Lika-liku Penokohan - Sebuah Proses Pembuatan Film
Ilustrasi proses pembuatan film
Tahukah Anda bagaimana proses pembuatan film. Sebelum membahas seputar proses pembuatan film, penulis akan ceritakan sedikit tentang Christine Hakim. Semua mata dijamin tak bisa berpaling saat Christine Hakim memerankan Tjoet Njak Dhien, dalam film berjudul sama dengan nama pejuang wanita dari Tanah Rencong itu.
Bukan hanya karena ia memang jago akting, namun juga lantaran ada unsur penokohan yang jelas dalam skenario, yang berarti juga merupakan bagian dari proses pembuatan film.
Proses Pembuatan Film - Penokohan
Ibarat sebuah kunci utama, penokohan (bagian dari proses pembuatan film) memang salah satu panduan penting dalam rangkaian proses pembuatan film. Kelak akan ada banyak kru film yang harus memahaminya, tak hanya pemain dan sutradara. Lantas, apa saja yang mesti terangkum dalam penokohan (bagian dari proses pembuatan film), agar film yang diproduksi selegit Tjoet Njak Dhien? Berikut ini uraiannya.
Proses Pembuatan Film - Nama Tokoh
Tak sembarang nama bisa disematkan pada setiap tokoh, kecuali jika ada alasan khusus. Nama tokoh (bagian dari proses pembuatan film) harus disesuaikan dengan banyak hal. Seorang anak konglomerat tentu tak cocok jika dinamai Paijo, sedangkan anak kacung diberi nama Joe.
Proses Pembuatan Film - Usia Tokoh
Usia tokoh harus jelas, agar mudah dalam urusan casting (menentukan pemain). Apabila sang tokoh berperan sejak usia muda hingga tua, maka cantumkanlah usianya. Ketika adegan flash back, jangan lupa mencantumkan usianya. Ada saat di mana seorang tokoh berusia paruh baya memerlukan pemain lain yang memiliki kemiripan wajah, namun usianya lebih muda. Ini terjadi dalam adegan flash back.
Proses Pembuatan Film -Tipologi Tokoh
Dalam psikologi, karakter manusia dapat dibedakan berdasarkan beberapa tipe, baik fisik maupun psikis. Pengelompokan inilah yang disebut tipologi.
A. Tipologi Tipe Fisik
Penggolongan tipe manusia berdasarkan bentuk tubuh ini mengacu pada teori E. Kretschmer. Menurutnya, ada empat tipe fisik, yaitu:
1. Piknis
Tubuh pendek dengan berat badan melebihi berat normal (gemuk) merupakan beberapa ciri tipe piknis. Ada banyak lemak pada manusia bertipe tersebut, sehingga belulangnya cenderung tak tampak. Ia pun gemar makan dan tidur. Biasanya, tubuh jenis piknis banyak dimiliki oleh pemeran tokoh lucu atau konyol.
2. Leptosom
Si tubuh leptosom memiliki karakteristik tinggi dan kurus. Tipe ini merupakan kebalikan dari tipe piknis, sehingga tulang-tulangnya tampak jelas menonjol. Wajahnya pun cenderung tirus dan sayu. Hobinya adalah membaca buku, suka menyendiri, dan melamun. Karakternya cenderung melankolis; mudah menangis atau trenyuh.
3. Atletis
Tipe atletis menunjukkan bentuk tubuh yang tinggi, tegap, dan kekar. Tak banyak lemak, namun juga tak tampak kurus. Urat-uratnya terlihat menonjol dan terlatih. Intinya, ia memiliki perbandingan ideal antara berat dan tinggi badan. Kegemaran utamanya adalah olah raga atau melakukan aktivitas dengan energik. Ia pun cenderung berkarakter koleris. Karenanya, tak heran jika film laga atau super-hero memerlukan si atletis sebagai pemeran utama.
