Contoh Naskah Pidato Agama Islam
Ilustrasi pidato agama islam
Berpidato merupakan keahlian yang bisa dipelajari dan dibutuhkan belajar yang tekun untuk bisa menjadi penceramah yang baik dan didengar oleh audience. Pidato terdiri dari berbagai tema dan format, ada pidato dengan tema lingkungan, sosial, politik, ekonomi, sampai pidato agama Islam. Kesemua tema pidato tersebut bisa dbuat dalam sistematika yang sama, hanya isi materi pidatonya saja yang berbeda. Isi pidato lingkungan hidup tentu saja berbeda dengan isi pidato pendidikan misalnya. Demikian juga halnya dengan isi pidato politik tentu saja berbeda dengan isi pidato agama Islam.
Tidak semua orang terampil dalam menyampaikan pidato agama Islam, atau terampil dalam membuat naskah pidato agama Islam. Dibutuhkan pengetahuan dan penguasaan materi terhadap agama Islam untuk membuat sebuah pidato atau naskah pidato agama Islam yang baik. Umat Islam terdiri dari berbagai golongan dan latar belakang pendidikan, serta usia. Oleh karena itu ketika akan membuat naskah pidato agama Islam selain mempertimbangkan isi materinya, juga mempertimbangkan audience-nya.
Pidato Agama Islam- Pentingnya Menyampaikan Pidato Agama
Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk menyebarluaskan ajaran agama Islam. Sebagian orang menggunakan dakwah atau ceramah, dan sebagian lagi menggunakan media pidato agama Islam. Apapun media yang digunakan untuk menyampaikan ajaran atau menyebarluaskan ajaran agama Islam, tentu saja harus dibuat secara matang. Hal ini dilakukan untuk menghindari kesalahpahaman atau ketidakmengertian masyarakat terhadap ajaran agama Islam.
Pidato agama Islam sifatnya lebih resmi daripada ceramah atau dakwah. Oleh karena itu, ada aturan khusus yang harus dilakukan ketika akan menyampaikan pidato agama Islam dihadapan umat Islam. Jika Anda memilih media pidato agama Islam, berarti setidaknya sebelum menyampaikan pidato tersebut, Anda harus membuat konsepnya dalam naskah pidato agama Islam. Untuk membuat naskah pidato agama Islam ini tentu saja ada aturannya. Kita tidak bisa sembarangan membuat naskah pidato agama Islam.
Pidato agama Islam yang sifatnya resmi tersebut tentu harus dibuat berdasarkan sistematika karangan yang resmi. Pidato agama Islam termasuk dalam karangan yang resmi karena memuat kreatifitas dan kemampuan penyampai pidato, di samping memasukkan konsep atau materi yang bersumber dari Al quran, hadis, atau rujukan dari para ulama. Salah satu aturan yang harus kita perhatikan ketika akan membuat naskah pidato agama Islam adalah penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Beberapa Contoh Naskah Pidato Agama Islam
Berikut ini adalah contoh pidato agama Islam. Contoh naskah pidato agama islam ini bisa digunakan di majelis-majelis pengajian:
Pentingnya Sholat Jumat dan Keutamaan Hari Jumat
Assalamualaikum Wr., Wb.,
Hadirin yang dirahmati Allah Swt,
Menjelaskan kepada anak tentang keistimewaan dan cara memuliakan hari Jumat sangatlah penting untuk dilakukan. Kita dapat memulainya di usia dini mereka. Walaupun anak anak kita belum baligh, namun asalkan sudah mumayyiz- dapat membedakan baik dan buruk, yang benar dan yang salah, akan lebih baik jika mereka dilatih untuk mengetahui dan menjalan hal tersebut.
Orang tua dapat memulainya dengan menceritakan tentang keadaan yang terjadi di sekeliling mereka, di hari Jumat. Betapa banyak orang yang hadir dalam sholat Jumat ketika imam telah naik mimbar, dan atau bahkan ketika khutbah sudah hampir saja selesai. Kebanyakan dari mereka melakukan ibadah sholat Jumat hanya sebagai bagian dari “ritual mingguan”, dan atau mengggugurkan kewajiban saja dan bukan karena kepentingan ibadah kepada Allah.Hal ini yang harus dipahamkan oleh orang tua kepada anak, bahwa pada hari Jumat malaikat berada dipintu masjid, mereka akan mencatat siapa yang lebih dahulu masuk masjid. Dan mereka akan menutup ” buku absen” itu saat imam naik mimbar.
Orang tua juga perlu menjelaskan tentang motivasi yang diberikan Rasulullah SAW untuk tiba di masjid lebih awal. Beliau memberi perumpamaan bagi orang yang pertama kali memasuki masjid maka orang tersebut seperti bersedekah seekor unta. Kemudian orang yang kedua, adalah seperti yang bersedekah seekor sapi. yang ketiga, seperti bersedekah dengan seekor kambing, orang yang keempat seperti besedekah dengan seekor ayam. Dan orang yang kelima adalah bagai mereka yang mampu bersedekah dengan sebutir telur. tidak ada lagi keutaamaannya setelah itu.
Selain hal tersebut diatas, orang tua juga dapat menjelaskan tentang keutamaan hari Jumat, yaitu bahwa banyak peristiwa penting yang terjadi di hari itu. Nabi adam alaihis salam, diciptakan allah sebagai manusia yang pertama, yaitu pada hari Jumat. beliau dimasukkan surga, pun juga pada hari yang sama. Hari kiamatpun akan datang pada hari Jumat.
Jangan lupa untuk menuntun mereka untuk berpakaian rapi dan bagus, memakai wewangian dan memotong kuku saat akan pergi sholat Jumat. Dan sampaikanlah untuk tertib dan tenang ketika telah sampai dimasjid dan mendengarkan khutbah dengan baik, jangan sampai merepotkan si ayah dengan pertanyaan atau suara, padahal khutbah sedang berlangsung. Dengan beberapa penjelasan tersebut, insyaallah anak akan lebih termotivasi dan mendapatkan banyak pencerahan untuk beribadah di hari Jumat sebagai pembelajaran bagi mereka agar mendapatkan pahala lebih banyak.
Wa billahi taufiq wal hidayah, war ridlo wal inayah. Mohon maaf atas segala kesalahan.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh (By: Syahidah)
***
Mendidik Anak Cara Nabi Ibrahim
Assalamualaikum Wr., Wb.,
Hadirin yang berbahagia,
“Kawinilah wanita yang kamu cintai lagi subur (banyak melahirkan) karena aku akan bangga dengan banyaknya kamu terhadap umat lainnya” (HR. Al-Hakim)
Begitulah anjuran Rasulullah Saw kepada umatnya untuk memiliki anak keturunan.
Sehingga lahirnya anak bukan saja penantian kedua orang tuanya, tetapi suatu hal yang dinanti oleh Rasulullah Saw. Dan tentu saja anak yang dinanti adalah anak yang akan menjadi umatnya Muhammad Saw. Berarti, ada satu amanah yang dipikul oleh kedua orang tua, yaitu bagaimana menjadikan atau mentarbiyah anak—yang titipan Allah itu—menjadi bagian dari umat Muhammad Saw.
Untuk menjadi bagian dari umat Muhammad Saw harus memiliki karakteristik yang disebutkan oleh Allah Swt dalam Surah Al-Fath ayat 29, yang intisarinya adalah sebagai berikut:
- Keras terhadap orang Kafir, keras dalam prinsip.
- Berkasih sayang terhadap sesama umat Muhammad Saw.
- Mendirikan shalat.
- Terdapat dampak positif dari aktivitas shalatnya, sehingga orang-orang yang lurus, yang hanif menyukainya dan tentu saja orang-orang yang turut serta mentarbiyahnya.
Untuk mentarbiyah anak yang akan menjadi bagian dari Umat Muhammad Saw. bisa kita mengambil dari caranya Nabi Ibrahim, yang Allah ceritakan dari isi doanya Nabi Ibrahim dalam surat Ibrahim berikut ini:
“Ya Tuhan kami, Sesungguhnya Aku Telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, Mudah-mudahan mereka bersyukur” (QS. Ibrahim: 37)
Dari doanya itu kita bisa melihat bagaimana cara Nabi Ibrahim mendidik anak, keluarga dan keturunannya yang hasilnya sudah bisa kita ketahui, kedua anaknya—Ismail dan Ishaq—menjadi manusia pilihan Allah:
- Cara pertama mentarbiyah anak adalah mencari, membentuk biah yang shalihah. Representasi biah, lingkungan yang shalihah bagi Nabi Ibrahim Baitullah (rumah Allah), dan kalau kita adalah masjid. Maka, kita bertempat tinggal dekat dengan masjid atau anak-anak kita lebih sering ke masjid, mereka mencintai masjid.
- Cara kedua adalah mentarbiyah anak agar mendirikan shalat. Mendirikan shalat ini merupakan karakter umat Muhammad Saw sebagaimana yang uraian di atas. Nabi Ibrahim As bahkan lebih khusus di ayat yang ke-40 dari surat Ibrahim berdoa agar anak keturunannya tetap mendirikan shalat. Shalat merupakan salah satu pembeda antara umat Muhammad Saw dengan selainnya.
- Cara ketiga adalah mentarbiyah anak agar disenangi banyak orang. Orang senang bergaul dengan anak kita, seperti yang diperintahkan oleh Rasulullah Saw: “Berinteraksilah dengan manusia dengan akhlaq yang baik” (HR. Bukhari). Anak kita diberikan cerita tentang Rasulullah Saw, supaya muncul kebanggaan dan kekaguman kepada nabinya, yang pada gilirannya menjadikan Rasulullah teladannya.
- Cara keempat adalah mentarbiyah anak agar dapat menjemput rezki yang Allah telah siapkan bagi setiap orang. Anak ditarbiyah untuk memiliki life skill (keterampilan hidup) dan skill to life (keterampilan untuk hidup). Rezki yang telah Allah siapkan Setelah itu anak diajarkan untuk bersyukur.
- Cara kelima adalah mentarbiyah anak dengan mempertebal terus keimanan, sampai harus merasakan kebersamaan dan pengawasan Allah kepada mereka.
- Cara keenam adalah mentarbiyah anak agar tetap memperhatikan orang-orang yang berjasa—sekalipun sekadar doa—dan peduli terhadap orang-orang yang beriman yang ada di sekitarnya baik yang ada sekarang maupun yang telah mendahuluinya.
Demikian yang dapat saya sampaikan.
Wa billahi taufiq wal hidayah, war ridlo wal inayah. Mohon maaf atas segala kesalahan.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh (By: Kodar Slamet., SPd)
***
Sistematika Penulisan Naskah Pidato Agama Islam
Berdasarkan contoh naskah pidato agama Islam di atas, kita bisa melihat sistematika atau aturan dalam pembuatan sebuah naskah pidato agama Islam. Sistematika ini pada dasarnya bukanlah sebuah keharusan, karena dari segi penyampaian disesuaikan dengan pembuat naskah pidato agama Islam. Berikut ada beberapa poin yang bisa kita lihat sebagai sistematika penulisan naskah pidato agama Islam:
-
Salam pembuka, yang memuat ucapan salam kepada para hadirin pidato sebelum memulai menyampaikan pidato. Biasanya penyampai pidato menyebutkan terlebih dahulu tema pidato yang akan disampaikannya.
- Isi Pidato. Ini merupakan inti dari pidato agama Islam yang akan disampaikan. Isi pidato bisa disesuaikan dengan tema acara. Jangan lupa isi pidato juga harus melihat peserta atau audience-nya. Dalam membuat isi pidato agama Islam harus memperhatikan aspek kekonsistenan isi, kosa kata, dan tentu saja penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
- Penutup pidato, yang memuat kata-kata penutup untuk mengakhiri seluruh rangkaian pidato agama Islam yang telah disampaikan. Bagian penutup berisi salam penutup, puji terhadap Allah Swt, serta ucapan maaf. Untuk sebagian naskah pidato agama Islam yang lain, tidak jarang juga memuatkan untaian doa.

