Dinamika Peta Pulau Jawa
Secara geografis, peta Pulau Jawa terbentang dari bagian barat yang berbatasan dengan Selat Sunda hingga ke bagian timur yang berbatasan dengan Selat Bali. Di bagian utara dan selatan, berturut-turut berbatasan dengan Laut Jawa dan Samudra Indonesia.
Pulau Jawa merupakan pulau yang memiliki populasi penduduk paling besar di antara pulau-pulau lainnya yang ada di wilayah Indonesia, yaitu sekitar 124 juta jiwa. Adapun luas Pulau Jawa adalah 138.793,6 kilometer persegi sehingga setiap 1 kilometer persegi akan ditempati oleh 979 jiwa penduduk.
Sebagian besar wilayah Pulau Jawa didiami oleh suku Sunda dan suku Jawa. Dengan demikian, dapat dikatakan peta Pulau Jawa berdasarkan suku bangsa yang mendiaminya, yaitu suku Sunda mendiami sebagian besar wilayah bagian barat Pulau Jawa, sedangkan suku Jawa mendiami sebagian besar wilayah bagian tengah dan timur.
Ada pula sekelompok suku Sunda yang mendiami wilayah Pulau Jawa bagian tengah, terutama di daerah Brebes dan Cilacap. Beberapa suku lainnya adalah suku Betawi (di Jakarta), Madura, dan Bali (di sebagian kecil wilayah Jawa Timur).
Provinsi di Peta Pulau Jawa
Berdasarkan kota-kota yang terletak di dalam wilayahnya, peta Pulau Jawa terbentang mulai dari Ujungkulon (di barat) hingga Banyuwangi (di timur).Di Ujungkulon, kita mengenal suaka margasatwa komodo yang merupakan hewan langka yang dilindungi undang-undang negara Indonesia.
Di Banyuwangi, kita akan menemukan pelabuhan penyeberangan Tanjung Perak. Jika hendak ke Bali menggunakan jalan darat, biasanya akan melakukan penyeberangan di pelabuhan tersebut.Dalam wilayah Pulau Jawa, terdapat enam provinsi dengan dua provinsi merupakan daerah khusus. Keenam provinsi tersebut adalah sebagai berikut.
- Provinsi Jawa Barat, dengan Bandung sebagai ibukota.
- Provinsi Banten.
- Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta.
- Provinsi Daerah Khusus Ibukota Yogyakarta.
- Provinsi Jawa Tengah, dengan Semarang sebagai ibukota.
- Provinsi Jawa Timur, dengan Surabaya sebagai ibukota.
Kepadatan penduduk paling tinggi terdapat di kota Jakarta, setelah Surabaya dan Bandung. Adapun kota yang memiliki kepadatan penduduk yang paling rendah adalah Bogor, diikuti Malang dan Surakarta.
Tidak heran memang, Jakarta dikatakan sebagai kota paling padat di Indonesia. Selain sebagai ibukota negara, Jakarta merupakan pusat perekonomian Indonesia, setelah Surabaya dan Bandung.
Banyak penduduk yang sekadar mengadu nasib merantau ke ibukota negara tersebut hingga kian hari kota Jakarta kian padat. Namun, perkembangan sarana dan prasarana tidak sebanding dengan pesatnya pertambahan populasi penduduk tersebut.
Akibatnya, kian hari permasalahan di ibukota negara Indonesia tersebut kian rumit karena belum ditemukan solusi yang tepat, seperti masalah banjir yang selalu melanda kota Jakarta saat musim hujan tiba.
Keadaan Alam Pulau Jawa
Di Pulau Jawa, kita dapat menemukan banyak gunung dan pegunungan yang terdapat di beberapa wilayah. Gunung-gunung tersebut sebagian besar merupakan gunung mati (bukan gunung berapi aktif). Namun, ada pula yang merupakan gunung berapi aktif. Misalnya, Gunung Merapi di Jawa Tengah, Gunung Tangkuban Parahu di Jawa Barat, dan Gunung Bromo di Jawa Timur.
Adapun pegunungan yang terdapat di Pulau Jawa adalah Pegunungan Sewu, Pegunungan Kendeng, dan Pegunungan Kapur Utara.
Dikatakan gunung berapi aktif karena sesekali ketika mencapai periode tertentu -akibat adanya pergeseran tektonik misalnya- gunung tersebut akan memuntahkan isinya ke atas permukaan bumi.
Pemerintah tentunya telah mengambil langkah-langkah penting untuk mencegah adanya korban ketika terjadinya gunung meletus. Salah satunya dengan menentukan status-status penting untuk setiap gunung berapi tersebut.
Di Pulau Jawa, terdapat 6.773 jenis tumbuhan yang terdiri atas 6.258 jenis tumbuhan berbunga dan 515 jenis tumbuhan berpaku. Jenis yang merupakan tumbuhan asli Pulau Jawa hanya sekitar 288, dengan 15 persennya masih merupakan tumbuhan liar di hutan-hutan.
Adanya pengembangan pembangunan dengan pembukaan perhutanan liar di Pulau Jawa, akan semakin menurunkan keanekaragaman hayati flora asli Indonesia. Jika tidak segera diadakan program pelestarian, bisa jadi keanekaragaman tersebut akan punah. Tentunya, bukan hal tersebut yang kita harapkan.
Oleh karena itu, amatlah penting untuk menjaga kelestarian lingkungan dengan selalu menjaga keanekaragaman hayati di sekitar kita.






