agraris yang mengurus bidang produksi, distribusi, perdagangan, atau peralatan mesin-mesin pertanian.
Empat Peluang Garapan Bisnis Agro di Negara Agraris
- Pertanian
- Perikanan
- Perkebunan
- Peternakan
Persoalan Serius Sektor Agro di Indonesia
- Petani berbasis tanaman hanya punya sedikit lahan.
- Seorang peneliti menyebutkan, “Petani sawah dengan lahan 2.5 hektar berpenghasilan bersih Rp600.000 per bulan. Kalau ingin berpenghasilan 2.5 juta, perlu lahan usaha padi sedikitnya 10 hektar.”
- Petani berbasis perikanan hanyalah buruh, bukan pemilik. Pemilik yang sesungguhnya adalah juragan yang terkadang merangkap tengkulak.
- Belum lagi rampung teknologi pertanian organik, Indonesia mulai mengembangkan transgenik yang dapat menghasilkan sayur dalam ukuran besar. Padahal, persoalan beras masih belum dapat tertangani.
- Perkebunan, seperti karet, tebu, kayu, sawit, kakao, belum berfungsi optimal. Dalam hal ini, belum bisa berdampingan dengan sektor peternakan.
Ekspor Andalan Indonesia Migas dan Nonmigas
- Kayu lapis (plywood)
- Tembaga
- Kertas dan produk kertas
- Karet alam
- Ikan
- Udang
- Nikel
- Kopi
- Benang sintetik
- Furniture
- Manggis
- Nenas
- Pisang
- Beras
- Labu kuning
- Kubis
- Brokoli
- Wortel
Kita juga perlu berpikir jernih dan cemerlang. Benarkah durian, jeruk, papaya, mangga, dan buah-buahan yang kita makan, semua berasal dari Thailand? Boleh jadi benar, boleh jadi tidak. Bagaimana jika buah-buahan yang katanya berasal dari Thailand ternyata banyak ditanam di Indonesia dan diberi label “luar” supaya laku.
Lupakan soal lagu orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat, kayu dan batu jadi tanaman. Mari kita dukung agrobisnis yang berbasis profesional. Anda tinggal pilih saja akan mulai dari mana, apakah dari bisnis yang kecil terlebih dahulu, menengah, besar, atau global. Peluang sangat terbuka.






