Mencoba Memahami Maksud Poster Layanan Masyarakat
Indonesia itu mempunyai banyak orang-orang kreatif. Buktinya sudah begitu banyak anak muda Indonesia yang meraih predikat kreatif di banyak bidang terutama bidang grafis dan desain. Indonesia tidak pernah kehabisan stok kreatifitas. Pun termasuk pembuatan poster layanan masyarakat. Gambarnya bagus-bagus. Pesannya komunikatif.
Namun terkadang, poster itu berbicara, tapi tak bermakna apa-apa bagi masyarakat. Misalnya, poster layanan masyarakat yang berkaitan dengan penebangan liar. Sepertinya poster serupa sudah bertahun-tahun ada, tapi penebangan liar tetap saja banyak terjadi. Cobalah Pahami maksud poster layanan masyarakat secara lebih dalam sehingga poster itu tidak hanya sebatas karya kreatifitas belaka.
Poster Layanan Masyarakat dan Tanggapan Masyarakat
Kurang poster layanan masyarakat seperti apa lagi untuk menyadarkan masyarakat akan bahaya rokok. Akan tetapi lihatlah sekitar kita. Bandingkan orang yang merokok dengan yang tidak merokok. Tentu lebih banyak yang merokok. Dampaknya? Perokok pasiflah yang lebih menderita. Tahukah si perokok? Mereka tak pernah peduli.
‘Perokok adalah makhluk paling egois sedunia’. Ingin sekali kalimat itu tertera di poster layanan masyarakat. Jangan-jangan pembuat poster, yang memesan dan yang memasang poster tersebut juga adalah para perokok berat. Nah, kalau sudah begini bagaimana pesan poster layanan masyarakat itu akan sampai kepada orang lain?
Sulit memang kalau poster layanan masyarakat hanya dianggap sebagai tempelan semata. Ada sih beberapa poster layanan masyarakat yang berhasil tapi itu zaman dulu zaman masih dalam pemerintahan Presiden Suharto. Poster layanan tentang Keluarga Berencana. Pada saat itu pemerintah tidak berhenti hanya pada poster tapi juga peraturan yang benar-benar serius diterapkan. Hasilnya memang luar biasa.
Kini, lihatlah kalau poster layanan hanya sebagai poster hasil karya indah para pembuatnya tanpa diikuti dengan program serius dari pemerintah, poster itu hanya tinggal poster. Misalnya, poster layanan masyarakat mengenai pengurangan asupan beras dan menggantinya dengan makanan lain yang mengandung karbohidrat yang sama.
Hasilnya? Belum atau tidak kelihatan sama sekali. Para penggede negeri saja sulit melepaskan diri dari beras, apalagi masyarakat kecil yang perutnya sudah terbiasa dengan nasi.
Sehari tanpa nasi. Sukseskah hari itu? Bahkan, tidak banyak yang tahu bahwa ada satu hari dalam satu tahun yang diperingati sebagai hari tanpa nasi. Kalau sudah begini, apalagi yang bisa diperbuat? Tetap pasang poster layanan masyarakat yang baik, tapi penerapan peraturannya juga harus terus digalakan.
Poster tentang bahaya penyakit AIDS, masih cukup efektif walaupun tidak mengurangi laju pertambahan angka pengidap penyakit AIDS. Yang agak miris adalah poster layanan masyarakat yang mengajak untuk tidak korupsi. Memang banyak yang takut terpeleset pada korupsi, tapi kalau sudah bersama-sama, kayaknya semua jadi berani. Lalu poster itu? Ya, tinggal poster belaka.
Di beberapa instansi dipasangi poster layanan masyarakat yang menyangkut tata cara pengurusan perijinan atau perpanjangan KTP, SIM, STNK, dan lain-lain termasuk biaya yang akan dikeluarkan. Tapi di lapangan kadang ceritanya lain. Terutama yang menyangkut biaya.
Tidak harus disebutkan di daerah mana saja. Tapi rasanya masyarakat sudah maklum dengan ironisasi seperti itu. Memang tidak semua daerah. Pasti ada daerah-daerah yang benar-benar menerapkan apa yang sudah tertera di poster layanan masyarakat.
Bila pesan poster tinggal pesan tanpa makna, maka apalagi yang harus dilakukan untuk memahami maksud dari poster layanan masyarakat tersebut? Kepada pihak yang berkepentingan dengan pembuatan dan pemasyarakatan poster layanan masyarakat, tolonglah peraturan yang ada dilaksanakan dengan saksama dan sesuai dengan peruntukannya. Jangan sampai pembuatan poster hanya sebagai pengalihan atau penghamburan uang rakyat semata.






