Profesi
Setiap tahun, dunia pendidikan di Indonesia meluluskan ribuan sarjana yang belum tentu semuanya terserap ke dalam dunia kerja. Di dunia kerja sendiri, ada banyak orang yang bekerja, tetapi terpaksa menerima profesi tersebut meskipun tidak sesuai dengan jurusan pendidikan dan titel yang ia raih.
Ada sarjana teknik nuklir, bekerja di dunia televisi. Ada sarjana sastra yang bekerja di pabrik pengolahan besi. Ada sarjana pendidikan nyambi menjadi sopir taksi. Aneh, tapi begitulah kenyataannya. Hal yang lebih aneh lagi, ada yang hanya lulusan SD malah menjadi pemilik perusahaan dengan ribuan karyawan, dan mayoritas karyawannya adalah sarjana S1 dan S2. Nah, lho? Bagaimana ini?
Itulah yang terjadi di negeri ini. Sudut pandang konvensional yang mengatakan bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan seseorang, maka hidup dan pekerjaannya pun akan makin mapan menjadi nisbi. Ternyata, tingkat pendidikan formal seseorang belum tentu bisa menjadikannya seorang profesional di dunia kerja, sesuai dengan ijazahnya. Profesi seseorang belum tentu berdasarkan ijazah yang diterimanya. Dan, memang demikianlah yang terjadi.
Profesi adalah status seseorang yang berkaitan dengan pekerjaan berdasarkan keahlian yang dimilikinya. Keahlian itui sendiri belum tentu berdasarkan ijazah yang didapatkannya secara formal. Keahlian yang didapatkannya bisa jadi karena ia belajar secara otodidak, mengikuti kursus tambahan, atau hobi dan beberapa alasan lainnya.
Alasan yang kerap muncul berkaitan dengan pilihan pekerjaan ini adalah masalah ekonomi. Hal ini sebenarnya sah-sah saja. Apa pun pekerjaan dan seseorang, asalkan itu adalah halal, maka itu bukan masalah yang pantas dipersoalkan.
Hal yang bisa menjadi persoalan adalah kadang kita terpaksa mengubur dalam-dalam hasrat, hobi, dan potensi terbesar kita hanya karena tidak adanya kesempatan untuk meraihnya. Potensi yang seharusnya muncul dan menjadi raksasa kreativitas, terpaksa tertidur tak berdaya, saat dibenturkan pada kenyataan bahwa peluang yang menghampiri adalah rezeki yang sama sekali berbeda dari obsesi kita. Profesi yang dilakoni, meski berlimpah rejeki, tetap tidak sesuai dengan hati nurani.
Ini seperti bom yang sewaktu-waktu bisa meledak kapan saja. Situasi dan kondisi seperti inilah yang akhirnya memunculkan banyak kisah tentang profesional yang stres, depresi, dan gagal dalam menciptakan kebahagiaan hidupnya. Ujung-ujungnya, penyakit yang awalnya karena psikosomatis (kejiwaaan), berkembang menjadi penyakit degeneratif, seperti stroke, jantung, atau darah tinggi.
Apakah Anda akan mengorbankan jiwa Anda seperti ini? Jawabannya bisa \"YA\" dan bisa juga \"TIDAK\". Setiap orang punya alasan dan pilihannya sendiri dalam memilih profesinya, meskipun tak sesuai hati nurani. Lantas, hal seperti apakah yang bisa dilakukan?
Jujur Terhadap Diri Sendiri
Usahakan ada waktu untuk melakukan dialog internal, yakni berdialog dengan diri Anda sendiri. Tanyakan kepada diri Anda, apa sebenarnya yang Anda butuhkan. Dari dunia kerja dan profesi, apakah yang sebenarnya Anda cari? Uang, status, pengalaman, atau hal lain? Temukan jawabannya dengan jujur. Proses berdialog dengan diri sendiri ini adalah hal yang sangat penting. Analisis SWOT perlu dilakukan terhadap potensi diri sendiri.
Apa hobi Anda? Berawal dari sekadar hobi, jika ditekuni, bisa menjadi rezeki. Jika kita mengerjakan sesuatu yang kita suka, energi dan semangat kita menjadi luar biasa. Apalagi jika hobi itu bisa kita olah menjadi ladang usaha untuk profesi kita. Turun-naiknya kondisi bisnis pun tetap akan dinikmati sebagai suatu hobi yang menyenangkan.
Ada banyak contoh pengusaha sukses yang berangkat dari hobinya sendiri. Ada pengusaha sukses di dunia kuliner, yang mempunyai cabang di puluhan tempat, semuanya berawal dari hobinya memasak. Ada pemilik butik yang mempunyai outlet di dalam dan di luar negeri, semua berawal dari hobinya menggambar. Selalu ada hadiah yang indah dari setiap perjuangan dan ikhtiar penuh kesungguhan.
Asah keahlian Anda, \"practise makes perfect\". Pepatah ini ada benarnya. Segala hal yang tidak dilatih akan hilang dengan sendirinya. Begitu pula skill atau keahlian. Apa pun keahlian Anda, asahlah hal tersebut semaksimal mungkin. Jadikan hal tersebut menjadi milik Anda. Ibarat seorang berlatih memanah, dia dituntut untuk bisa akrab dengan anak panah dan busurnya terlebih dahulu, sebelum berlatih menembakkan busurnya ke sasaran.
Melepaskan anak panah pun belum tentu langsung bisa tepat sampai sasaran. Kadang meleset dan jatuh dulu. Tapi, jika bisa terus dilatih, maka hal itu bisa menjadi sebuah ketepatan. Keahlian, atau sisi profesionalisme seseorang pun demikian. Dibutuhkan niat baik, keuletan, kesabaran, dan keyakinan terus-menerus untuk bisa berhasil meraih prestasi puncak.
Perluas Jaringan Kerja
Silaturahmi membawa berkah. Tambah teman, tambah sahabat, akan memperluas rezeki kita. Dan di zaman teknologi ini, media pertemanan selain dengan offline, juga bisa ditempuh lewat online. Ada banyak group pertemanan semacam Facebook dan Twitter yang bisa dijadikan media untuk menambah jaringan pertemanan.
Luasnya jaringan pertemanan pun harus kita seleksi. Dalam wilayah kerja dan profesi, pilihlah lingkungan pertemanan atau habitat yang sama dengan minat dan hobi Anda. Namun, dalam sisi pergaulan dan persahabatan, Anda bisa berteman dengan siapa saja. Semakin banyak lingkungan pertemanan Anda, maka makin luaslah potensi terbukanya jalan bagi rezeki Anda menjadi lebih baik. Profesionalisme Anda pun semakin bisa terbangun dengan maksimal.
Pengalaman adalah Guru Terbaik
Pengalaman adalah guru yang terbaik. Untuk bisa mengetahui pengalaman dalam bidang profesi yang Anda pilih, Anda boleh melakoninya sendiri. Namun, Anda bisa juga menimba pengalaman dari orang yang telah terlebih dahulu mengalaminya.
Saran, kritik, masukan, dan strategi yang diberikan oleh orang yang lebih berpengalaman akan sangat membantu Anda dalam menjalankan profesi Anda. Hal ini akan membuat amunisi persenjataan Anda lebih lengkap. Anda akan lebih menghemat waktu dan biaya saat bisa menimba ilmu dari orang yang lebih berpengalaman. Waktu dan biaya lainnya bisa Anda alokasikan untuk melakoni hal lain yang sama pentingnya.
Memilih profesi yang tepat untuk Anda sebenarnya adalah proses pribadi. Ini melibatkan kemauan dan keikhlasan Anda untuk bisa menerima kekurangan dan kelebihan diri Anda sendiri. Jika memang ada banyak kekurangan, berarti ini saatnya Anda belajar.
Manusia berhak belajar apa pun tanpa dibatasi oleh jurusan dan fakultas. Sistem pengkotak-kotakan mata pelajaran adalah satu sistem yang dibuat oleh manusia juga, demi kepentingan efektivitas dan bisnis. Namun sebenarnya, Anda mempunyai otoritas bebas terhadap pilihan karier Anda. Apa pun itu karier pekerjaan yang Anda pilih.
Hal yang harus diingat adalah bahwa kita semua berjalan dalam garis waktu. Ada proses yang harus dilewati. Adalah sebuah hal yang mustahil jika Anda mengharapkan kesuksesan dalam waktu singkat. Proses disini mempunyai banyak sisi, ada sisi yang berguna untuk menggembleng kepribadian, selain itu, ada sisi yang berguna untuk menggembleng pengetahuan.
Segala macam bentuk gemblengan tadi mensyaratkan hal yang sama, yaitu niat dan totalitas. Tanpa adanya niat, semua hal menjadi hambar. Tanpa adanya totalitas, maka hasil yang didapatkan pun menjadi setengah-setengah. Setia pada proses untuk menemukan karier yang paling tepat, adalah pilihan tindakan yang paling benar.
Apa impian pekerjaan Anda? Semua bergantung pada diri Anda sendiri. Segala hal yang Anda tanam, pasti akan Anda panen. Maka, pilihlah bibit niat yang paling unggul, lalu tanamlah dalam pikiran bawah sadar Anda bahwa itu yang terbaik dan Anda bisa meraihnya. Lakukan perawatan dengan teratur sambil menunggu panen yang Anda nantikan. Selamat berproses, Kawan-Kawan.
Sebuah catatan:
Kebudayaan orang-orang kuno telah menginventarisasikan segala hal yang berkaitan dengan alam semesta. Manusia dan alam semesta adalah satu sistem yang saling berkaitan. Kebudayaan Tiongkok, Jawa, Islam, maupun Eropa mempunyai cara tersendiri untuk mengetahui potensi setiap manusia.
Mempelajari potensi manusia adalah pilihan bijak. Jika Anda tidak punya waktu untuk mempelajarinya, silakan bertanya pada para ahlinya. Tidak ada salahnya mengetahui sudut pandang dari sisi yang lain, agar wacana kita menjadi lebih lengkap.
Permasalahan benar dan tidaknya, itu adalah keyakinan Anda sendiri. Yang terutama adalah ikhtiar Anda untuk bisa menemukan mutiara terpendam dalam diri Anda yang mewujud sebagai profesi impian yang sesuai dengan potensi dan keinginan Anda.

