Tips Mengatasi Proses Diare
Ilustrasi proses diare
Diare merupakan penyakit yang umum dialami saat terjadi gangguan dalam saluran pencernaan. Proses diare biasanya berawal dari makanan yang masuk ke tubuh. Baik makanan yang kotor dan mengandung bakteri, tidak higienis, terlalu pedas, ataupun makanan yang telah basi atau kedaluwarsa.
Diare Perlu Diwaspadai
Penyakit diare ditandai dengan gejala saat buang air besar yang berbeda dari biasanya. Baik dari segi frekuensi yang lebih sering maupun bentuknya yang lebih cair, bahkan hanya berbentuk cairan atau lendir. Frekuensi ini berbeda-beda untuk setiap orang, namun umumnya bila dilakukan lebih dari tiga kali, maka dapat diindikasikan sebagai gejala diare.
Tak jarang, proses diare diikuti dengan gejala lain yang perlu diwaspadai. Seperti saat buang air besar, bukan hanya berbentuk cair, namun diikuti dengan keluarnya darah. Ada juga yang disertai dengan muntah-muntah, sehingga disebut muntaber atau muntah dan berak. Gejala-gejala ini muncul sebagai tanda terjadinya infeksi dalam saluran pernafasan maupun adanya komplikasi yang lebih luas.
Diare, yang diindikasikan dengan tinja yang encer, lebih mengacu pada seringnya BAB yang terjadi dari pada kepadatan. Ada berbagai macam kondisi yang membuat tinja bayi berair atau bayi menderita diare (yang tidak mengkhawatirkan), seperti ketika bayi sedang tumbuh gigi, perubahan pola makan (jika bayi sudah dikenalkan dengan makanan padat, dan perawatan dengan atibiotik (jika bayi diberi resep antibiotik oleh dokter).
Diare yang mengkhawatrikan adalah diare yang disebabkan oleh infeksi usus dan lambung. Biasanya diare yang disebabkan oleh peradangan lambung dan usus akibat infeksi ditandai dengan mengalirnya tinja secara terus menerus (bahkan ada yang sampai berak 3 menit sekali), berair, berwarna hijau, berbau busuk, berlendir, terjadinya tiba-tiba, dan terkadang ada bercak darah.
Penyakit diare sendiri adalah gangguan kesehatan yang dialami seseorang dan membuat penderitanya terus-menerus ingin buang air besar dalam frekuensi yang lebih sering dari pada orang normal. Selama diare, kotoran yang dikeluarkan pun memiliki ciri encer.
Diare adalah suatu kondisi ketika tubuh Anda mengalami frekuensi buang air besar tidak seperti yang normal seharusnya terjadi, yaitu lebih dari satu atau dua kali dalam sehari. Sebaiknya Anda tidak menganggap remeh diare karena penyakit ini dapat menyebabkan kematian.
Gejala diare biasanya disertai dengan gejala tambahan seperti mual, muntah, rasa tidak enak di perut, mules, haus, demam, dan lemas karena dehidrasi. Pada anak-anak dan orang tua di atas 65 tahun, diare sangat berbahaya. Bila penanganan terlambat dan mereka jatuh ke dalam dehidrasi berat, maka bisa berakibat fatal.
Diare terjadi akibat dari berkurangnya kemampuan usus besar dalam menyerap air yang terdapat dalam kotoran. Pada orang dewasa penyebab paling sering dari gangguan ini adalah bakteri E. Coli dan Salmonella.
E.coli sebenarnya bakteri yang normal hidup dalam usus besar kita, sayangnya jika jumlahnya terlalu banyak, maka ia akan menjadi berbahaya dan menganggu proses penyerapan air, sehingga menyebabkan diare.
E.coli yang berlebihan ini biasanya bersumber dari buah atau sayuran yang terkontaminasi kotoran manusia yang kemudian kita makan tanpa mencucinya dengan baik.
Penyebab lain dari diare adalah alergi makanan. Selain menyebabkan gejala alergi secara umum, seperti gangguan kulit dan gangguan nafas, alergi makanan juga dapat menimbulkan diare. Alergi makanan yang paling sering menyebabkan diare adalah alergi terhadap protein susu yang disebut laktosa.
Kemampuan tubuh mencerna laktosa akan semakin berkurang seiring dengan bertambahnya usia, sehingga kemungkinan terjadinya diare akibat laktosa akan semakin besar. Laktosa merupakan contoh kecil dari zat yang dapat menyebabkan diare. Banyak pula yang alergi terhadap zat lain seperti gluten dan lain-lain, sehingga menimbulkan diare.
Higienitas
Menurut hasil penelitian tentang diare, penyakit ini biasa terjadi pada sejumlah negara berkembang dan sudah menjadi salah satu penyebab umum kematian di negara-negara tersebut. Ada dua jenis diare, yaitu diare yang disebabkan oleh bakteri dan diare yang disebabkan oleh nonbakteri. Kasus diare yang diderita masyarakat negara berkembang tentunya disebabkan karena faktor bakteri.
Bakteri penyebab diare sangat mudah berkembang akibat dari lingkungan yang kotor dan tidak sehat. Lingkungan yang kumuh dengan kondisi saluran air yang tidak memadai ditambah dengan tumpukan sampah yang tidak teratur bisa menjadi berkembangnya bakteri diare.
Lingkungan yang tidak sehat membuat makanan Anda menjadi tidak sehat pula. Makanan yang tidak ditutupi tudung saji membuat lalat atau semut dapat menghinggapi makanan tanpa Anda sadari. Kebiasaan memakan makanan tanpa cuci tangan, baik menggunakan sendok ataupun tidak juga menjadi penyebab bakteri diare dapat berkembang pesat di tubuh Anda.
