Apakah Pidato Bahaya Merokok Efektif?
Kita tentu sering mendengar tentang kampanye ataupun pidato bahaya merokok yang disampaikan berbagai kalangan yang peduli dengan bahaya rokok. Poster, iklan, ataupun berbagai bentuk seruan dampak rokok bagi kesehatan begitu massif dilakukan. Namun seberapa efektif kampanye itu memberikan hasilnya, tentu perlu dikaji lebih jauh.
Berbagai kampanye anti rokok menyajikan informasi yang sangat lengkap tentang berbagai ancaman dan bahaya rokok, termasuk dampaknya. Dalam sebuah batang rokok yang dihisap terkandung setidaknya 40 jenis zat kimia aktif yang berbahaya bagi tubuh. Yang cukup banyak mendapat sorotan adalah kandungan nikotin dan tar.
Yang tak kalah mengerikan sebenarnya dampak jangka panjang rokok bagi kesehatan maupun vitalitas tubuh penghisapnya. Seperti bunyi kampanye atau pidato bahaya merokok yang tertera di bungkus rokok, yaitu bahwa merokok dapat menyebabkan terjadinya penyakit kanker, serangan jantung, impotensi atau lemah syahwat, gangguan pada kehamilan, maupun kecacatan pada janin.
Polutan
Asap yang dihasilkan dari sebatang rokok juga mengandung zat karbon monoksida (CO) yang berbahaya bila masuk dalam tubuh. Baik perokok aktif maupun perokok pasif, sama-sama memiliki risiko dengan menghisap asap rokok tersebut. Zat kimia ini dapat mengurangi kadar oksigen dalam darah dan mengganggu kerja metabolisme tubuh.
Secara sosial asap rokok dapat menyebabkan terjadinya kerusakan lingkungan. Andaikan saja dalam sebuah ruang diisi oleh beberapa orang yang sebagian besar perokok, maka kadar oksigen dalam udara di ruangan itu akan berkurang akibat adanya karbon monoksida sebagai polutan dari asap rokok. Ini tentu saja merugikan orang lain yang tidak merokok dalam ruangan itu karena tidak akan mendapatkan oksigen yang cukup dan segar untuk kebutuhan hidupnya.
Perang Media
Rokok sebagai produk yang dihasilkan dari tembakau tentu juga merupakan lahan bisnis yang menguntungkan bagi pengusaha rokok. Karena itu tak heran bila para pengusaha pun mengalokasikan anggaran yang tidak kecil untuk memasang iklan rokok di berbagai media massa. Bahkan iklan rokok ini terlihat begitu gencar dan ekslusif, meski tanpa memperlihatkan adegan orang merokok.
Iklan rokok yang demikian massif bertempur dengan kampanye anti rokok yang juga tak kalah gencarnya. Secara logika ini tentu saja kurang menguntungkan. Kampanye anti rokok, pidato bahaya merokok, maupun pembuatan peraturan daerah tentang larangan merokok di area tertentu, tentu saja tidak akan efektif. Apalagi para perokok bukannya tidak sadar terhadap bahaya maupun dampak buruk dari kebiasannya merokok terhadap kesehatannya.
Oleh karena itu mungkin perlu dirumuskan bentuk kampanye atau seruan lain yang lebih efektif dalam mengurangi jumlah perokok. Anak-anak dan wanita hamil tentu dapat menjadi sasaran utama kampanye anti rokok ini. Selain itu, mungkin kita dapat belajar dari negara lain dalam mengatur distribusi atau tempat penjualan rokok agar tidak mudah dijangkau semua orang.






