Independensi Politik Pakistan
Ilustrasi politik pakistan
Politik pakistan dirundung malang. Negeri ini terus dibalut kekacauan. Konflik vertikal menjurus horizontal. Para pejuang garis keras terus mengoyak keamanan Pakistan. Bom di mana-mana. Korban terus berjatuhan. Politik pakistan kisruh. Presiden Hamid Karzai dituding tidak sanggup menciptakan ketentraman.
Para pengamat menilai Pakistan terlalu bergantung pada Amerika Serikat. Pakistan menjadi mitra strategis bagi AS di Timur Tengah. Perlawanan terhadap teroris menjadi alasan kuat. Namun, bukannya semakin baik, dampak buruk kian terasa. AS dan sekutu dipandang musuh sejati para ekstremis garis keras. Mereka bersikeras terus melawan, jika AS dan sekutu masih bercokol di tanah Pakistan.
Netral atau Independen?
Tidak ada negara yang netral 100%. Netralitas tidak akan utuh. Setiap negara mempunyai national interest. Maka menjadi netral, mustahil terwujud. Pasti arah kebijakan akan condong ke arah tertentu.
Nah, Pakistan berada pada dua sisi yang diametral. Kepentingan AS yang merecoki Pakistan. Lalu, agenda AS dan sekutu untuk menumpas Taliban. Dampak positif, limpahan dolar mengalir ke rekening Pakistan. Bantuan deras berdatangan. Namun, independensi kian tergadai. AS tidak akan bersikap naif. No free lunch. National interest mereka akan menjadi acuan kebijakan. Maka Pakistan dianggap subordinat dari kepentingan AS.
Politik Pakistan terus-menerus digoncang prahara karena tidak sanggup mengurus nasib sendiri.Perang terhadap Taliban bahkan menjadi domain utama AS. Pakistan sulit untuk melakukan akselerasi. Gerak Pakistan harus sejalan dengan konsensus Washington.
Bukan rahasia lagi jika debt trap kerap diberikan pada negara berkembang. Namun gejala yang tampak, membawa kesan berbeda. Presiden Hamid Karzai masih akan menggandeng AS sebagai mitra utama. Dalam bocoran informasi yang diperoleh disebut bahwa Hamid Karzai dan kolega meraup untung dari kebijakan ini.
Relasi Ideal
Pakistan harus segera menentukan sikap. Krisis politik di sini berpangkal dari sentimen asing. Bukan rahasia lagi jika AS dipandang musuh oleh sebagian orang di Timur Tengah. Posisi Pakistan dan AS harus setara (egaliter). Lambat laun Pakistan harus membiayai sendiri kebutuhan nasional mereka. Bergantung pada AS bukan penyelesaian jangka panjang.
Militer AS di Pakistan juga harus segera angkat kaki. Toh, terbukti Taliban masih eksis dan mampu melawan sergapan militer AS dan sekutu. Politik berdaulat akan membawa kewibawaan. Martabat bangsa akan terangkat kembali. Masyarakat Pakistan akan menaruh simpati pada pemerintah.
Dunia internasional berharap balada krisis politik ini agar cepat berakhir dan Pakistan bisa mereguk stabilitas politik.

