logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Industri & Perdagangan    Pertambangan    Pertambangan Batu Bara

Mengetahui Seluk Beluk Proses Pembentukan Batu Bara


Ilustrasi proses pembentukan batu bara
Batubara merupakan sumber energi yang selama ini banyak dimanfaatkan dalam berbagai bidang kehidupan. Pada dasarnya batubara merupakan bahan bakar fosil dan termasuk dalam kategori batuan sedimen. Proses pembentukan batu bara sendiri sangatlah kompleks dan membutuhkan waktu hingga berjuta-juta tahun lamanya. Batubara terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan purba yang kemudian mengendap selama berjuta-juta tahun dan mengalami proses pembatubaraan (coalification) dibawah pengaruh fisika, kimia, maupun geologi.

Tempat Pembentukan Batubara

Terdapat dua teori yang menjelaskan tentang tempat dalam proses panjang  pembentukan batubara, yaitu :

*  Teori insitu
Proses panjang pembentukan batu bara terjadi di tempat asal tumbuhan tersebut berada. Tumbuhan yang telah mati akan langsung tertimbun lapisan sedimen dan kemudian mengalami proses pembatubaraan tanpa mengalami proses perpindahan tempat. Dengan banyaknya batubara yang terbentuk, membuktikan adanya tumbuhan yang luar biasa banyak di tempat tersebut.
 
Batubara yang dihasilkan dari proses ini memiliki kualitas yang baik. Penyebaran batubara jenis ini sifatnya merata dan luas, bisa dijumpai di wilayah Muara Enim, Sumatera Selatan.

* Teori drift
Berdasarkan teori ini, batubara terbentuk bukan di tempat asal tumbuhan itu berada. Tumbuhan  yang telah mati akan terangkut air hingga terkumpul di suatu tempat dan  mengalami proses sedimentasi dan pembatubaraan.

Kualitas batubara yang dihasilkan dari proses ini tergolong kurang baik karena tercampur  material pengotor pada saat proses pengangkutan. Penyebaran batubara ini tidak begitu  luas, namun dapat dijumpai di beberapa tempat seperti di lapangan batubara delta Mahakam Purba, Kalimantan Timur.

Tahapan Proses Pembentukan Batu Bara

Secara umum, proses coalification dari  tumbuhan yang telah mati hingga menjadi batubara terdiri dari dua tahap, yaitu :

* Tahap Biokimia (Penggambutan)
Tahap ini adalah tahap dimana tumbuhan yang telah mati mengalami pembusukan dan menjadi humus. Humus ini kemudian diubah menjadi gambut oleh bakteri anaerobic dan fungi.

* Tahap Geokimia (Pembatubaraan)
Tahap ini merupakan tahap dimana gambut akan mengalami perubahan secara fisika dan kimia hingga akhirnya menjadi batubara yang biasa dieksploitasi saat ini.
Secara lebih rinci, proses pembentukan batu bara dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Pembusukan, bagian-bagian tumbuhan yang lunak akan diuraikan oleh bakteri anaerob.

2. Pengendapan, tumbuhan  yang telah mengalami proses pembusukan selanjutnya akan mengalami pengendapan, biasanya di lingkungan yang berair. Akumulasi dari endapan ini dengan endapan-endapan sebelumnya akhirnya akan membentuk lapisan gambut.

3. Dekomposisi, lapisan gambut akan mengalami perubahan melalui proses biokimia dan mengakibatkan keluarnya air dan sebagian hilangnya sebagian unsur karbon dalam bentuk karbondioksida, karbonmonoksida, dan metana. Secara relatif, unsur karbon akan bertambah dengan adanya pelepasan unsur atau senyawa tersebut.

4. Geotektonik, lapisan gambut akan mengalami kompaksi akibat adanya gaya tektonik dan kemudian akan mengalami perlipatan dan patahan. Batubara low grade dapat berubah menjadi batubara high grade apabila gaya tektonik yang terjadi adalah gaya tektonik aktif, karena gaya tektonik aktif dapat menyebabkan terjadinya intrusi atau keluarnya magma. Selain itu, lingkungan pembentukan batubara yang berair juga dapat berubah menjadi area darat dengan adanya gaya tektonik setting tertentu.

5. Erosi, merupakan proses pengikisan pada permukaan batubara yang telah mengalami proses geotektonik. Permukaan yang telah terkelupas akibat erosi inilah yang hingga saat ini dieksploitasi manusia.
 
Faktor Pembentukan Batubara
Proses pembentukan batu bara dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya :

* Material Dasar
Materi dasar pembentuk batubara adalah tumbuhan yang tumbuh berjuta-juta tahun yang lalu. Jenis tumbuhan berpengaruh terhadap jenis-jenis batubara yang terbentuk.

* Lingkungan Pengendapan
1. Struktur  cekungan batubara, akan menghasilkan batubara dengan dengan  bentuk-bentuk tertentu.
2. Topografi dan morfologi, mempengaruhi penyebaran rawa-rawa tempat terbentuknya batubara.
3. Iklim, mempengaruhi pertumbuhan tanaman sebelum proses pengendapan.

* Proses Dekomposisi
Proses dekomposisi termasuk bagian dari proses perubahan biokimia. Disinilah awal dari seluruh proses perubahan tumbuhan menjadi  batubara.

* Umur Geologi
Merupakan skala waktu dimana material dasar yakni tumbuhan mengalami proses perubahan. Semakin lama proses penimbunan yang terjadi,  maka proses dekomposisi yang terjadi adalah fase lanjut, dan menghasilkan batubara dengan kualitas yang semakin tinggi.

