PSSI: Organisasi yang Sedang Kisruh
Ilustrasi pssi
Dunia sepak bola di Indonesia sedang mengalami ujian.
Mulai adanya kompetisi tandingan sebagai bentuk kompetisi yang lebih profesional dibandingkan kompetisi yang berada di bawah naungan PSSI hingga kisruh kepengurusan PSSI atau Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia.
PSSI atau Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia adalah induk organisasi yang menaungi dan mengatur kegiatan olehraga sepak bola di Indonesia.
Induk organisasi sepak bola Indonesia ini didirikan pada 19 April 1930. Pada awal berdirinya, organisasi ini bernama Persatuan Sepak Raga Seluruh Indonesia. Ketua umum pertama PSSI adalah Ir. Soeratin Sosrosoegondo. Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia atau PSSI bergabung dengan FIFA pada 1952. Kemudian, disusul bergabung dengan Konfenderasi Sepak Bola Asia (AFC) pada 1954.
Sejarah Persatuan Sepak Bola Indonesia (PSSI)
Pada 19 April 1930, tepatnya di Yogyakarta, dibentuk sebuah organisasi untuk menampung dan menaungi segala sesuatu yang berhubungan dengan dunia sepak bola.
Organisasi tersebut bernama Persatuan Sepak Raga Seluruh Indonesia.
Sebagai organisasi yang lahir pada masa penjajahan Belanda, kelahiran PSSI pun ada hubungannya dengan upaya politik menenyang penjajahan.
Induk organisasi sepak bola Indonesia ini didirikan oleh Soeratin Sosrosoegondo, seorang insinyur sipil. Beliau menyelesaikan pendidikannya di sekolah teknik di Jerman pada 1927.
Pada 1928, Soeratin kembali ke Indonesia dan bekerja pada perusahaan bangunan Belanda. Namun, karena dorong semangat nasionalisme yang tinggi, akhirnya beliau memutuskan untuk mundur dari perusahaan tersebut.
Sebagai pemuda yang suka bermain bola, beliau pun menyadari pentingnya sebuah wadah untuk memupuk semangat nasionalisme melalui organisasi sepak bola.
Akhirnya, pada 19 April 1930, terjadi pertemuan antara berbagai perkumpulan sepak bola dari berbagai daerah, seperti VIJ (Voetbalbond Indonesische Jakarta) Bandoengsche Indonesische Voetbal Bond, Indonesische Voetbal Bond Magelang, dan Soerabajasche Indonesische Voetbal Bond.
Dari pertemuan itu, terbentuk sebuah organisasi dengan nama Persatuan Sepak Raga Seluruh Indonesia yang disingkat PSSI. Nama PSSI pun diubah pada kongres PSSi di Solo pada 1930 menjadi Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia. Pergantian nama tersebut diikuti dengan menetapkan Ir Soeratrin sebagai Ketua Umum pertama PSSI.
Kontroversi PSSI
Pada masa kepengurusan Nurdin Halid, PSSI mengalamai beberapa hal yang sangat kontroversial.
Hal-hal yang kontroversial itu antara lain Kukuhnya jabatan Nurdin Halaid sebagai ketua umum meskipun dia dipenjara, isu tidak sedap yang beredar pada masa pemilihan ketua umum pada 2010, dan reaksi atas diselenggarakannya kompetisi tandingan, yaitu Liga Primer Indonesia yang menandingi kompetisi resmi PSSI, Liga Super Indonesia.
Pada Agustus 2007, Ketua Umum PSSI, Nurdin Halid, terjerat kasus korupsi pengadaan minyak goreng dan divonis 2 tahun penjara. Akan tetapi, vonis yang jatuh kepada Nurdin Halid tersebut tidak membuatnya mundur dari jabatan ketua umum PSSI. Nurdin Halid bersikukuh untuk tetap menjalankan tugasnya sebagai ketua umum PSSI dari balik jeruji besi. Hal ini tentunya melanggar ketentuan FIFA yang menyebutkan seorang pelaku kriminal tidak boleh menjabat ketua umum sebuah asosiasi sepak bola nasional.
Setelah keluar dari penjara, Nurdin Halid yang merupakan salah satu pengurus partai politik berlambang pohon beringin itu menjalankan tugasnya sebagai ketua umum PSSI untuk yang kedua kalinya. Akan tetapi, langkah Nurdin Halid pada 2011 ini terjegal karena tuntutan masyarakat Indonesia yang mencintai sepak bola menuntut Nurdin Halid mundur. Kepemimpinan Nurdin Halid pun minim akan prestasi.
Kisruh PSSI dan Pembentukan Komite Normalisasi
Kisruh PSSI dan Liga Primer Indonesia
Pada Oktober 2010, Liga Primer Indonesia bergulir dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas dan profesionalisme persepakbolaan Indonesia.
Liga tandingan ini dideklarasikan di Semarang oleh sebuah konsorsium dan 17 perwakilan klub yang ikut serta dalam Liga Primer Indonesia. Akan tetapi, kompetisi tandingan ini tidak direstui PSSI dan dianggap illegal.
Meskipun Kompetisi Liga Primer Indonesia tidak mendapat restu dari PSSI, kompetisi tandingan tersebut tetap berjalan. Bahkan, mendapatkan izin dari pemerintah melalui Menteri Pemuda dan Olahraga.
Kompetisi Liga Primer Indonesia ini dicetuskan oleh pengusaha Arifin Panigoro.
Kisruh di tubuh PSSI semakin menjadi sejak munculnya LPI (Liga Premier Indonesia) sebagai kompetisi tandingan dari kompetisi profesional PSSI, Indonesia Super League (ISL).
Saat Nurdin Halid masih menjabat sebagai Ketua Umum PSSI, dia melarang segala aktivitas yang dilakukan LPI karena berada diluar organisasi tertinggi sepak bola Indonesia (PSSI).
Kongres PSSI di Pekanbaru, Riau, pada 26 Maret 2011, masalah kekisruhan pada tubuh PSSI sengaja disembunyikan dari publik dengan cara mengadakan kongres secara tertutup.
Namun pada akhirnya, kongres tersebut tidak berhasil dilaksanakan karena terjadi kisruh tentang hak suara.
Karena Nurdin Halid tidak mau turun dari jabatannya dan sering membawa PSSI ke jalur politik, akhirnya organisasi sepak bola Dunia FIFA membekukan PSSI di bawah kepemimpinan Nurdin Halid.
Setelah mengambil alih kepemimpinan PSSI dari Nurdin Halid, FIFA membentuk Komite Normalisasi yang memegang “kemudi” organisasi PSSI.
Komite Darurat FIFA menganggap bahwa kepemimpinan PSSI di bawah Nurdin Halid saat itu tidak dapat mengendalikan sepak bola di Indonesia.
Hal ini terbukti dengan kegagalan PSSI mengendalikan LPI dan menyelenggarakan kongres. Selain itu, FIFA pun menyatakan empat calon Ketua Umum PSSI, yaitu Nurdin Halid, Nirwan Bakrie, Arifin Panigoro, dan George Toisutta tidak dapat mencalonkan diri sebagi kutua umum PSSI.
Komite Normalisasi PSSI yang bertanggung jawab langsung pada FIFA mengangkat Agum Gumelar sebagai Ketua Komite Normalisasi PSSI. Komite Normalisasi harus mengelar kongres PSSI untuk memilih Ketua Umum PSSI yang baru. Akan tetapi Kongres PSSI dibawah Komiter Normalisasi pada 20 Mei 2011 di jakarta gagal karena kelompok pemilik suara tetap pada pendiriannya mencalonkan Arifin Panigoro dan George Toisutta.
Setelah kegagalan Kongres PSSI di bawah Komite Normalisasi pada Mei 2011, Komite Normalisasi mendapat kesempatan kedua dari FIFA untuk menyelenggarakan kongres lagi untuk memilih ketua umum PSSI. Pada kongres PSSI 9 Juli 2011 yang digelar di Solo, PSSI berhasil memilih Ketua Umum PSSI baru periode 2011-2015, yaitu Djohar Arifin Husin.
Daftar Ketua Umum PSSI
| Berikut ini beberapa yang pernah menjabat sebagai ketua umum PSSI : |
| Soeratin Sosrosoegondo (1930-1940) |
| Artono Martosoewignyo (1941-1949) |
| Maladi (1950-1959) |
| Abdul Wahab Djojohadikoesoemo (1960-1964) |
| Maulwi Saelan (1964-1967) |
| Kosasih Poerwanegara (1967-1974) |
| Bardosono (1975-1977) |
| Moehono (1977) |
| Ali Sadikin (1977-1981) |
| Sjarnoebi Said (1982-1983) |
| Kardono (1983-1991) |
| Hazwar Anas (1991-1999) |
| Agum Gumelar (1999-2003) |
| Nurdin Halid (2003-2011) |
| Djohar Arifin Husin (2011-2015) |
Menjadikan Belanda Kiblat Sepak Bola Nasional
Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) ingin jadikan Belanda sebagai kiblat sepak bola Indonesia. Rencana ini sudah mulai direlisasikan PSSI dengan merekrut pelatih asal Belanda, Wim Rijsbergen, sebagai pengganti Alfred Riedl. Disamping itu, PSSI pun merekrut instruktur pelatih dari Belanda, Albert Pentury. Albert adalah instruktur pelatih di KNVB (Asosiasi Sepak Bola Belanda) dan PSSI akan menugaskannya untuk melakukan pembinaan usia muda serta melakukan sertifikasi para pelatih.
Untuk pembinaan usia muda, Albert Pentury akan mengatur para pemain muda dengan disiplin yang ketat sehingga ke depannya tidak ada lagi pemain timnas senior yang tidak hadir saat dipanggil PSSI. Koordinator timnas mengatakan bahwa adanya Albert di Indonesia tidak akan membuat sistem dan gaya sepak bola Indonesia menjadi seperti gaya permainan sepak bola Belanda. Albert hanya akan mambagi ilmu tentang pembinaan sepak bola pada usia muda kepada para pelatih asal Indonesia.

