Problematika Dunia Kerja: Gaya Gesek Orang Sulit
Wolsthorpe, England. Pada 1643 seorang bayi lelaki lahir prematur. Tubuhnya begitu mungil dan kurus, bahkan tak seorang pun menduga ia akan mampu bertahan hidup. Ayahnya meninggal sebelum ia lahir. Ibunya menikah lagi, anak malang itu lalu dititipkan pada neneknya.
Di sekolah, dia sama sekali tidak menonjol, bahkan sering diejek teman-temannya karena dianggap bodoh, pendiam, pemalu, serta mudah tersinggung. Namun kelak anak ini akan menjadi penemu paling cemerlang yang pernah ada di bumi, dialah Newton.
Newton pernah menyelidiki gerak benda di permukaan kasar. Ia berkesimpulan, semakin kasar dua permukaan yang saling bersinggungan, maka makin sulit benda tersebut digerakkan.
Setelah diselidik oleh Newton, ternyata hal tersebut disebabkan adanya "friksi" atau gesekan. Besarnya gaya gesek ini ditentukan oleh faktor koefisien gesek, massa benda, dan gravitasi.
Pada permukaan yang halus, gaya geseknya kecil, sedangkan pada permukaan yang kasar, gaya geseknya besar. Gaya gesek inilah yang menyebabkan gerak benda menjadi terhambat dan berhenti. Makin besar koefisien geseknya, maka makin sulit ia bergerak. Namun bila sudah bergerak, maka akan menimbulkan gesekan yang besar di sepanjang permukaan.
Kita bisa mengambil pelajaran dari fenomena sains tersebut. Di sekitar kita banyak orang yang memiliki koefisien gesek yang besar. Mereka adalah orang-orang yang sulit. Sulit berkomunikasi, sulit berkompromi, sulit melihat orang senang, namun kalau bicara selalu mau menang sendiri, arogan, mudah menyerang dan selalu merasa benar.
Mereka adalah orang-orang yang kita hindari, bahkan kalau mungkin kita tidak perlu berurusan dengan mereka lagi. Sebab bila berinteraksi dapat menimbulkan gesekan yang menyakitkan hati.
Dalam realita kehidupan, terutama dunia kerja, kita kerap dihadapkan dengan orang-orang semacam ini. Kehadirannya merupakan problematika dunia kerja yang mau tidak mau harus kita hadapi dengan sabar.
Dalam bukunya Getting Past No, William Ury menulis tiga respon alami manusia ketika menghadapi orang sulit. Ketiga respon tersebut adalah:
- Strike back (menyerang),
- Give in (menyerah)
- Break-off (putus hubungan)
Ketiga reaksi ini tidak akan menyelesaikan masalah, malah akan memperbesar gesekan. Cara terbaik mengadapi orang sulit menurut William Ury ada lima langkah. Kelima langkah itu adalah:
- Mengambil jarak untuk merenung
- Berusaha menjadi kawan
- Jangan melakukan penolakan terhadap gagasan atau idenya
- Menyelamatkan mukanya apabila dia terpaksa harus mengalah
- Berilah dia kesempatan untuk melihat "dunia" agar terbuka seluruh wawasannya.
Orang yang sulit itu pada dasarnya adalah orang yang kurang mengenal dunia. Berkutat pada hal yang sama, cuma itu-itu saja. Ibarat mobil yang pistonnya aus terkelupas. Dia butuh pelumas untuk mengurangi gesekannya yang panas. Biarkanlah ia pergi untuk mengenal dunia yang luas.
Hadapilah orang sulit dengan bertindak cerdas, jangan cepat emosi dan panas.