Jadi, penanganan yang tepat dalam pencegahan penyakit diare adalah melalui penerapan pola hidup yang sehat. Diare juga menjadi salah satu penyakit yang umum diderita oleh anak-anak balita. Dan, menurut penelitian tentang diare, penyakit ini menjadi salah satu penyebab kematian anak nomor dua. Anak-anak sering mencoba hal yang baru dan tidak takut untuk membuat dirinya kotor.
Seringkali percobaan akan hal baru tersebut mengarah pada memasukkan benda asing ke mulut ataupun memasukkan tangan ke mulut. Hal tersebut merupakan hal yang biasa dilakukan oleh anak-anak.
Walupun sudah menjadi hal yang biasa, namun jangan sampai Anda sebagai orangtua tidak memperhatikan tindakan tersebut. Ajarilah anak untuk tidak memasukkan tangan ataupun benda lain selain makanan ke dalam mulut. Apabila tiba waktunya makan, ingatkan mereka untuk selalu mencuci tangan terlebih dahulu.
Kasus diare disebabkan oleh kualitas makanan yang Anda makan dan masuk ke perut. Kualitas makanan ini berhubungan dengan masalah kebersihan lingkungan maupun higienitas bahan makanan, yang digunakan untuk membuatnya.
Air minum yang tidak dimasak terlebih dahulu, bahan makanan yang tidak bersih, maupun makanan yang dihinggapi lalat yang mengandung bakteri adalah penyebab sebagian besar kasus diare. Begitu juga dengan kebiasaan mencuci tangan sebelum makan.
Selain masalah higienitas, diare juga berhubungan dengan masalah kebiasaan. Masyarakat Indonesia umumnya kurang menyukai konsumsi susu sapi, sehingga ketika meminum susu sapi mereka sering mengalami diare akibat tidak adanya enzim laktase dalam pencernaan. Apalagi saat susu sapi disajikan pagi hari sebagai menu sarapan, seringkali perut dan saluran pencernaan tidak sanggup mengolahnya dengan baik, sehingga menyebabkan diare.
Penderita diare ini biasanya ditandai dengan berat badan berkurang antara 5 – 15%, mata sayu, perilaku sensitif, mulut kering (tidak ada air mata ketika menangis pada kasus berat dan keluar air mata sedikit pada kasus ringan), kulit kering, pucat, dan keriput, kuantitas kencingnya berkurang, dan dalam kasus berat air seni berwarna kuning gelap.
Jika diare tidak parah, tidak perlu ke dokter, cukup berikan oralit saja. Namun, jika usia bayi masih di bawah 6 bulan, susuilah dia dengan ASI sebanyak mungkin. Jika kebutuhan cairan tubuh terpenuhi, sehingga sistem tubuh menjadi seimbang, maka diare akan sembuh dengan sendirinya (tidak perlu obat atau antibiotik).
Bila diarenya berat sampai menyebabkan dehidrasi, maka penderita perlu dirawat di rumah sakit dan diberikan cairan pengganti dan garam melalui infus. Selama tidak muntah dan tidak mual, bisa diberikan larutan yang mengandung air, gula dan garam.
Pengobatan untuk diare yang kronis bersifat kuratif, supressif, atau empiris. Jika penyebabnya dapat dketahui pasti dan dapat diperbaiki, bisa diambil tindakan terapi kuratif, seperti penggunaan antibiotik. Terutama, tetasiklin, trimetoprim sulfamethoxazole, dan ampisilin. Diare karena pertumbuhan bakteri berlebih diusus halus, misalnya, dapat diterapi dengan antibiotika.
Untuk berbagai kondisi klinis, diare yang kronis dapat dikontrol dengan supressi terhadap mekanisme yang mendasarinya. Misalnya, eleminasi laktose dari diet pada diare karena defisiensi laktase, eliminasi gluten pada celiac sprue, adsorvent agent seperti cholestiramin pada malabsorpsi garam empedu, penghambat pompa proton seperti omeprasole pada hipersekresi lambung, dan substitusi enzim pankreas pada kasus dengan insufisiensi pankreas.
Jika tidak diketahui penyebab spesifik maupun mekanismenya, terapi dilakukan secara empiris. Pada diare cair yang ringan-sedang, misalnya, dapat diberikan golongan opiat ringan, seperti diphenoksilat atau loperamide.
Khasiat Buah Salak
Dari makanan maupun minuman yang dikonsumsi inilah proses diare berlangsung. Langkah darurat yang perlu dilakukan bila terjadi diare adalah menghentikan makanan yang tengah dimakan, dan minum air putih yang banyak. Selain untuk mengganti cairan tubuh yang hilang saat buang air besar, air putih juga dapat membantu meringankan dan menetralisir tubuh akibat keracunan makanan.
Anda juga dapat memakan buah-buahan yang banyak mengandung air, seperti jeruk, apel, pir, melon, atau semangka. Selain mengandung banyak air dan serat yang baik untuk mengatasi perut yang sedang bermasalah, buah-buahan juga banyak mengandung zat gizi yang berguna untuk membantu meningkatkan daya tahan tubuh.
Bila diare terjadi saat Anda dalam perjalanan, sehingga agak sulit mendapatkan pengobatan darurat, cobalah makan buah salak. Rasanya yang masam dan sepat juga sangat berguna dalam membantu menetralisasi bakteri yang menyerang saluran pencernaan. Buah ini setidaknya dapat membantu menghentikan proses diare dan membuat perut terasa lebih nyaman.

