Pidato Basa Jawa, Tradisi Yang Menghilang
Ilustrasi pidato basa jawa
Pidato bahasa jawa pada saat ini sudah merupakan barang langka. Bukan hanya tentang prosesnya, namun juga tentang siapa yang mampu berpidato dalam bahasa jawa.
Juga kesempatan yang ada untuk memungkinkan munculnya pidato dalam bahasa jawa. Pada saat ini lebih sering ditemui dalam prosesi pernikahan.
Itupun terbatas jika pesta pernikahan itu dilakukan di daerah pinggiran. Sedangkan untuk pernikahan di perkotaan, pidato yang dilakukan lebih banyak disampaikan menggunakan bahasa Indonesia.
Pidato bahasa Jawa juga masih terdengar saat pelaksanaan khotbah Jum’at di masjid atau ketika pelaksanaan misa di gereja. Namun, untuk lokasi yang kedua tersebut, lebih sedikit intensitasnya daripada khotbah Jum’at di Masjid.
Mengapa Jarang?
Salah satu penyebab jarangnya penggunaan pidato bahasa jawa, selain karena masalah orang yang ahli, juga masalah gengsi. Bagi sebagian orang, bahasa jawa dianggap bahasa kelas dua, bahasa orang “ndeso”. Orang merasa lebih bergengsi dan terlihat bangga jika dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia.
Akibatnya, banyak keluarga yang lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar di rumahnya. Khususnya digunakan oleh orang tua saat mengajarkan anak-anak mereka di usia balita. Akhirnya anak menjadi lebih akrab dengan penggunaan bahasa Indonesia daripada bahasa Jawa.
Kalaupun mereka memahami bahasa Jawa, lebih pada tingkat bahasa pergaulan dengan rekan sebaya. Sehingga bahasa yang digunakan sekadar bahasa jawa kasar atau ngoko. Untuk bahasa kromo inggil yang digunakan untuk berkomunikasi dengan orang yang lebih tua, banyak anak-anak yang tidak menguasainya.
Pendidikan bahasa Jawa di sekolah pun masih sangat kurang. Dalam seminggu, siswa hanya diajari pelajaran bahasa Jawa selama dua jam pelajaran saja. Tentu ini sangat kurang untuk sebuah pembelajaran yang efektif.
Kampanye Bahasa Jawa
Untuk kembali menyuburkan tradisi pidato dalam bahasa Jawa, perlu sebuah terobosan. Salah satunya dengan mengkampanyekan pidato bahasa Jawa ini. Salah satu langkah yang bisa dilakukan dengan memanfaatkan rutinitas upacara bendera di sekolah-sekolah.
Pada hari tertentu, sekolah diminta untuk menyelenggarakan upacara dengan menggunakan pidato dalam bahasa Jawa. Cukup sebulan sekali. Tujuan utama adalah memperkenalkan tradisi yang sudah mulai langka tersebut. Sehingga pada nantinya tradisi tersebut tidak menjadi hilang.
Dan pada nantinya budaya Jawa bisa tetap bisa dilestarikan. Sehingga identitas bangsa yang salah satunya diwakili oleh tradisi Jawa yang di dalamnya terdapat keluhuran tradisi melalui pidato bahasa Jawa tetap terjaga.
Pidato bahasa Jawa pun nantinya tidak hanya akan terdengar saat prosesi pernikahan digelar. Namun lebih jauh, bisa mewarnai segenap aspek kehidupan dan menjadikan citra Indonesia sebagai bangsa yang menghargai budaya tidak akan pudar.