* Posisi Geotektonik
Posisi geotektonik adalah keberadaan suatu tempat yang dipengaruhi oleh gaya tektonik. Posisi geotektonik mempengaruhi struktur cekungan batubara, iklim lokal, topologi dan morfologi, serta kecepatan penurunan gambut.

Fenomena Kebijakan Ekonomi

Dengan adanya program percepatan pertumbuhan perekonomian Indonesia dengan membagi bangsa ini menjadi beberapa koridor, menempatkan Sumatera Selatan sebagai salah satu daerah sumber energi. Daerah ini sangat kaya dengan hasil alam. Tidak hanya kelapa sawit, karet, dan hasil bumi lainnya. Pun dibidang perminyakan dan batubara, wilayah ini menjadi andalan bangsa Indonesia dalam memasok energi. Sayangnya keberadaan batubara terganjal masalah yang menyangkut kemaslahatan hidup orang banyak.

Angkutan batubara yang menggunakan jalan darat telah menuai berbagai protes serta telah menelan korban yang tidak sedikit. Banyaknya angkutan batubara membuat kemacetan panjang di jalan Palembang-Lahat dan daerah sekitarnya. Hal ini tentu saja meresahkan masyarakat sehingga mereka pun menuntut pihak pemerintah untuk membaut jalan khusus bagi angkutan batubara tersebut. Pemerintah Sumatera Selatan tentu saja tidak tinggal diam.

Sebenarnya, jalan khusus angkutan batubara itu telah ada hanya saja karena musim penghujan diawal tahun 2013 dengan intensitas hujan yang tinggi, telah menenggelamkan jalan khusus tersebut. Hal ini membuat para pengusaha angkutan batubara protes dan membawa truk mereka ke halaman kantor gubernur. Untungnya ada kesepakatan. Intinya adalah ketika kebijakan pemerintah untuk memajukan perekonomian masyarakat, jangan menindas masyarakat yang lainnya.

Semua harus bisa menikmati hasilnya dan bukan hanya pengusaha yang bergerak dibidang pertambangan tersebut. Bukti di lapangan telah membuktikan bahwa kebijakan itu memang harus dilihat dari segala aspek dan jangan asal tabrak lari saja. Kalau hanya menguntungkan segelincir orang tetapi malah merugikan ribuan orang lainnya, maka kebijakan itu tidak akan berjalan lancar. Eksploitasi yang berlebihan juga ternyata membuat harga batubara turun drastis.

Hal ini tentu saja telah membuat para pengusaha batubara merugi. Pengusaha angkutan batubara pun merugi. Para sopir pun akhirnya beralih mengangkut kayu dan bukan batubara lagi. Padahal kalau dikelola dengan baik dan dengan program yang jelas serta memikirkan nilai ekonomi berdasarkan pasar, mungkin keberlangsungan usaha batubara ini akan memberikan keuntungan yang luas tidak hanya kepada para pengusaha tetapi juga kepada masyarakat sekeliling pertambangan.

Saat ini, masyarakat di sekeliling tempat eksplorasi batubara itu merasa tidak mendapatkan apa-apa dari proses penambangan. Malah mereka merasa dirugikan. Tanah mereka terbuka dan banyak bekas bahan galian. Tanah bekas galian itu sangat berbahaya karena akan dipenuhi air hujan. Anak-anak yang tidak tahu bahaya juga akhirnya menjadi korban. Selain itu, udara menjadi tidak bersih lagi. Apalagi ketika musim kemarau. Debu yang berterbangan membuat penyakit pernapasan mudah menyerang masyarakat yang tinggal di sekitar area penambangan.

Hasil bumi ini hendaknya menjadi salah satu hal yang mendukung percepatan perekonomian. Yang terjadi malah pengrusakan ekosistem secara besar-besaran. Udara kian panas dan air pun ikut tercemar. Tentu saja tidak ada orang yang mau melihat hal ini terjadi. Hutan yang dahulunya lebat, dibuka dan tanahnya yang mengandung batubara digali dan dibongkar hingga jarak puluhan bahkan ratusan meter dibawah permukaan bumi. Fenomena ini cukup mengkhawatirkan. Hal ini juga mengingat bahwa batubara adalah hasil bumi yang tidak terbarukan. Batubara akan habis apabila terus diambil tanpa memikirkan keberlangsungan kehidupan yang lain.

Batubara juag diyakini bukan sumber energi yang bagus bagi kesehatan. Ada polusi yang cukup berbahaya yang bisa ditimbulkan oleh batubara. Berbeda dengan gas bumi yang dipercaya tidak menimbulkan terlalu banyak polusi. Sayangnya membutuhkan investasi yang jauh lebih besar kalau akan mengeksplorasi sumber gas bumi yang ada di Indonesia.

Walaupun Indonesia merupakan salah satu negara dengan cadangan gas bumi terbesar di dunia, biaya eksplorasi cukup besar dan kebijakan yang tidak jelas, membuat banyak investor mengurungkan niat mereka masuk ke Indonesia. Sumatera Selatan adalah tempat gas bumi yang cukup besar. Sekali lagi bahwa daerah ini membutuhkan banyak tangan ahli dalam mengelola sumber buminya.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Batu Bara: Bahan Tambang yang Tidak Dapat Diperbaharui
  • Antara Inovasi Briket, Masalah Angkutan, dan Pembeli Batu Bara
  • Menyoal Pertambangan Batu Bara Kaltim
  • Proyeksi Perusahaan Tambang Batu Bara
  • Bagaimana Proses Terbentuknya Batu Bara?
  • Meninjau Harga Batu Bara Di Pelataran Tambang Indonesia
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA