Kesederhanaan dan Kedekatan Presiden Soekarno pada Rakyat
Ilustrasi presiden soekarno
Presiden Soekarno, yang merupakan presiden pertama Indonesia, mungkin adalah presiden yang paling dekat dengan rakyatnya -dalam konteks begitu mudahnya orang saat itu berdialog dengan beliau. Maklum, saat itu, masih ada ikatan yang kuat antarsesama pejuang kemerdekaan sehingga batasan antara presiden, orang tertinggi negara dengan rakyat, menjadi nyaris nihil.
Sate Lima Puluh Tusuk
Kita bisa melihat dari contoh sepele. Setelah Soekarno menjadi presiden RI pertama, perintah pertama beliau bukanlah menyusun peraturan atau apa. Perintah pertama beliau adalah memesan sate ayam. Bagaimana hal ini terjadi? Dikisahkan, dalam perjalanan pulang setelah resmi menjadi Presiden, Soekarno melihat seorang tukang sate yang lewat.
Saat itu, spontan Soekarno memesan sate sebanyak lima puluh tusuk. Tidak hanya untuk sang presiden sendiri, tetapi juga bersama rombongan. Lokasinya tak kalah “mentereng”, cukup di dekat sebuah selokan sambil berjongkok pula. Sederhana sekali, bukan? Bandingkan dengan perjamuan mewah yang dilakukan oleh presiden-presiden berikutnya.
Ramah kepada Siapa Pun
Soekarno juga dikenal sebagai presiden yang ramah terhadap siapa saja. Hal ini bisa dilihat dari pertemuannya dengan Musso, yang saat itu menjadi “sekretaris rahasia” duta Besar Indonesia untuk negara-negara Eropa Timur, Soeripno. Seperti yang kita ketahui, Musso adalah salah satu tokoh PKI yang kemudian memberontak di Madiun pada 1948.
Peristiwa pelukan Soekarno-Musso itu terjadi pada 13 Agustus 1948. Dalam peristiwa itu, Soekarno bahkan memeluk Musso, yang ternyata adalah senior Soekarno dalam berpolitik, ketika Soekarno masih tinggal (kos) di rumah HOS Cokroaminoto, seolah melepas kerinduan yang sekian lama tidak tertumpahkan.
Soekarno juga tidak segan untuk menyatakan kekagumannya kepada Musso, yang dicatat dalam buku Soe Hok Gie yang terkenal, Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan (2005, Bentang Pustaka): “Musso ini dari dulu memang jago. Ia yang paling suka berkelahi. Ia memang jago pencak. Juga orang yang suka main musik. Kalau pidato, ia akan nyincing lengan bajunya”.
Sayang, tak lebih belasan hari dari pertemuan itu, Soekarno dan Musso berada dalam dua pihak berlawanan. Musso dengan PKI-nya yang memberontak dan gagal, Soekarno dengan negara Indonesia yang mesti menghentikan pemberontakan. Akan tetapi, bagaimana pun, kita bisa melihat betapa tidak kenal gengsi atau remeh-temeh lainnya presiden pertama kita ini.
Barangkali, yang hilang dari Indonesia saat ini adalah sikap Soekarno yang satu ini: tidak mengunggulkan citra, tetapi lebih mengutamakan kesederhanaan. Anda setuju?

