Mantan Presiden Habibie - Kesetiaan Cinta Sang Presiden
Ilustrasi presiden habibie
Indonesia telah mengganti kepala negaranya lebih dari satu kali. Para presiden tersebut memiliki ceritanya tersendiri.
Presiden Habibie menjadi salah satu presiden kebanggaan Indonesia yang memiliki ceritanya tersendiri. Cerita dari Presiden Habibie yang cukup terkenal dan menarik perhatian dalah cerita cintanya.
Presiden Habibie dan Kontroversi Politik
Perkenalannya dengan Ainun
Kisah kesetiaan cinta ini berawal dari pertemuan mantan Presiden Habibie muda dengan seorang Hasri Ainun Besari (Ainun) di rumah orang tua Ainun, Jalan Ranggamalela 21 Bandung.
Sebenarnya, ini adalah pertemuan kembali setelah kurang lebih tujuh tahun lamanya mereka berpisah. Ainun sebelumnya telah lama dikenal oleh Presiden Habibie. Mantan Presiden Habibie lahir di Pare-pare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936.
Bacharuddin Jusuf Habibie (Habibie) menghabiskan masa kecilnya di sana. Kemudian, ketika ayahnya meninggal karena serangan jantung, 3 September 1950, Habibie pindah ke Bandung. Presiden Habibie saat itu bersekolah di Gouvernments Middlebare School (setingkat SMA).
Di sinilah, Habibie mengenal Ainun yang merupakan adik dari teman bermainnya. Setelah tamat SMA di Bandung tahun 1954, Habibie masuk Universitas Indonesia di Bandung (Sekarang ITB).
Presiden Habibie hanya setahun di sana, kemudian ia melanjutkan kuliahnya di Technische Hochschule, Jerman hingga mendapatkan gelar Diploma tahun 1960 dan gelar Doktor tahun 1965.
Siapa tak kenal cerita Romeo & Juliet? Roman karya William Shakespeare itu telah menginspirasi jutaan manusia akan cerita kesetiaan cinta. Ternyata, kisah serupa juga terjadi di jaman sekarang.
Ini adalah kisah nyata, kisah cinta mantan Presiden Habibie. Presiden ketiga Indonesia. Presiden Habibie menjadi presiden ke tiga yang dimiliki Indonesia. Presiden Habibie menjabat pada masa transisi antara orde baru dengan masa reformasi.
Dunia politik Indonesia sempat bergolak pada masa itu. Presiden Habibie ditunjuk menjadi kepala negara untuk menggantikan Presiden Soeharto. Penggulingan yang dilakukan terhadap kekuasaan Presiden Soeharto sempat menggegerkan Indonesia dalam segala bidang.
Diangkatnya Presiden Habibie sebagai kepala negara pun bersifat sementara dan terkesan dadakan. Hal ini dapat terlihat dari masa jabatan yang dipegang oleh Presiden Habibie.
Presiden Habibie tercatat dalam sejarah Indonesia menjabat hanya dalam kurun waktu 1 tahun 5 bulan. Sebuah masa jabatan yang tidak sesuai aturan.
Presiden Habibie menjadi saksi bisu pergolakkan yang dialami Indonesia. Beliau seolah ditumbalkan karena rasa kecewa yang dirasakan oleh masyarakat Indonesia kepada presiden sebelumnya, yaitu Presiden Soeharto.
Pengangkatan Presiden Habibie saat itu pasti di luar perkiraan para pejabat di Indonesia. Terlebih dengan peristiwa pergolakkan yang terjadi di Indonesia saat itu. Masa jabatan mantan Presiden Soeharto yang sudah berjalan selama kurang lebih 32 tahun, akhirnya "dipaksa" untuk runtuh.
Pernikahan Mantan Presiden Habibie
Ketika ia masih kuliah, Presiden Habibie menyempatkan diri pulang untuk liburan ke Bandung. Kepulangan yang kemudian mempertemukan ia dengan Ainun yang saat itu telah menyelesaikan pendidikannya sebagai seorang dokter lulusan Universitas Indonesia (UI).
Presiden Habibie pun menikahi Ainun pada tanggal 12 Mei 1962, dan dikaruniai dua orang putra, Ilham Akbar dan Thareq Kemal.
Berjanji setia selalu disampingnya, itulah janji yang Habibie ucapkan kepada Ainun.
Selama Habibie menyelesaikan studi dan bekerja di industri pesawat terbang terkemuka MBB Gmbh Jerman, Ainun setia mendampingi.
Melepas kesempatan berkarier sebagai seorang dokter, dan memilih fokus mengurus rumah tangga. Hingga Presiden Soeharto memanggil Habibie untuk pulang ke Indonesia, Ainun selalu berada di sisinya.
Di Indonesia, selama 20 tahun Habibie menjabat sebagai Menteri Negara Ristek/Kepala BPPT, memimpin 10 perusahaan BUMN Industri Strategis, dipilih MPR menjadi Wakil Presiden RI, dan menjadi Presiden RI ke-3 menggantikan Soeharto.
Ainun tetap setia mendampingi. Dipilihnya Habibie menjadi seorang presiden memunculkan polemik di masyarakat Indonesia. Namun, Presiden Habibie tetap memberikan yang terbaik meskipun waktu yang diberikan padanya untuk memimpin Indonesia hanya sekejap.
Kemesraan pasangan ini tak pernah memudar walaupun usia mereka tak muda lagi dan sudah dikarunia 4 orang cucu. Perhatian, penghargaan, kasih sayang, senantiasa terpancar di antara keduanya. Tak ada yang bisa memisahkan mereka kecuali maut yang menjemput Ainun tanggal 22 Mei 2010, pada usia 72 tahun. Kesedihan pun terlihat jelas di raut muka mantan Presiden Habibie ketika istri tercintanya pergi untuk selamanya.
Kisah Cinta Presiden Habibie – Ciuman Perpisahan
Pada tanggal 24 Maret 2010, Hasri masuk ke Rumah Sakit Ludwig-Maximilians-Universitat, Klinikum Gro`hadern, Munchen, Jerman.
Selama di sana, Ainun telah menjalani sembilan kali operasi akibat penyakit komplikasi yang dideritanya.
Selama itu pula (dua bulan kurang enam hari), mantan Presiden Habibie tak pernah beranjak jauh dari Ainun. Ia selalu berada di sampingnya. Padahal, rumah kediaman mereka tak begitu jauh dari rumah sakit. Tapi Habibie tak pernah sekali pun pulang, meninggalkan Ainun.
Setelah melewati masa kritis sekitar 1 hari di mana hidupnya ditopang oleh alat medis, Ainun meninggal dunia. Sejak menikah hingga Ainun terbaring kritis di rumah sakit, sedetik pun mereka tak pernah berpisah. Saat maut menjemputnya, Ainun berbaring dalam pelukan mantan Presiden Habibie yang kemudian mengantarnya dengan sebuah ciuman perpisahan.
Jenazah Hasri Ainun Habibie kemudian diberangkatkan tanggal 24 Mei 2010 dari Jerman dan tiba di Jakarta pada tanggal 25 Mei 2010. Lalu dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata pada hari yang sama. Di sampingnya, telah disiapkan pula sebuah lubang makam untuk mantan Presiden Habibie. Atas permintaannya, mantan presiden itu ingin ketika meninggal nanti ia dimakamkan tepat di samping istri tercintanya itu.
Acara pemakaman yang disiarkan langsung oleh televisi-televisi di Indonesia, jadi saksi bagaimana berdukanya seorang mantan Presiden Habibie. Selama dari Jerman hingga mengantar Ainun ke peristirahatan terakhirnya, mendung duka tak pernah beranjak dari wajah salah satu orang jenius yang dimiliki bangsa Indonesia itu. Ia benar-benar berduka atas kepergian pasangan jiwanya, Hasri Ainun Habibie.
Kebersamaan selama 48 tahun 10 hari, membuat mantan Presiden Habibie tak mudah melepas kepergian Ainun. Berbagai keluhan fisik (psikosomatis) akibat duka yang mendalam, mulai dirasakan Habibie. Ia pun harus bergelut dengan rasa kehilangan mendalam.
Akhirnya, sebagai upaya untuk mengikhlaskan kepergian Ainun dan mengobati psikosomatis yang dideritanya, mantan Presiden Habibie memutuskan menuliskan kisah perjalanan hidupnya bersama sang istri, Hasri Ainun Habibie.
Buku berjudul “Habibie Ainun” dan setebal 323 halaman itu, rampung ditulis pada awal November 2010 dan langsung diluncurkan pada 30 November 2010. Penulisan buku itu seolah jadi obat bagi Habibie. Sebuah terapi baginya, seorang “Romeo” yang telah teruji kesetiaannya selama puluhan tahun dan harus rela melepas kepergian sang “Juliet”. Sebuah kisah nyata yang teramat menyentuh dan menginspirasi siapa pun atas kesetiaan cinta hingga kematian mengakhiri. Setia sampai mati.
Mantan Presiden Habibie benar-benar menunjukkan rasa cintanya pada sang istri, bahkan hingga akhir hayat. Perjalanan cinta sang jenius dari Sulawesi ini tertambat selamanya di tanah Pasundan. Dengan segenap hati dan perasaan yang Tuhan anugerahkan untuknya, mantan Presiden Habibie memberikan cinta seutuhnya untuk Hasri Ainun Habibie, sang istri.