4. Displastis
Orang displastis biasanya mempunyai bentuk tubuh yang unik atau tidak umum. Bisa dibilang, tubuhnya menyimpang dari kondisi normal tubuh lainnya. Misalnya, cebol. Hobinya tak dapat dipertegaskan. Hanya saja, ia cenderung berkarakter flegmatis. Biasanya, si pemilik tubuh displastis ini dipakai dalam film-film horor atau komedi.
B. Tipologi Tipe Psikis
Ada empat tipe manusia berdasarkan tipologi ini, yaitu:
1. Sanguinis
Orang sanguinis memiliki fisik piknis dengan sifat khas:
- Mudah menerima kesan, namun tak mendalam dan hanya sesaat.
- Suka menolong, namun tak bisa menjadi sandaran.
- Sering berjanji, tapi jarang ditepati, sebab selalu menganggap penting sesuatu yang baru ditemui dan beberapa saat kemudian tak dipikirkan lagi.
- Ramah, supel, dan periang.
- Cepat bosan dengan hal yang serius. Ia lebih menyukai hal-hal yang bersifat hiburan.
2. Melankolis
Orang melankolis biasanya bertipe fisik leptosom dan bersifat:
- Menganggap penting segala hal tentang dirinya.
- Sering kali mencurigai orang lain, sulit percaya dan tak mudah menerima keramahan sosok di luar dirinya.
- Lebih kerap melihat kendala pada setiap aktivitas, sehingga akan sangat berhati-hati.
- Selalu menepati janji yang dibuatnya, sehingga tak mudah membuat janji agar jiwanya tak risau.
- Segala sesuatu dihadapinya dengan serius. Akibatnya, ia cenderung kurang bisa menikmati hidup dan kurang bisa melihat kesenangan orang lain.
- Mudah kecewa, pesimistis, dan daya juangnya kurang.
3. Koleris
Si manusia koleris cenderung bertubuh atletis dengan sifat:
- Cepat bertindak, namun amarahnya mudah terpancing.
- Lebih suka memerintah daripada bekerja sendiri.
- Ambisius dalam mengejar kehormatan dan suka dipuji.
- Lebih suka berbasa-basi dan sikap formal yang semu.
- Menolong orang demi sebuah penghargaan.
- Senang berpakaian rapi dan modis.
- Optimistis dan penuh semangat.
4. Flegmatis
Si flegmatis biasanya bertubuh displastis. Meski begitu, tak semua pemilik tubuh displastis adalah flegmatis. Sifat-sifatnya adalah:
- Cenderung cool dan tak mudah marah alias penyabar.
- Jika sudah cocok pada satu orang atau suatu bidang, ia akan setia dan perhatiannya tak mudah beralih.
- Cenderung cuek dan tak terlalu peduli pada sekitarnya.
- Lebih cocok untuk melakukan hal-hal yang membutuhkan konsentrasi tinggi.
- Tak suka tergesa-gesa.
Proses Pembuatan Film - Status Tokoh
Status tokoh harus diperhatikan dalam proses pembuatan film. Apakah ia seorang mahasiswa, direktur, lajang, sudah menikah, ataukah pengangguran. Mengapa status tersebut penting? Jawabnya, agar cerita film menjadi jelas.
Proses Pembuatan Film -Agama Tokoh
Dalam film religi, pastilah agama tokoh (bagian dari proses pembuatan film) akan sangat diperlukan. Atau, jika ingin menunjukkan bahwa sang tokoh adalah sosok yang religius meski bukan dalam film religi, pencantuman agama pun diperlukan. Hal ini akan lebih relevan dalam menentukan tata cara beribadah sang tokoh, dan artistik yang mengisi setting rumah atau kamar pribadinya.
Proses Pembuatan Film -Profesi dan Jabatan Tokoh
Contohnya, Aida dijelaskan sebagai tenaga marketing di perusahaan Dodit. Namun, dalam cerita (proses pembuatan film), Aida berbincang akrab dengan Dodit, layaknya berbicara dengan sahabat sendiri. Nah, dalam hal ini, perlu dijelaskan mengapa bisa demikian. Misal, karena ternyata Aida dan Dodit telah lama bersahabat baik.
Proses Pembuatan Film -Ciri Khusus Tokoh
Setiap tokoh (bagian dalam proses pembuatan film) sebaiknya memiliki ciri-ciri khusus untuk menambah greget cerita. Bisa ciri fisik maupun kelakuan tertentu, yang menunjukkan kelebihan atau kekurangan si tokoh. Satu hal yang penting diperhatikan, penentuan ciri khusus ini bukan tanpa tujuan atau alasan kuat. Dan, harus ada relevansinya dengan jalan cerita (bagian dalam proses pembuatan film).
Proses Pembuatan Film -Latar Belakang Tokoh
Segala hal yang terkait dengan kondisi keluarga, budaya, ekonomi, sosial, dan pendidikan dapat pula memberikan gambaran karakter setiap tokoh (bagian dalam proses pembuatan film). Misalnya, seorang keturunan bangsawan biasanya sulit menerima menantu dari kalangan bawah. Orang yang menjadi kaya dengan kerja keras akan rendah hati dan suka membantu sesama, dan sebagainya.
Proses Pembuatan Film -Peran Tokoh
Dengan berbagai pertimbangan pada saat casting (bagian dalam proses pembuatan film), setiap pemain bisa berperan sebagai tokoh protagonis, antagonis, tritagonis, ataupun tokoh pembantu.
Itulah proses pembuatan film yang berhungungan dengan penokohan. Proses pembuatan film selanjutnya akan dibahas tentang tahap akhir proses pembuatan film.
Proses Pembuatan Film Selain Penokohan
Tahap Akhir Proses Pembuatan Film
1. Proses Pembuatan Film - Tahap Penggabungan
Proses pembuatan film ini adalah tahap penyatuan materi yang akan diedit sampai menjadi sebuah film menarik untuk disaksikan dan dinikmati. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam proses pembuatan film ini adalah sebagai berikut.
- Pemotongan Gambar
- Pemberian efek tulisan
- Transisi Gambar
- Pemberian efek suara
- Penggabungan (Rendering)
2. Proses Pembuatan Film - Tahap Keluaran
Proses pembuatan film ini adalah hasil akhir dari pengeditan sebuah film. Proses pembuatan film ini bersifat hasil akhir dan menentukan untuk ditampilkan ke dalam sebuah format media, misalnya video, film, VCD, DVD, dan lain-lain. Itulah beberapa proses pembuatan film lainnya selain penokohan. Semoga artikel yang membahas seputar proses pembuatan film ini bermanfaat.
Editing Keren dalam Proses Pembuatan Film
Puas rasanya usai take gambar terakhir dalam proses pembuatan film. Tentunya dengan catatan segalanya berjalan lancar, tanpa hambatan berarti. Namun, apakah lantas sebuah film bisa dinikmati begitu saja? Jawabnya, “Tidak”. Masih ada beberapa proses pembuatan film yang harus diselesaikan sebelum film tersebut dilaunching.
Proses pembuatan film memang terbilang sangat panjang. Maka dari itu, tidaklah mengherankan jika proses pembuatan sebuah film box office bisa menghabiskan waktu dalam hitungan tahun.
Untuk menghasilkan sebuah film yang berkualitas, proses editing selama pascaproduksi bisa dibilang sebagai kunci utamanya. Dan, editor adalah orang yang bertanggung jawab atas segala sesuatu yang terkait dengan editing film.
Sebenarnya, tak hanya editor yang harus tahu seluk-beluk editing. Setiap crew film pun sebaiknya memahami konsep dan proses editing. Sebab, pengetahuan itu akan sangat membantu untuk berpikir editorial tentang film yang dibuat. Proses menjalin setiap shot film secara runtut dan logis, hingga membentuk alur cerita yang indah, inilah inti dari editing.
Meski terkesan rumit dan butuh konsentrasi tinggi, mengedit film tetaplah sebuah pekerjaan seni. Jadi, sentuhan seni yang pas dan memikat juga menjadi salah satu hal yang harus diperhatikan editor. Di sinilah sense of editing seorang editor benar-benar diuji. Semua itu akan memperkecil kemungkinan terjadinya kesalahan produksi sebuah film.
Karenanya, bisa dikatakan bahwa editor adalah penjaga gawang terakhir dari proses pembuatan film. Dalam hal ini, editor didampingi oleh asisten, yaitu sound engineer dan sound director. Sutradara pun biasanya akan menemaninya, sehingga tingkat ketepatan editing akan semakin terjamin.
Lantas, hal apa sajakah yang terangkum dalam proses editing untuk menghasilakan film keren? Simak beberapa poin berikut.
Perangkat Editing dalam Proses Pembuatan Film
Perangkat editing yang memadai sangat dibutuhkan ketika bikin film. Digital editing menjadi favorit kalangan perfilman, karena dipandang lebih praktis, simpel, mudah dioperasikan, dan harganya pun lebih terjangkau ketimbang piranti analog editing. Beberapa perangkat digital editing untuk proses pembuatan film, antara lain:
- Satu unit komputer dengan prosesor dan motherboard generasi mutakhir, minimal Pentium 4.
- Hard disc berkecepatan tinggi, juga dengan kapasitas memori yang besar untuk menyimpan file hasil capture dan olahan video.
- Software editing, yaitu Adobe Premier, Ulead Video Studio, Pinneacle Studio, Final Cut.
- CD room dan DVD RW atau CD RW
- Fire wire dan camcorder untuk proses capturing.
Teknik Dasar Editing dalam Proses Pembuatan Film
Ada dua jenis teknik editing yang umum digunakan selama proses pembuatan film, yaitu:
1. Proses Pembuatan Film - Linear Editing/Analog Editing
Editing dilakukan dengan menata gambar satu per satu atau setiap shot secara urut dari awal sampai akhir, sehingga tercipta kesinambungan. Otomatis, jika editor melakukan kesalahan, maka ia harus mengulangi pekerjaannya mulai dari titik awal kesalahan. Karena itu, sangat dibutuhkan ketelitian dan kehati-hatian yang tinggi dalam linear editing.
Proses linear editing ini memiliki kelebihan dan juga kelemahan. Kelebihannya, meskipun file editing telah dipotong atau pun ditambahain hal lain seperti gambar, file aslinya tidak akan berubah sama sekali. Sedangkan kelemahannya, sekali ada kesalahan, Anda harus memulai proses editing dari awal.
2. Proses Pembuatan Film - Nonlinear Editing/Digital Editing
Editing dapat dilakukan secara acak, tidak harus dikerjakan dari awal hingga akhir secara runtut. Oleh sebab itu, digital editing dianggap lebih mudah dan praktis. Jika terjadi kesalahan, editor pun tak perlu mengulangi hasil pekerjaannya dari awal.
Selain itu, karena bisa melakukan editing secara acak, jika editor memerlukan bahan yang berada di tengah untuk ditempatkan di awal video, maka ia bisa melakukannya tanpa terpengaruhi oleh file video yang lainnya.
Langkah-langkah Editing dalam Proses Pembuatan Film
-
Editing dalam Proses Pembuatan Film - Logging
Proses memotong gambar, mencatat waktu pengambilan gambar, dan memilih shot sesuai camera report. Proses itulah yang disebut logging. Langkah ini diperlukan sebagai antisipasi jika kapasitas hard disc penuh. Dengan memilih gambar terbaik, maka hard disc tidak akan terlalu penuh.
-
Editing dalam Proses Pembuatan Film - Digitizing
Usai di-logging, editor akan merekam gambar dan suara. Inilah proses digitizing. Pada tahap ini, editor mengontrol kualitas gambar dan suara, agar sejalan dengan konsep film dan editing yang disetujui sutradara.
-
Editing dalam Proses Pembuatan Film - Offline Editing
Tahap ini adalah saatnya menata gambar dan suara digitized, sesuai skenario dan urutan shot yang telah ditentukan sutradara.
-
Editing dalam Proses Pembuatan Film - Online Editing
Online editing merupakan proses di mana editor memperhalus hasil offline editing. Selain itu, ia pun akan memperbaiki kualitas editing, dan berkreasi dengan menambahkan transisi dan special effect yang dibutuhkan.
-
Editing dalam Proses Pembuatan Film - Mixing
Proses mixing berkaitan dengan synchronizing audio, lalu menambahkan ilustrasi musik atau audio effect. Jadi, proses ini akan berlaku pada setiap dialog, musik, dan efek suara.
Sebagai gambaran jelas mengenai editing, perhatikan contoh ketika menyusun beberapa adegan berikut.
- Establishing kamar pribadi
- Tika membongkar tas sekolah sembari berdiri di depan cermin
- Tika menggerutu kesal
- Dari cermin, tampak Joe, pembunuh bayaran
- Tika berteriak minta tolong
- Tika membanting tas sekolah
- Tika berlari ketakutan ke sudut kamar
- Stock shot seekor tikus dimangsa ular
Beberapa adegan tersebut bisa diedit untuk menghasilkan dramatik adegan. Beberapa alternatifnya adalah:
- Menyusun secara urut mulai dari shot 1 hingga shot 8
- Menyusun adegan dengan urutan 8, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8
- Mengedit dengan susunan shot 1, 3, 2, 4, 5, 6, 7, 8
- Urutan adegan itu adalah 1, 3, 2, 4, 6, 5, 7, 8
Mengontrol Hasil Editing dalam Proses Pembuatan Film
Mengontrol shot sesuai kebutuhan cerita kerap kali menjadi problem tersendiri dalam proses pembuatan film, khususnya saat pascaproduksi. Karena itu, sangat penting mengontrol shot dengan metode pemilahan sebagai berikut.
1. Mengontrol Hasil Proses Pembuatan Film - Fungsional
Shot diposisikan dalam fungsi informatik, dramatik, ritmik, atau sekadar sebagai transisi. Hal ini bermanfaat untuk menuntun perhatian penonton. Dengan beberapa shot di atas (shot 1-8), fungsi informatif terdapat pada shot 1, 2, dan 4. Fungsi dramatik ada pada shot 3, 4, 5, 6, dan 7. Fungsi ritmik pada shot 3, 4, dan 8. Sedangkan fungsi transisi dijumpai pada shot 1 dan 8.
2. Mengontrol Hasil Proses Pembuatan Film - Struktural
Cara ini berkaitan dengan ketepatan posisi suatu shot, saat menempati kedudukannya sesuai urutan ceritanya. Dalam hal ini, shot tidaklah berdiri sendiri, melainkan saling berkaitan. Penempatan masing-masing shot disesuaikan dengan konsep editing film. Dengan begitu, jalan ceritanya tidak kabur.
3. Mengontrol Hasil Proses Pembuatan Film - Proporsional
Proporsional shot memiliki hubungan erat dengan panjang-pendeknya sebuah shot. Dengan demikian, kekuatan setiap shot sebagai bagian cerita akan hadir secara nyata.
Semua konsep editing yang terpapar memang sangatlah umum dalam dunia perfilman. seperti yang sebelumnya dijelaskan, untuk menghasilkan film yang berkualitas, tentu saja kreativitas dan kepekaan editor selama proses pembuatan film menjadi salah satu kunci utama. Bukankah pascaproduksi (editing) adalah pintu paling ujung yang harus dilewati sebuah film, sebelum bertemu dengan penikmatnya?

