logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Agama & Kepercayaan    Islam    Ibadah Puasa

Keutamaan Puasa sebelum Idul Adha


Ilustrasi puasa sebelum idul adha
Puasa sebelum Idul Adha disebut juga dengan puasa Arafah. Karena dilakukan pada saat jutaan jemaah haji berkumpul melaksanakan wukuf di padang Arafah. Wukuf sendiri merupakan ibadah wajib karena merupakan bagian dari rukun haji yang harus dipenuhi para calon haji. Puasa ini disunahkan bagi orang-orang yang tidak sedang menjalankan ibadah haji. Bukan perkara mudah untuk berpuasa Arafah ini. Godaan banyak sekali. Apalagi ketika tidak berada di tempat yang banyak umat Islam yang menjalankannya. Pengaruh lingkungan sangat kuat.

Niat yang Kuat

Puasa sebelum Idul Adha ini terkadang terlupakan begitu saja. Kalau bukan karena adanya niat dari keimanan yang kuat, banyak yang memilih tidak melakukannya. Padahal puasa Arafah ini mempunyai hikmah dan manfaat yang sangat besar abgi jiw adan raga. Sayang memang kehidupan dunia terkadang malah mengalahkan kebahagiaann yang akan didapat baik ketika berbuka puasa maupun pahala di akhirat nanti.

Wukuf di Arafah yang merupakan puncak penyempurnaan ibadah haji dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah berdasarkan kalender Islam. Pada saat inilah umat muslim yang tidak melaksanakan wukuf dianjurkan untuk berpuasa, termasuk kita yang berada di tanah air. Ada beberapa hal yang menjadi perbedaan pendapat. Ada yang berpuasa berdasarkan tanggal masehi. Padahal tidak jarang penanggalan Indonesia ini berbeda dengan perhitungan hisab.

Jadi ketika orang di Saudi Arabia telah selesai wukuf yang artinya di tanah air seharusnya berlebaran, malah masih ada yang berpuasa. Perbedaan ini memang tidak terlalu terlihat karena tidak banyak yang membahasnya. Berbeda dengan perbedaan melaksanakan puasa Ramadhan dan perayaan Idul Fitri. Walaupun sudah banyak yang memahami kapan harus perpuasa Arafah, masih saja yang kurang puas kalau tidak mengikuti cara penanggalan yang dilakukan oleh pemerintah.

Sudah banyak arahan dan pencerahan dari para pemuka agama Islam. Di masjid-masjid dan tempat pengajian serta di sekolah-sekolah dan tempat kursus, para guru sering memberikan anjuran dan saran agar anak-anak didiknya berpuasa Arafah pada saat orang-orang yang menunaikan ibadah haji wukuf di Arafah. Pembahasan tentang tanggal 9 Zulhijajh pun dilakukan demi menjalankan ajaran yang benar dan tidak mengada-ada tanpa landasan yang benar.

Hadits puasa sebelum Idul Adha

Puasa sehari sebelum idul adha adalah ibadah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah saw. Bagi kaum muslimin puasa satu hari sebelum lebaran haji ini, hukumnya sunnah muakkad (sangat ditekankan). Artinya, meskipun puasa sebelum hari raya qurban ini bersifat sunnah, puasa ini sangat-sangat dianjurkan dan diutamakan untuk dilaksanakan, strongly recommended! Sebagai umat yang taat dan mengharapkan keberkahan hidup di dunia dan di akhirat, anjuran ini harus diamalkan.

Bagi mereka yang menunaikan ibadah puasa Arafah akan didoakan Nabi Muhammad Saw agar Allah menghapus dosa-dosanya selama dua tahun, yakni; satu tahun sebelum dan satu tahun sesudah. Hal ini berdasarkan hadits Nabi Saw yang artinya:

Puasa satu hari Arafah, aku berharap kepada Allah, Dia akan menghapuskan (dosa) satu tahun sebelumnya dan satu tahun setelahnya. Puasa hari ‘Asyura’ (tanggal 10 Muharram), aku berharap kepada Allah, Dia akan menghapuskan (dosa) satu tahun sebelumnya.” (HR. Muslim, no 1162, dari Abu Qatadah).

Dari Abu Qatadah Radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam pernah ditanya tentang puasa pada hari ‘Arafah, beliau bersabda: “Ia (Puasa ‘Arafah itu) menggugurkan dosa-dosa satu tahun sebelumnya dan setelahnya.” (HR. Muslim 1162)

Tidak makan dan tidak minum juga dilakukan Rasulullah saw sebelum melaksanakan sholat Idul Adha di lapangan. Ini adalah kebiasaan Nabi Saw seperti yang tertuang dalam hadits berikut:

Jika sebelum berangkat shalat Idul Fitri Rasulullah SAW sarapan dahulu maka sebelum shalat Idul Adha, Rasul tidak sarapan dan beliau baru makan sepulang melaksanakan shalat (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad).

Sebenarnya berpuasa itu akan memberikan manfaat yang sangat besar kepada kesehatan manusia. Tidak ada orang yang mati karena berpuasa dengan cara yang benar dan tidak melebihkan maupun tidak mengurangi ajaran berpuasa itu sendiri. Malahan banyak orang yang akhirnya sembuh dari sakitnya karena ia berpuasa seperti puasa nabi. Nabi Muhammad saw tidak makanan berlebihan baik  ketika Beliau berpuasa maupun ketika Beliau tidak berpuasa.

Walau hanya satu hari, puasa itu cukup memberikan manfaat kepada kesehatan. Rasa syukur akan bertambah. Keimanan juga seperti disiram dengan air segar lagi. Hal ini sangat dibutuhkan oleh orang-orang yang mengharap ridho hanya dari Allah Swt.

Jangan Puasa di hari Tasyrik

Selain puasa, beberapa amalan yang dianjurkan dalam rangka merayakan Idul Adha adalah menggemakan takbir dan menyembelih hewan kurban yang dilaksanankan setelah sholat Id hingga tiga hari setelah 10 Dzulhijjah yakni tanggal: 11, 12 dan 13. Dimana pada hari-hari itu umat Islam diharamkan berpuasa karena merupakan hari Tasyrik.

Rasulullah Saw telah mengutus Abdullah Bin Huzhaqah untuk mengumumkan di Mina: “Kamu dilarang berpuasa pada hari-hari ini (hari tasyrik). Ia adalah hari untuk makan dan minum serta mengingat Allah.” (Hadith Riwayat Imam Ahmad, sanadnya hasan)

Jika puasa sebelum Idul Adha ialah sangat dianjurkan, maka berpuasa pada hari tasyrik adalah dilarang sama halnya dengan puasa di hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Rasulullah Saw melarang puasa pada dua hari, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. (Hadith Riwayat Imam Muslim, Ahmad, an-Nasa’ie, Abu Dawud).

Sekali lagi ditekankan bahwa puasa satu hari sebelum Idul Adha atau sering disebut dengan puasa Arafah merupakan puasa sunat yang dianjurkan oleh Baginda Nabi saw. Selain mereka yang berangkat menunaikan ibadah haji ke tanah suci, umat muslim yang tak menunaikan rukun Islam ke Mekkah pun seyogyanya melaksanakan anjuran Rasulullah tersebut.

Puasa sehari atau dua hari  sebelum Idul Adha disunatkan dilakukan pada tanggal 8 dan 9 Zulhijah, yaitu satu hari menjelang wukuf di Padang Arofah pada tanggal 10 Zulhijjah. Mengenai puasa sunnah ini, Baginda Nabi pernah ditanya dan diriwayatkan dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah suatu ketika pernah ditanya mengenai keutamaan puasa Arofah, dan dijawab oleh Rasulullah bahwa puasa Arofah bisa menghapuskan dosa-dosa tahun yang lalu dan tahun yang akan dilalui (HR. Muslim).

Banyak sekali keterangan hadis yang menerangkan keutamaan sepuluh hari pertama di bulan Zulhijah, termasuk didalamya puasa sehari sebelum Idul Adha. Di antaranya dijelaskan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari, Rasulullah Saw bersabda, “tidak ada hari dimana amal-amal shalih begitu dicintai oleh Allah dibandingkan hari-hari ini, yakni: sepuluh hari istimewa di bulan Zulhijah”. Para sahabat pun bertanya, “wahai Rasulullah, bagaimana dengan jihad fi sabilillah?”.

Jawaban Rasulullah: “tidak juga dengan jihad fi sabilillah, kecuali mereka yang berjihad dengan jiwa dan hartanya sedangkan mereka tidak kembali dengan membawa apapun”. Lebih lanjut, mengenai keutamaan sepuluh hari di bulan Zulhijah ini dijelaskan oleh sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar, yakni Rasulullah bersabda bahwasannya tidak ada hari-hari yang paling dicintai oleh Allah Swt untuk memperbanyak berbuat kebajikan selain hari-hari di bulan Zulhijah.
Maka dianjurkan untuk memperbanyak kalimat-kalimat yang mengagungkan Allah dengan takbir, tahlil, dan tahmid. Selain melaksanakan puasa sebelum Idul Adha, ada berbagai amalan yang dianjurkan untuk dilaksanakan di bulan yang agung, Zulhijah ini.

* Melakukan ibadah haji dan umrah ke Baitullah. Rasulullah Saw bersabda bahwa dari umrah ke umrah bisa menghapuskan dosa-dosa yang dikerjakan diantara waktu umrah tersebut, dan mengerjakan haji yang mabrur akan dibalas dengan surga-Nya Allah.

* Mengenai disunahkannya berpuasa, hadis qudsi memberikan legitimasinya sebagai berikut: bahwa puasa itu adalah untuk Allah, dan Allah lah yang akan membalasnya dengan pahala yang dikehendaki-Nya. Karena sungguh orang yang berpuasa tersebut telah meninggalkan syahwat, makanan dan minuman hanya karena Allah.

* Memperbanyak mengumandangkan dzikir untuk senantiasa mengagungkankan asma-Nya. Dalam surat al-Hajj:28, “…dan agar mereka menyebut nama Allah pada hari-hari ytang telah ditetukan…”.

* Melakukan taubatannasuha (bertaubat secara bersungguh-sungguh) untuk memperoleh pengampunan dari Allah Swt.

* Memperbanyak berbuat amal shaleh dan kebaikan-kebaikan, seperti: banyak membaca Al-Quran, rajin mendirikan shalat, bersedekah, dan sebagainya.

* Berkurban dengan tulus ikhlas di hari raya haji (Idul Qurban) dan hari-hari tasyrik yakni pada tanggal 11,12, 13 Zulhijah.

Semoga kita bisa banyak mendapatkan pahala di bulan-bulan yang penuh keutamaan (Zulhijah) dan senantiasa selalu rindu melakukan puasa sebelum Idul Adha.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Puasa Kifarat dalam Islam
  • Keutamaan Puasa Senin Kamis
  • Hikmah dan Manfaat Puasa Sunnah Senin Kamis
  • Ramadan - Bulan Berboros?
  • Hikmah Puasa, Kesetiakawanan
  • Peran Niat Shalat dan Niat Lainnya dalam Beribadah
  • Keutamaan dan Manfaat Puasa Syawal
  • Pengertian Puasa dan Doa Puasa
  • 1001 Manfaat Puasa Senin Kamis
  • Amalan Puasa di Bulan Suci Ramadhan untuk Meningkatkan Iman
  • Membumikan Fikih Puasa
  • Definisi Puasa dan Macam-Macam Puasa dalam Islam
  • Manfaat Puasa Bagi Kesehatan Tubuh Manusia
  • Istimewanya Bulan Puasa Ramadhan
  • Perlukah Melafazkan Niat Puasa Idul Adha?
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA