Psikologi Kepribadian
Ilustrasi psikologi kepribadian
Selama lebih dari satu dekade, khususnya di Indonesia telah berkembang pesat suatu aliran psikologi kepribadian yang berbasis teologi. Psikologi islami, demikian aliran itu diperkenalkan dalam kancah keilmuan yang mencoba menelaah jiwa manusia tersebut.
Berawal dari Teologi
Awal mulanya, teori-teori yang ada dalam psikologi islami mencoba untuk membahas manusia dari perspektif Al-Quran dan Hadis. Kedua sumber suci ini dalam agama Islam merupakan panduan utama umatnya dalam bersikap dan bertindak. Tak hanya berupa panduan bersifat aturan (syariat), tapi juga memuat berbagai hal yang sifatnya metafisik (hakikat).
Atas dasar hal-hal metafisik yang ada dalam kedua sumber utama agama Islam itu (Al-Quran dan Hadis), dikembangkanlah suatu aliran dalam ranah ilmu psikologi. Memperkaya dan melengkapi penjelasan tentang manusia, yang sebelumnya telah dilakukan oleh aliran-aliran mapan psikologi kepribadian seperti psikoanalisa, behaviorisme, dan psikologi humanistik.
Namun, dalam perkembangan lebih lanjut, aliran ini mencoba untuk melepaskan pakem ke”teologian”nya. Menempatkan manusia sebagai objek kajian dan tetap menjaga batasan aliran ini sebagai ilmu jiwa. Melepas “kesucian”nya sehingga dapat dikritik dan dirombak sesuai dengan tuntutan aktualitas serta keilmuan yang sifatnya selalu berubah.
Singkatnya, ada keinginan sebagian ilmuwan dan praktisi psikologi islami untuk mengukuhkan aliran ini sebagai bagian dari ilmu jiwa (psikologi). Bukan bagian dari ilmu agama (teologi). Karenanya, diharapkan aliran ini dapat diterima oleh semua kalangan (bersifat universal) dan ilmiah (dapat diverifikasi).
Sejarah Singkat
Sebagai aliran baru, tentu saja aliran ini masih dalam proses “pematangan”. Ini terlihat dari berbagai kajian dan debat mengenai dasar-dasar teori psikologi kepribadian islami yang mulai banyak digelar sejak 1990-an. Bentuknya berupa seminar atau kajian bertemakan psikologi islami.
Boleh dibilang, perkembangan psikologi islami di Indonesia mengalami percepatan ketika di berbagai kampus bermunculan kelompok studi yang khusus membahas aliran ini. Semangat para mahasiswa atau pun sarjana psikologi membuat aliran psikologi islami punya potensi untuk terus berkembang.
Pada awalnya, teori psikologi islami di Indonesia lebih banyak merujuk pada pemikiran Malik Badri, guru besar psikologi di Malaysia. Tetapi, seiring dengan gairah para ilmuan dan praktisi untuk mengembangkan aliran ini, beberapa pendekatan lain pun mulai bermunculan. Psikologi islami di Indonesia mulai memadukan berbagai pendekatan dari berbagai tokoh dan keilmuan, seperti filsafat dan ilmu-ilmu humaniora lainnya.
Asumsi Dasar
Sekilas, psikologi islami memiliki kemiripan dengan aliran psikoanalisa. Kemiripan ini berupa telaah mendalam tentang jiwa manusia sebagai penjelas atas perilaku manusia. Berbeda, misalnya dengan aliran behaviorisme yang melihat bahwa jiwa tak bisa dipelajari karena sifatnya yang abstrak, psikologi islami berpandangan lain.
Jiwa menurut psikologi islami merupakan esensi dasar dari manusia. Memelajari jiwa berarti memelajari mengapa dan bagaimana manusia bersikap dan bertindak. Karenanya, psikologi islami membagi jiwa menjadi empat bagian. Yaitu: ruh, aql, qolb, dan nafs. Keempat sub jiwa ini bersifat dinamis dan menjadi dasar pembentukan perilaku pada manusia.
Namun, dari keempat sub jiwa yang merupakan bagian dari jiwa, ruh tidak dibahas lebih lanjut. Ini dikarenakan dalam aliran psikologi islami meyakini bahwa ruh bersifat gaib (abstrak). Sehingga hanya aql, qolb, dan nafs yang dikaji lebih mendalam. Ketiga sub jiwa tersebut diyakini memiliki sifat atau karakteristik yang bisa diindera oleh manusia (tidak abstrak).
Dari asumsi yang diperkenalkan oleh psikologi islami tentang manusia itu, terlihat ada benang merah dengan dua aliran psikologi kepribadian lainnya, yaitu psikoanalisa dan behaviorisme. Psikologi islami mencoba memadukan aliran psikoanalisa tentang telaah jiwa dengan behaviorisme yang kental dengan acuan positivistiknya (terukur dan teramati oleh indera).
Ilustrasi psikologi kepribadian
Psikologi kepribadian merupakan sebuah istilah yang memiliki keterkaitan dengan konsep ilmu psikologi. Di dalam ilmu ini, terdapat beberapa kajian yang bertujuan untuk mengenal perilaku manusia dalam usahanya menyesuaikan diri pada lingkunganya. Dengan demikian, manusia akan memiliki pengetahuan tentang dirinya sendiri yang dikaitkan dengan kondisi di sekitarnya berada.
Kajian psikologi kepribadian ini sendiri tidak bisa dilepaskan dari konsep psikologi perkembangan serta psikologi sosial. Hal ini jika kita berbicara mengenai konsep pembentukan kepribadian seseorang yang tidak bisa dilepaskan dari proses pembentukan individu tersebut. Proses ini sendiri terjadi sejak seseorang masih berusia dini serta dalam melihat tentang proses seorang individu dalam bersikap dan bergail dengan lingkungan sekitarnya.
Tinjauan Akademis
Beberapa pakar psikologi, memiliki sudut pandang yang berlainan terkait masalah psikologi kepribadian ini. Meski demikian, hal ini justru menjadi sebuah keuntungan karena kajian tersebut bisa menghasilkan beberapa tinjauan yang disesuaikan dengan kondisi yang ada.
Kondisi ini merupakan sebuah ciri khas dari kajian ilmu sosial. Dimana sebuah masalah yang muncul tidak bisa disimpulkan hanya dengan melihat satu sudut pandang saja. Berbeda dengan kajian ilmu eksakta, yang menuntut kesamaan hasil dari sebuah masalah yang muncul.
Beberapa pakar ilmu psikologi yang meneliti tentang konsep psikologi kepribadian ini diantarnya adalah :
George Kelly
Dalam kajian psikologi kepribadian nya, Kelly menjelaskan mengenai konsep kepribadian, yang menurutnya kepribadian merupakan sebuah proses yang unik dari masing-masing personal dalam upaya mereka memaknai semua hal yang mereka alami dalam kehidupannya. Dengan demikian, apa yang pernah dialami oleh seseorang bisa dilihat dari bagaimana seseorang tersebut bertingkah laku. Seperti mereka yang pada masa kecilnya kerap mengalami tekanan, biasanya akan tumbuh menjadi seorang yang pendiam serta merasa rendah diri. Sementara, seseorang yang sejak kecil sering menghadapi masalah kekerasan perlakuan, berpotensi untuk tumbuh dan memiliki jiwa yang keras serta cenderung bersifat pemberontak. Demikian dan seterusnya. Sehingga, dengan memahami masa lalu seseorang, kita bisa memperkirakan bagaimana kepribadian yang dimiliki oleh seseorang tersebut.
Gordon Allport
Allport mendefinisikan teori psikologi kepribadian nya sendiri, dengan menyatakan bahwa kepribadian adalah sesuatu yang berada pada diri seseorang yang pada nantinya mampu menuntun serta menunjukkan arah kepada seluruh perilaku dari individu tersebut. Secara lebih spesifik, Allport mengatakan bahwa kepribadian merupakan sebuah organisasi dinamis yang berasal dari konsep psikofisik seseorang yang mampu menentukan perilaku serta cara berpikir seseorang dengan unik. Istilah psikofisik ini digunakan dengan tujuan untuk menekankan bahwa antara jiwa dan raga yang dimiliki seseorang merupakan sebuah kesatuan yang saling terikat dan tidak bisa terpisahkan diantara keduanya. Sehingga, pada nantinya pada kedua hal tersebut akan saling berhubungan untuk menuntun seseorang dalam berperilaku.
Sedangkan kata unik yang digunakannya dalam definisi tersebut mengacu pada keadaan dimana masing-masing orang memiliki perbedaan. Sehingga setiap orang akan memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Dengan demikian, tidak akan ada dua pihak yang memiliki kepribadian sama, termasuk pada mereka yang terlahir sebagai orang kembar identik.
Sigmund Freud
Kali ini kita akan panjang lebar membahas seseorang yang memperkenalkan teori psikoanalisa. Yang tentu saja, merupakan mutiara berharga dari bidang psikologi kepribadian.
Nah. Dalam teorinya, Freud melihat makna kepribadian adah sebuah struktur yang di dalamnya terdapat tiga komponen. Komponen tersebut adalah identitas, ego serta superego. Dan terkait dengan tingkah laku, Freud menjelaskan bahwa tingkah laku adalah sebuah perwujudan konflik serta rekonsiliasi dari ketiga komponen tersebut. Dimana komponen yang dominan akan menjadi perwujudan kepribadian seseorang dalam kaitannya berperilaku di tengah masyarakat. Seperti apa yang disebutkan dalam tulisan Peter Gray, pada usia 17 tahun Freud masuk Universitas Vienna. Ia merencanakan masuk di jurusan hukum, namun tanpa alasan yang jelas ia masuk di jurusan kedokteran. Freud merupakan orang yang sangat tekun, ia sangat tertarik pada bidang fisiologi dan neurologi. Sigmund Freud lulus dari unversitas Vienna pada tahun 1881. Pada saat masuk di universitas Vienna, Freud adalah seorang ateis. Bisa dikatakan bahwa dia tidak percaya pada Tuhan. Ia sangat konsen pada hal-hal yang bersifat mistis (Myth). Pandangan dan ideologinya inilah yang kemudian mempengaruhi karya-karyanya. Kalau dilihat dari teman dan gurunya, Freud adalah seorang yang positifistik. Gurunya yang paling ia kenang adalah Ernst Bruene, yaitu seorang ahli fisiologi yang keras.
Pada tahun 1890an Freud mulai menemukan fokus keahliannya yaitu dibidang psikologi. Ia telah membentuk teori psikoanalisis. Konsentrasi ini awalnya didasari atas dorongan dari Jean-Martin Charton, seorang ahli neurologi Prancis. Martin memberikan pemahaman yang mendalam tentang hipnotis. Sebagai sarana dalam mengatasi gangguan medis. Tesisnya menyatakan bahwa histeria merupakan suatu penyakit ringan yang diderita baik laki-laki maupun perempuan.
Setelah menemukan ketertarikannya pada bidang psikologi, Freud mulai belajar gejala-gejala psilogis dari teman dan pasien-pasiennya. Freud bahkan semakin menspesialisasikan diri pada para perempuan yang menderita histeria. Dari proses mendengarkan keluhan-keluhan pasien inilah Freud banyak menemukan kebenaran kebenaran dari apa yang ia pesepsikan. Pada tahun 1895, Freud bersama dengan Joseph Breuer menerbitkan Studies of Hysteria. Majalah ini membahas tentang kisah kisah pasien Breuer “Anna O”. Anna O merupakan pasien yang paling penting dalam penelitian psikoanalisis. Mulai dari sinilah Freud menyadari bahwa hysteria merupakan akibat kesalahan fungsi seksual dan gejala-gejalan histeria adalah sesuatu yang bisa dibicarakan.
Terlepas dari hasil teorinya itu. Sepertinya bisa di sarankan lebih jauh untuk tidak perlu ambil pusing dengan hasil intepretasi Freud, justru sumbangsih terbesarnya kepada dunia psikologi kepribadian, adalah pisau bedahnya itu sendiri: psikoanalisa. Dengan teorinya, Freud telah menurunkan para psikiater terbaik, yang tentu saja tidak perlu ikut ikutan dengan pendapatnya.
Manfaat Psikologi Kepribadian
Lebih jauh, dengan mengenal konsep psikologi kepribadian, kita akan bisa mendapatkan beberapa manfaat yang sangat besar. Beberapa manfaat tersebut diantaranya adalah :
- Membantu seseorang dalam mengenal individu yang ada di sekitarnya. Dengan demikian, kita akan mudah dalam beradaptasi dengan lingkungan. Karena kunci keberhasilan dalam pergaulan bukan terletak pada bagaimana lingkungan yang menyesuaikan kita. Namun sebaliknya, pergaulan akan bisa berjalan dengan baik apabila kita bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan. Tentunya selama penyesuaian tersebut masih dalam koridor norma dan aturan hukum yang berlaku.
- Pengendalian diri. Dengan mengenal kepribadian diri sendiri, kita bisa mengendalikan diri dalam bersikap di tengah masyarakat. Sehingga pada nantinya kita bisa memunculkan sisi dominan yang positif dan mengesampingkan sisi negatif dari kepribadian yang kita miliki. Dengan demikian, diharapkan kita akan mendapatkan apresiasi dalam setiap jalinan interaksi yang kita lakukan di masyarakat.
- Meningkatkan kesehatan. Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Journal American Psychological Association (APA) menyebutkan bahwa kepribadian bisa mempengaruhi berat badan. Hal ini terutama bila kita mampu mengendalikan kepribadian yang kita miliki dan melakukan manajemen kepribadian yang tepat. Jika ini bisa dilakukan, kita bisa menghindarkan diri dari tekanan yang pada akhirnya akan menjadikan kehidupan kita tenang dan mampu mendapatkan kualitas kehidupan yang baik.
- Melatih kepemimpinan. Seseorang yang mampu mengenali kepribadiannya dengan baik akan mampu mengendalikan pemikirannya. Hal ini bisa berpengaruh pada kemampuan seseorang dalam proses pengambilan keputusan. Seorang pemimpin adalah mereka yang berposisi sebagai seorang pengambil keputusan dan penentu arah kerja organisasi yang dipimpinnya. Seseorang yang mampu mengenali kondisi psikologis kepribadian mereka, akan dengan mudah menentukan kapan waktu yang tepat untuk bersikap tenang, sabar dan kapan waktunya untuk sedikit menaikkan emosi mereka pada waktu yang tepat. Sehingga pada nantinya emosi yang muncul tidak menyebabkan hal negatif, justru sebaliknya akan menjadikan sebuah kondisi yang negative menjadi lebih baik lagi.
Meski pun kita tidak memiliki latar belakang akademis di bidang psikologi, namun bukan hal yang buruk bagi kita untuk belajar mengenai konseppsikologi kepribadian ini. Sebab, didalamnya bukan hanya sekadar menyampaikan informasi mengenai definisi kepribadian dan penyebab pembentukan kepribadian seseorang.

