logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Pendidikan    Sekolah    Mata Pelajaran

Mengenal Pesantren Virtual Lebih Dekat


Ilustrasi pesantren virtual

Hadirnya pesantren virtual semakin menegaskan bahwa untuk belajar itu tidak terikat oleh ruang dan waktu (borderless), termasuk dalam hal menuntut ilmu agama. Jika ada seseorang yang sedang menemui masalah terutama berkaitan dengan urusan yang ada dalam agama Islam, sang penanya tidak perlu lagi menghadap secara langsung atau bertatap muka (face to face) dengan guru, ustadz atau pak Kiai.

Tapi sekarang cukup dengan menghadap kotak ajaib bisa berupa laptop maupun PC, ketik pertanyaan, dikirim sudah. Seseorang atau tim yang ada di sana, yang tidak diketahui secara pasti tempatnya akan membalas pertanyaan itu lewat kotak ajaib itu juga. Tentu saja agar bisa terhubung dengan orang-orang yang letaknya di luar lingkungannya itu, mereka harus menggunakan fasilitas internet. Begitulah gambaran dari pesantren virtual. Konsep cara belajar seperti ini diadopsi dari pesantren yang ada di dunia nyata (real).

Pesantren Virtual - Selayang Pandang Pesantren Dunia Nyata

Dari segi tata bahasa, kata pesantren berasal dari bahasa Jawa yang dimodifiksi, yakni kata santri menjadi pe-santri-an. Santri sendiri memiliki arti ‘murid’.  Pe-santri-an bermakna sesuatu yang berhubungan dengan santri, dalam hal ini merujuk kepada tempat atau lokasi. Nama lain dari pesantren adalah ‘pondok’ yang berasal dari bahasa Arab yakni ‘funduuk’ yang berarti penginapan. Jika dibanyak tempat di Indonesia, istilah umumnya menggunakan kata pesantren, di Aceh lain lagi. Di provinsi yang berjuluk Serambi Mekah itu, mereka menyebut pesantren sebagai dayah.

Dalam versi lain, kata santri yang menjadi asal mula munculnya kata pesantren berasal dari bahasa Sansekerta yakni "cantrik" yang dimaknai sebagai orang yang mengikuti gurunya kemanapun perginya si guru (Bahasa Jawa: Nginthil). Kata santri juga terdapat dalam bahasa Tamil yang bermakna "guru mengaji".

Pesantren berdasarkan pengertian aslinya dimaknai sebagai tempat menuntut ilmu agama dengan menggunakan model asrama. Apabila ada santri yang belajar di pondok pesantren, maka mereka akan tinggal dalam rentang waktu tertentu dan tidak setiap hari pulang ke rumah. Meski tidak sedikit dari para santri, sebutan untuk pelajar yang belajar di pesantren, yang pulang ke rumah setiap hari.

Dalam bahasa Jawa, kegiatan belajar di pesantren dan pulang ke rumah setiap hari disebut dengan "ndodok". Salah satu alasan mereka melakukan ini karena jarak rumah dan pesantren dekat. Beda lagi dengan para santri yang rumahnya jauh dari pesantren. Mereka tidak bisa pulang setiap hari. Dalam kegiatan pondok pesantren ini, para santri diajari tentang ilmu Quran, hadist, bahasa Arab, dan cabang pelajaran agama lainnya.

Keberadaan model pembelajaran seperti di pesantren ini tidak hanya ada di Indonesia. Di beberapa negara lain juga ada. Di Malaysia serta Thailand menyebut lembaga untuk belajar seperti ini sebagai sekolah pondok. Sedangkan masyarakat India dan Pakistan menamakannya dengan Madrasa Islamia.  Seperti yang lainnya, pesantren pun memiliki beberapa jenis, yaitu sebagai berikut.

  • Pesantren Salaf. Pesantren model ini hanya memberikan pelajaran ilmu agama kepada para santri 
  • Pesantren Modern. Di pesantren modern ini para santri yang belajar akan mendapatakan ajaran ilmu agama dan ilmu umum. Presentasenya tetap lebih besar ilmu agama. Di pondok pesantren ini, untuk memperoleh ilmu umum, para santri belajar di madrasah atau sekolah umum yang berada di luar pondok tetapi relatif dekat dengan pondok. Selain mendapatkan pembekalan berupa ilmu agama dan umum, para santri juga mendapatkan pembekalan keterampilan yang diharapkan akan sangat berguna ketika mereka sudah keluar dari pondok dan berbaur dengan masyarakat luas. Pendidikan yang menggabungkan ilmu agama, umum, dan keterampilan ini selain disebut sebagai pondok modern juga dinamakan sebagai pondok khalafi.  
  • Pesantren Kilat. Pesantren ini biasanya marak bermunculan ketika Bulan Ramadhan datang. Dinamakan kilat karena proses belajarnya memakan waktu yang relatif singkat. Biasanya, program pesantren kilat ini diadakan ketika musim liburan sekolah. Materi yang disampaikan dalam pesantren ini biasanya menitikberatkan kepada masalah keterampilan dan leadership.
  • Pesantren Terintegrasi. Ini adalah jenis pesantren yang memfokuskan kepada pendidikan vocational atau kejuruan seperti yang ada di BLK yang terintegrasi. Sasaran dari pesantren ini adalah para santri yang berasal dari golongan anak putus sekolah atau mereka yang berstatus sebagai pencari kerja.

Pesantren pada awalnya berdiri untuk mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat dengan harapan mereka bisa meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadahnya kepada Sang Pencipta. Seiring berjalannya waktu, peran pesantren tidak hanya terfokus untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas hubungan manusia dengan Tuhannya (Hablumminallah), akan tetapi juga sebagai sarana untuk menjalin keakraban dengan masayarakat sekitar serta secara bersama-sama menghadapi berbagai persoalan yang terjadi di tengah-tengah mereka (Hablumminannas).

Perubahan terhadap pola membangun hubungan ini membuat kurikulum pesantren pun berubah. Jika dulu kurikulum pendidikan yang dipakai berbasis keagamaan (Regional-based Curriculum), maka sekarang konsep kurikulum yang dipakai didasarkan kepada isu-isu yang ada dimasyarakat (Society-based Curriculum). Dengan adanya perubahan ini menyebabkan pesantren tidak hanya dipandang sebagai lembaga yang mengajarkan tentang ilmu agama saja kepada masyarakat, akan tetapi juga ikut terlibat dalam berbagai persoalan yang terjadi di masyarakat itu sendiri.

Pesantren Virtual - Dua Metode Pengajaran Islam

Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan manusia terutama dalam bidang teknologi informasi, memungkinkan masyarakat bisa belajar agama tanpa harus datang dan duduk di kajian yang diadakan di pesantren nyata, tapi cukup menyalakan internet dan bisa terhubung dengan dengan berbagai ustad, kiai atau ulama yang keberadaannya jauh di mata. Hal ini berarti bahwa variasi pesantren tidak hanya terdiri dari 4 model seperti yang telah disebutkan sebelumnya, akan tetapi juga ada pesantren virtual.

Selain menyampaikan pengkajian dan pengajaran agama Islam (Tafaqquh Fiddiin), pesantren virtual juga menjalankan berbagai program keilmuan dan keislaman yang sudah disusun sedemikian rupa. Secara umum, keberadaan dari pesantren virtual ini adalah untuk menyampaikan ajaran agama Islam dengan konsep penyampaian yang lebih moderat.

Selain itu, konsep penyampaian ajaran Islam pesantren ini bersifat menyejukkan, bersifat dialogis yang memungkinkan kedua belah pihak bisa secara bergantian untuk melakukan transfer ilmu dan pengetahuan dan pendapat serta bersifat inklusif, khususnya terhadap masyarakat pemakai fasilitas internet. Hal-hal tersebut merupakan kelebihan dari pesantren virtual ini.

Meski berada di wilayah dunia maya (Cyber Space), tetapi keberadaan pesantren virtual ini bisa disebut sebagai pusat belajar (Learning Center) dari pesantren versi dunia nyatanya. Di beberapa lembaga pendidikan keagamaan ada yang mengajarkan pelajaran agama Islam dengan menggunakan dua metode, yakni pesantren yang ada di dunia nyata serta pesantren di dunia maya atau pesantren virtual.

Model pengajaran yang mengharuskan guru (ustadz) dan murid bertatap muka sering disebut sebagai metode pengajaran klasikal dan diselenggarakan rutin setiap waktu yang telah disepakati. Selanjutnya, komunikasi guru dan murid dilakukan melalui pesantren virtual.

Jika di pondok untuk pembelajaran kepada parasantri dipimpin oleh kiai, maka di pesantren virtual ini juga dikomandoni oleh para kiai dan ulama. Biasanya yang menjadi narasumber dan memiliki kompetensi untuk menyampaikan pelajaran yang disampaikan kepada masyarakat luas pengguna internet adalah para tokoh agama atau ulama yang terkemuka. Jika ada sesi tanya jawab, maka akan disebutkan siapa yang memberikan jawaban itu.

Salah satu alasan untuk memberitahukan tentang siapa yang memberi jawaban dalam proses pembelajaran di pesantren virtual ini, salah satunya ditujukan untuk memperkuat keyakinan/validitas atas jawaban yang diberikan. Hal itu karena jika ada masalah yang terkait dengan ilmu agama, tapi dijawab oleh mereka yang pengetahuan agamanya kurang, maka bisa berbahaya. Hal ini disebabkan oleh dampak yang bisa muncul dari jawaban itu yang tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi juga jangka panjang.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Bimbingan Belajar Matematika Mudah dan Menyenangkan!
  • Metode Pembelajaran Bahasa Indonesia
  • Kiat Sukses Belajar Bahasa Inggris
  • Kurikulum Berbasis Kompetensi dan Dunia Pendidikan
  • Sulitnya Grammar Bahasa Inggris
  • Menguasai Ilmu Pengetahuan, Menguasai Dunia
  • Seputar Jenis Teori Pembelajaran Humanistik
  • Pancasila Sebagai Dasar Negara dan Pedoman Pendidikan Kewarganegaraan
  • Mengenal Regular Verb dan Formulanya
  • Macam-macam Metode Pembelajaran Bahasa Inggris
  • Sistem Pendidikan Islam Untuk Anak
  • Contoh Pidato Bertema Pendidikan untuk Guru PAUD
  • Penutup dalam Makalah yang Tak Mau Kalah
  • Sosiologi Pendidikan dalam Kurikulum Sekolah dan Keluarga
  • Dialog English - Intinya Adalah Pembiasaan Diri Berbahasa Inggris
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA