Psikologi Dakwah Islam

Islam adalah agama universal. Penyebarannya hampir meliputi seluruh belahan dunia. Kenapa bisa begitu? Sebab, salah satunya umatnya menggunakan psikologi dakwah dalam penyebaran agamanya.
Psikologi dakwah menjadi bagian terpenting metode penyebaran agama Islam, seperti misalnya dilakukan oleh Wali Songo dalam menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Tapi sebenarnya apa itu psikologi dakwah?
Makna Psikologi Dakwah
Psikologi berarti ilmu tentang jiwa. Kata ini berasal dari bahasa Yunani diambil dari kata logos yang berarti ilmu dan psyce yang berarti jiwa.
Namun, dalam perkembangan istilahnya, psikologi tidak hanya dimaknai sebagai ilmu jiwa. Tetapi mencakup ilmu tentang keseluruhan sikap dan tingkah laku manusia dalam kehidupan keseharian mereka.
Sedangkan dakwah berarti sebuah usaha yang perlu dilakukan, menyeru kepada orang lain atau umat menuju kepada jalan iman, menuju kepada jalan kebaikan sesuai dengan perintah Allah SWT seperti yang diajarkan oleh nabi penutupnya yaitu Muhammad SAW. Dakwah ini, menjadi kewajiban dari seluruh umat Islam, tanpa kecuali.
Nah, psikologi dakwah, dalam hal ini bisa diartikan sebagai berikut. Sebuah ajakan kepada iman dan kebaikan dengan pendekatan kejiwaan. Dengan pendekatan-pendekatan yang menyentuh hati, menyentuh jiwa seseorang, bukan dengan cara-cara paksaan dan kekerasan. Karena psikologi dakwah ini mengacau kepada umat Islam, maka istilah yang sering kita dengar adalah psikologi dakwah Islam.
Terapan dalam Keseharian
Dalam kehidupan keseharian aplikasi atau terapan dari psikologi dakwah Islam tersebut bisa dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:
1. Dengan lemah lembut bukan kekerasan
Menyeru kebaikan lebih tepat dengan kelembutan, bukan dengan cara kekerasan. Cara-cara kekerasan hanya akan membuat orang takut dan merasa di teror. Dengan demikian, memang diperlukan hati yang lapang khususnya bagi meraka yang ingin bergerak ke jalan dakwah, jalan para penyeru kebaikan.
2. Sesuai dengan bahasa kaumnya
Bahasa kaummnya ini berarti menyesuaikan dengan kadar dan kapasitas yang ingin diseru. Misalnya, dakwah di pedesaan tentu berbeda dengan dakwah di perkotaan. Masing-masing punya karakteristik sendiri-sendiri.
Mungkin orang-orang kota cukup diberi selebaran agar mereka bisa baca ilmu-ilmu keislaman di dalamnya, tapi untuk orang-orang desa seringkali masih butuh tokoh ulama yang disegani untuk datang ke tengah-tengah mereka.
3. Sabar dan optimis
Bagi para penyeru kebaikan, sabar dan optmis itu kuncinya. Kadang dalam usaha dakwah, perlu waktu yang lama dan perlahan-lahan.
Untuk itu diperlukan sebuah kesabaran rasa optimis bahwa nantinya akan terjadi perubahan, dari masyarakat yang belum mengenal Islam secara benar, menjadi masyarakat Islami yang maju dan berperadaban
4. Menggunakan media terbaru
Seiring perkembangan teknologi terbaru, gunakan itu semua sebagai sarana atau media dakwah.
Jika, wali songo dulu menggunakan media gamelan, mungkin saat ini dakwah bisa menggunakan sarana televisi, internet bahkan HP untuk mengirimkan pesan-pesan dakwah tertentu yang mengajak kebaikan dan menyeru untuk meninggalkan keburukan.
Itulah psikologi dakwah Islam. Teori dan prakteknya yang bisa Anda lakukan dalam kehidupan keseharian. Semoga hal ini bermanfaat bagi Anda semua para juru dakwah di negeri ini.






