logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Agama & Kepercayaan    Islam    Idul Adha

Puasa Idul Adha dan Puasa Arafah


Ilustrasi puasa idul adha
Rukun Islam ke empat adalah puasa. Puasa itu sendiri ada yang diwajibkan dan ada pula yang disunnahkan. Di antara puasa yang disunnahkan adalah puasa Idul Adha atau puasa Arafah. Puasa ini boleh dilakukan selama sembilan hari pertama dari bulan Dzulhijah. Tetapi jika tidak kuat maka boleh hanya tanggal 8 dan 9 Dzulhijah saja atau yang lebih dikenal oleh masyarakat adalah pada tanggal 9 Dzulhijah saja. Yang menarik dari puasa Arafah ini adalah waktu pelaksanaannya. Ada sedikit kontroversi.

Puasa Arafah

Bagi yang tidak sedang menjalankan haji, maka melaksanakan puasa ini sangat dianjurkan. Puasa yang dilakukan pada tanggal 9 Dzulhijah tepatnya ketika para jamaah haji di Makkah sedang melakukan wuquf di Padang Arafah yang merupakan salah satu rukun haji yang harus dilalui. Wuquf di Padang Arafah inilah yang menjadi pembeda antara haji dan umrah. Tetapi di Indonesia, puasa sunnah satu ini memang mengandung sedikit kontroversi. Ketika ada yang berbeda pendapat tentang tanggal 9 Dzulhijjah itu.

Sebenarnya, ketika perayaan hari raya Idul Adha, tidak ada perbedaan pengerjaan sholat ied atau pun puasa Arafah karena bergantung pada pelaksanaan wukuf. Orang yang diluar Saudi Arabia hanya mengikuti apa yang terjadi di sana dan tidak harus berpikir tentang perhitungan yang berbeda pada penanggalan. Perbedaan ini terjadi karena ada perbedaan penetapan awal Ramadhan dan awal Syawal. Sayangnya, masih ada yang mengikuti penanggalan yang sering tidak sama dengan penanggalan Arab Saudi.

Yang terjadi adalah orang berpuasa Arafah ketika para jamaah haji telah selesai wukuf. Seharusnya ketika jamaah haji selesai wukuf, orang yang diluar Saudi Arabia mengerjakan sholat Ied dan memotong kurban. Hal ini memang harus diluruskan. Tetapi kenyataannya mereka berpendapat bahwa mereka berpuasa pada tanggal 9 Dzulhijjah di Indonesia. Akhirnya yang melakukan puasa pada saat jamaah haji wukuf, harus menunggu satu hari melaksanakan sholat ied Idul Adha.

Demi menjaga persatuan dan kesatuan, hal ini harus dilakukan. Inilah salah satu keunikan bangsa ini. Namun, akhir-akhir ini, telah banyak orang yang berpendapat bahwa puasa Arafah itu ketika jamaah haji wukuf dan tentu saja tidak mengikuti penanggalan.

Keutamaan Puasa Arafah

Puasa sunnah Idul Adha/ Arafah ini juga mempunyai keutamaan yang besar yaitu diampuninya dosa selama dua tahun, setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya. Mengenai hal ini nabi Muhammad bersabda. Diriwayatkan dari Abi Qotadah Al-Anshori rodhiallohu 'anhu bahwa Rosululloh sholallohu 'alaihi wa sallam ditanya tentang puasa pada hari Arofah (9 dzulhijjah), beliau bersabda: menghapuskan (dosa) setahun yang lalu dan setahun yang akan datang". (HR. Muslim: 1162).

Melihat keutamaan tersebut, tidak salah kalau banyak orang yang berusaha berpuasa sunnah satu ini. Bahkan untuk mempopulerkannya, para pengguna jejaring sosial membuat status yang mengingatkan agar teman-temannya yang lain ikut berpuasa Arafah. Bahkan anak-anak sekolah dasar pun mulai ada yang berpuasa Arafah. Mereka mulai melihat dan menyadari bahwa mengikuti perintah agama itu adalah satu kewajiban yang harus dilatih sejak kecil.

Jadi berdasarkan hadis di atas, meski puasa Arafah ini sunnah tetapi sangat dianjurkan karena keutamaannya dan teramat rugi jika meninggalkannya. Sedangkan yang dimaksud dengan diampuni dosa setahun yang telah lalu dan setahun yang akan datang itu, bahwa Allah akan memberikan taufiqnya agar orang yang telah berpuasa itu tergerak hatinya untuk melakukan amalan – amalan untuk menghapuskan dosa yang telah dilakukan.

Tidak mudah untuk menjadi orang baik. Tetapi kalau tidak mencoba lebih mendekatkan diri kepada Allah, hati akan terasa semakin jauh dari-Nya. Dalam hal ini dosa yang diampuni adalah dosa- dosa kecil saja bukan termasuk dosa – dosa besar. Kalau berbuat dosa besar semacam sirik, zina, memakan riba maka haruslah melakukan tobat sebagaimana pendapat jumhur ulama.


Kemudian, bagaimana dengan orang yang sedang melakukan wuquf di Arafah. Maka puasa tetap diperbolehkan asalkan puasa itu tidak membuat badannya lemah sehingga menjadikan ibadahnya tidak maksimal. Dan berbuka pada saat itu lebih disukai sebagaimana yang dicontohkan oleh nabi Muhammad.

Jika puasa Arafah itu jatuh pada hari jum’at maka tetap tidak diharamkan karena ada sebab tertentu. Begitu besar keutamaan puasa Idul Adha khususnya puasa Arafah, karena itu tak ada alasan untuk tidak bersemangat untuk tidak melaksanakannya.

Puasa sehari sebelum Idul Adha ini merupakan puasa sunnah yang dilakukan kepada umat Islam yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji. Puasa ini disebut juga dengan puasa hari Arafah. Waktu pelaksanaannya bertepatan pada setiap tanggal 9 di bulan Dzulhijjah. Keesokan hari setelah puasa ini, dilaksanakan perayaan Idul Adha. Tepatnya pada tanggal 10 Dzulhijjah bulan Hijriah. Idul Adha dilaksanakan dengan melakukan shalat Idul Adha sebanyak dua rakaat dan khutbah Idul Adha.

Setelah selesai, kemudian dilanjutkan dengan melaksanakan ibadah kurban yang telah disiapkan sebelumnya. Pelaksanaan penyembelihan hewan kurban, harus pada hari Idul Adha dan hari-hari tasyrik. Dianjurkan untuk tidak melakukan pemotongan hewan kurban pada malam hari. Secara logika memang malam hari adalah waktu istirahat dan akan sangat sulit untuk menyediakan waktu dan tenaga untuk memotong dan membagikan daging kurban tersebut.

Pengertian

Ibadah puasa dalam ajaran Islam memiliki arti menahan diri dari semua hal yang akan membatalkan puasa. Waktu puasa semenjak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Atau ketika mulai adzan shubuh berkumandang sampai dengan masuk waktu shalat maghrib.

Menurut pendapat Ahli Fiqih dan Ushul Fiqih, Wahbah Az-Zuhaili, mendefinisikan puasa sebagai penahanan diri dari semua bentuk keinginan syahwati, perut dan faraj (kemaluan), dan dari segala hal yang masuk melalui kerongkongan. Baik berupa minuman, makanan, obat-obatan, dan sebagainya. Puasa boleh dilakukan oleh setiap orang Islam yang berakal, tidak dalam keadaan haidh (menstruasi) dan nifas.

Hikmah Puasa
Puasa sehari sebelum Idul Adha memiliki hikmah yang sama dengan ibadah puasa lain, baik yang wajib atau sunnah. Hikmah puasa ini berdasarkan pada keterangan dari para ulama, yang tentunya berdasarkan pada Al-Quran dan Hadits. Adapun hikmah puasa di antaranya proses pendidikan ruhani menuju jalan ketakwaan kepada Allah Swt. Penahanan diri agar terbiasa tunduk dan patuh kepada setiap perintah-perintah Allah SWT, serta berusaha menjauhi semua larangan-Nya.

Salah satu bentuk ibadah penghambaan diri kepada Allah Swt. Pendidikan bagi jiwa manusia agar berusaha dalam kesabaran terhadap segala bentuk penderitaan dalam melaksanakan perintah-Nya. Melatih diri untuk tidak selalu mengikuti setiap bisikan keinginan dan hawa nafsu manusia. Melatih diri untuk tetap bersikap hidup sebagaimana ajaran-ajaran Islam. Sarana menumbuhkan dan memupuk sikap rasa kasih sayang kepada sesama manusia.

Menciptakan rasa persaudaraan terhadap orang lain, saling membantu, dan menyantuni orang yang tidak berkecukupan. Menanamkan rasa takwa kepada Allah Swt, baik dalam keadaan terang-terangan atau sembunyi. Menjauhkan diri dari akibat dosa-dosa pelanggaran ajaran-ajaran-Nya. Karena puasa merupakan sarana penebusan dosa manusia. Proses pembelajaran diri untuk melatih peringai dan perilaku moral yang luhur kepada sesama.

Puasa mengajarkan kesabaran, kejujuran, kedisiplinan, dan tekad kuat dalam melaksanakan setiap pekerjaan. Ibadah puasa yang dijalani dengan baik membantu manusia untuk berpikir lebih jernih dan tenang. Mendorong manusia untuk ikut merasakan lapar dan mengajarkan perlunya menjalin solidaritas dengan orang lain.

Anjuran pelaksanaan ibadah puasa sebelum Idul Adha berdasarkan pada keterangan hadits riwayat Imam Muslim. Dari Abu Qatadah radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Puasa hari Arafah dapat menghapus dosa-dosa untuk dua tahun. Setahun yang telah berlalu dan satu tahun yang akan datang.”

Pelaksanaan ibadah puasa harus memenuhi syarat. Berdasarkan pada keumuman pendapat ulama, maka terdapat lima syarat puasa, yaitu: beragama Islam, termasuk usia baligh, berakal yang sehat, mampu melaksanakan puasa, bermukim atau menetap. Bagi Anda yang akan melaksanakan puasa menjelang Idul Adha, jangan lupa untuk berniat dalam hati sebelum melaksanakannya. Lengkapilah perayaan Idul Adha dengan berkurban untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Perlu diingat bahwa puasa itu baik juga untuk kesehatan. Tidak ada salahnya menyempatkan diri untuk berpuasa sehari saja. Semoga segala amal ibadah kita diterima di sisi Allah Swt. Amin!

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Materi Khutbah Idul Adha
  • Tema Pidato Idul Adha
  • Hikmah Khotbah Idul Adha
  • Makna Qurban - Hati-Hati Keliru Memahaminya
  • Khutbah Kedua Idul Adha: Kandungan Materi Khutbah Idul Adha
  • Amalan Menjelang Lebaran Idul Adha
  • Memahami Makna Idul Adha
  • Fikih Hewan Qurban Idul Adha
  • Pentingnya Ucapan Selamat Idul Adha
  • Ketentuan Pelaksaan Qurban
  • Menyampaikan Khutbah Idul Adha Bahasa Jawa
  • Teknik Pemotongan Hewan Kurban
  • Kartu Ucapan Idul Adha
  • Membuat Materi Khutbah Idul Adha
  • Menelisik Puasa Sunah Idul Adha
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA