logo anne ahira
Cari Artikel:  
Siapa Anne Ahira
Asian Brain Support

AnneAhira.com    Agama & Kepercayaan    Islam    Idul Adha    Puasa Sunah Idul Adha

Menelisik Puasa Sunah Idul Adha

Oleh: AnneAhira.com Content Team

Puasa sunah Idul Adha dikenal dengan istilah puasa hari Arafah. Hari Arafah adalah hari urutan ke sembilan pada bulan Dzulhijjah dalam hitungan tahun Hijriah. Alasan disebut Hari Arafah, karena pada hari itu para hujjaj sedang melaksanakan wukuf di Arafah.

Hari yang istimewa dan penuh dengan makna. Pendapat termasyhur mengatakan, pada hari inilah Allah SWT mewahyukan ayat terakhir dari Al-Quran (QS. Al-Maidah,5:4). Tetapi bagi para hujjaj sendiri, atau orang yang sedang melaksanakan haji, lebih baik tidak melaksanakan puasa tersebut.

Ini adalah pendapat dari Imam Syafi’i dan jumhur ulama. Salah satu dalilnya adalah hadits riwayat Ahmad dari Abu Hurairah ra, “Rasulullah Saw. melarang kita untuk melaksanakan puasa di hari Arafah ketika berada di padang Arafah.”

Berbeda lagi menurut pandangan Al-Muwalli, menyatakan kebolehan melakukan puasa Arafah jika dinilai tidak akan melemahkan diri untuk berdoa. Tidak menjadi halangan untuk melaksanakan amalan-amalan ibadah haji. Maka lebih baik melaksanakan puasa Arafah oleh para pelaksana haji tersebut.

Pembatalan Puasa Sunat

Bolehkah seseorang membatalkan puasa sunat?

Suatu hari, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam menemui Ummu Hani, lalu Nabi disuguhi minuman. Tetapi Nabi kemudian memberikan kembali minuman itu kepada Ummu Hani. Lalu minuman itu ditolaknya karena dia sedang melaksanakan puasa sunat.

Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda: “Sesungguhnya orang-orang yang sedang melaksanakan puasa sunat, ibarat raja bagi dirinya sendiri. Jika kamu mau, kamu boleh berpuasa dan jika memang tidak mau, bolehlah engkau berbuka.”  

Keterangan ini berdasarkan dalil riwayat Imam Ahmad, Ad-Daruquthni, dan Al-Baihaqy dari Ummu Hani. Hadits lain yang menguatkan tentang kebolehan membatalkan puasa sunat adalah riwayat dari Imam Bukhari, Imam Muslim, dan Imam At-Turmudzi dari Abu Juhaifah. Demikian pula hadits yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dari Abu Sa’id dengan sanad hasan.

Dalam pembatalan puasa sunat. Tidak ada dosa ataupun denda yang akan dibebankan bagi orang yang melaksanakan puasa sunat lalu membatalkannya. Pelaksana puasa sunat memiliki kebebasan memilih. Baik melanjutkan puasanya atau segera membatalkannya. Salah satu alasan pembatalan tersebut biasanya karena kelelahan atau datang undangan jamuan makan.

Keutamaan Puasa Sunat

Keutamaan puasa sunat Idul Adha, yakni Tuhan akan menghapuskan dosanya satu tahun yang telah berlalu dalam jalan kehidupannya. Kemudian Tuhan pun akan menghapuskan dosa-dosa yang mungkin saja dilakukan tanpa sengaja pada satu tahun yang akan dijalani seseorang itu. Sungguh keutamaan yang luar biasa.

Keistimewaan ini berdasarkan pada penjelasan dalil hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abi Qatadah radhiyallahu anhu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam. bersabda: “Puasa hari Arafah dapat menutup dosa-dosa untuk 2 tahun. Setahun yang telah terlewati dan satu tahun berikutnya (yang akan datang).”

Banyak ragam pendapat ulama dalam menggali makna dari hadits di atas. Salah satu pendapat itu, penjelasan Al-Mawardi dalam Al-Hawi. Ulama ini mengatakan, hadits itu memiliki makna bahwasanya Allah SWT. akan mengampuni dosa-dosa hamba-Nya dalam dua tahun. Sedangkan maksud “satu tahun yang akan datang”, bermakna bahwa Allah akan memelihara diri hamba itu dari mengerjakan dosa-dosa pada tahun kedua.

Rahasia Puasa

Kita harus menyadari, kewajiban puasa yang ditetapkan Tuhan pasti memiliki rahasia ruhaniah yang amat luhur dan istimewa. Mengandung hikmah-hikmah yang sungguh indah bagi para hamba-Nya yang patuh melaksanakan perintah puasa. Baik puasa wajib di bulan Ramadhan ataupun puasa-puasa sunat.

Kita memang dapat mengetahui rahasia puasa yang terjangkau dengan pendekatan akal atas dasar keterangan dari Nabi Muhammad. Tetapi masih banyak hal tak terjangkau secara indrawi. Ingatlah, kita melaksanakan puasa dengan apa yang telah Allah tetapkan dalam puasa tersebut.

Kita menunaikan puasa sesuai dengan kehendak-Nya atas ibadah puasa yang sedang kita kerjakan, bukan atas selera manusia semata. Dengan puasa sunat Idul Adha, mari mendekatkan diri kepada-Nya dengan melatih keimanan hati dan jiwa sosial kita untuk hidup yang lebih baik. Wallahu a’lam.

Tolong SHARE
artikel ini
Share
Share
Nama:
Email:
Komentar:
    
Catatan : Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, jangan menggunakan terlalu banyak singkatan seperti SMS. Setiap komentar memerlukan persetujuan moderator.

Anne Ahira - Asian Brain on Facebook
Artikel Terkait
  • Menyampaikan Khutbah Idul Adha Bahasa Jawa
  • Hikmah Khotbah Idul Adha
  • Pentingnya Ucapan Selamat Idul Adha
  • Tema Pidato Idul Adha
  • Syarat Sah Hewan Qurban Idul Adha
  • Materi Khutbah Idul Adha
  • Membuat Materi Khutbah Idul Adha
Share

facebook

Twitter

Linkedin


Beranda | Kontak Kami | Privacy | Artikel Sitemap | Sitemap | RSS Feeds | Bisnis Online

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA