Memahami Makna Puisi Aku Karya Chairil Anwar
Ilustrasi puisi aku karya chairil anwar
Puisi merupakan sarana untuk mencurahkan perasaan yang nyaman bagi seorang penulis. Karena di sana ia bisa bersembunyi di balik kata-kata yang dirangkaikannnya. Demikian juga halnya dengan puisi Aku karya Chairil Anwar. Banyak yang berpendapat bahwa itu merupakan representasi dari sisi hidup, gagasan, dan isi hati dari Chairil Anwar.
Makna Dibalik Kata
Saat seorang penulis membuat sebuah status facebook “Kutemani rindumu dalam dekap kehalalan cinta”. Apakah yang dimaksud oleh penulis itu? Ia sedang merindukan seseorang yang halal baginya. Ia merindukan suaminya. Bagaimana dengan status seperti ini “Kau ada kalau ia tak ada di antara kita”. Apakah maksudnya? Itulah kata-kata yang menyiratkan kalau sang penulis yang membuat status itu tak ingin cintanya ditengahi oleh orang ketiga. Ia menyatakan sikapnya bahwa ia akan menerima orang yang mencintainya kalau orang itu hanya mencintainya dan tak ada cinta yang lain di hati orang yang mengaku mencintainya itu.
Coba bayangkan status facebook apa yang akan dibuat oleh seorang Chairil Anwar di detik-detik terakhir ia memandang dunia fananya? Kerendahan hatinya yang tertuju kepada Sang Khalik mungkin akan semakin sering terbaca di status sang penyair. Sayangnya belum ada facebook pada masa itu. Chairil Anwar hanya bisa membuat puisi. Sebuah puisi yang sangat dalam menyusun derai hati ketika akan menghadap Sang Pencipta. Ia tahu bahwa waktunya tak lama lagi. Ia tahu bahwa penyakitnya tak akan tersembuhkan.
Ia buat puisi yang mungkin saja tentang apa yang dirasakannya pada saat itu. Walaupun banyak yang berusaha mengartikan apa yang terkadung dalam uaraian kata-kata yang digunakan, tetap saja tidak mudah untuk menafsirkan makna yang terkandung di balik puisi. Hanya penulis itu sendirilah yang bisa menafsirkan makna puisi yang ia tulis dengan benar dan pas. Sementara pembaca hanya bisa menafsirkan puisi dari sudut pandangnya masing-masing. Termasuk puisi Aku karya Chairil Anwar ini.
Ia yang sangat pandai menyusun dan merangkai kata demi kata yang sangat kuat hentakan maknanya, terus berlayar dalam lautan keindahan penafsiran kata-kata itu sendiri. Saat lingkungannya tak pernah lepas dari desing peluru. Chairil Anwar sadar bahwa bisa saja salah satu peluru itu akan menembus dadanya atau dada para pejuang. Mereka akan roboh dan bersimbah darah. Kematian mereka bukan kematian yang melenyapkan semua harapan yang telah dibangun. Kematian mereka adalah kebangkitan menuju keabadian kebahagiaan.
Para pahlawan itu tak pernah mati. Mereka hidup dan tetap hidup. Mereka ada di hati semua rakyat yang sadar bahwa tak akan ada kemerdekaan kalau tak ada yang bersedia memberikan jiwa dan raganya demi orang lain dan demi nusa dan bangsanya. Puisi yang sangat indah itu mungkin saja merupakan ungkap perasaan Chairil Anwar mengenai betapa ia masih ingin menikmati hidupnya. Betapa ia tak ingin mati muda. Ia takut tapi ia sembunyikan ketakutan itu dibalik kata-kata yang seolah bukan untuk dirinya.
Bagi seorang penulis, menulis sebauh buku atau membaut sebuah puisi adalah vitamin jiwanya. Vitamin jiwa yang akan menemani dirinya mengarungi kerasnya hidup yang ia alami. Terutama kalau ternyata dunia tulis menulis adalah wadah satu-satunya ia mengais rezeki. Ia akan berusaha memasukan babak demi babak ke dalam karyanya. Dengan demikian ia akan merasa lebih tenang dan merasa lebih lega.
Ia pasti tak mau ada orang yang tahu keadaan batinnya yang sebenarnya. Seorang seniman itu tak mau dikasihani oleh orang lain. Ia ingin orang lain menilainya dengan ketegaran jiwanya dan bukan sebaliknya, sebagai jiwa yang rapuh dan merengek-rengek meratapi kemalangan yang dianggapnya tidak seberapa dibandingkan dengan kemalangan dan kesengsaraan orang lain yang sering ia perhatikan.
Ketika ia masih bisa membuat perutnya tidak bernyanyi dan ketika ia masih bisa merebahkan tubuh letihnya di kasur nan empuk, semua itu dianggapnya sudah cukuo. Kalaulah keinginannya untuk mempunyai rumah, mobil atau bahkan berangkat ke Mekkah menunaikan ibadah umroh dan haji belum juga menampakkan kehadirannya, ia akan tabah dan tak akan putus berdoa. Ia akan membaut doanya berbuah doa sehingga doa itu akan sambung terus-menerus dan suatu saat akan didengar oleh Allah Swt.
Jadi, karya seorang penulis itu adalah bagian dari jiwanya. Ia memberikan sedikit roh kehidupannya ke dalam bait-bait puisi yang dibuatnya atau ia memberikan butiran cintanya kepada barisan kalimat-kalimat yang akan menggugah hati para pembacanya. Chairil Anwar tentu juga tahu itu. Tak akan ia berusaha mengiba-iba dalam karyanya. Adalah sesuatu yang sangat tabu membaut diri bagai pesakitan yang sakit-sakitan yang hanya terkapar tak berdaya.
Perjuangan
Masyarakat awam pada umumnya menafsirkan puisi Aku milik Chairil Anwar ini sebagai puisi perjuangan. Untaian kata-kata dalam puisi ‘Aku’ memang menggambarkan semangat perjuangan untuk membebaskan diri dari belenggu penjajah. Apalagi di sana ada kata-kata peluru, luka, menerjang dan sejenisnya yang menggambarkan heroisme seorang pejuang.
Namun, mungkin saja mereka tidak mengetahui bahwa sebenarnya Chairil Anwar sedang bermain-main dengan skenario hidupnya sendiri. Ia berdamai dengan perasaan dan hatinya. Ia menyadari apa yang telah diperbuatnya. Ia tahu ia berdosa dan ia harus menanggung semua akibat dari perbuatannya itu. Seperti yang disampaikan dalam kitab suci. Bahwa kegetiran yang dirasakan oleh manusia itu terkadang memang merupakan hasil dari apa yang telah diperbuat oleh manusia itu sendiri.
Chairil Anwar yang sempat besar di Padang, pasti tahu dan cukup sering mendengarkan orang-orang alim berceramah. Ia pasti tahu bahwa dengan semua yang ia rasakan secara fisik, ia sudah menyerah dengan keadaan. Ia siap menghadapi apapun yang akan terjadi. Ia hanya tak ingin orang melihatnya dengan tatapan yang sangat sedih. Ia ingin sendirian saja ketika Tuhan, kekasih sejatinya itu, menjemputnya untuk pulang ke kampung keabadian.
Pemberontakan
Ada juga pendapat yang menafsirkan bahwa puisi Aku milik Chairil Anwar merupakan cermin pemberontakan Chairil Anwar terhadap orang-orang di sekelilingnya. Kalimat, “aku ini binatang jalang” menggambarkan watak Chairil yang keras dan teguh pada pendirian. Ia mungkin merasa cukup liar dengan semua yang ia lakukan. Ia mungkin merasa bahwa perbuatannya yang cukup berbeda dengan kehidupan orang lain yang beriman dan alim, mungkin saja menimbulkan kesadaran itu.
Sementara kalimat, “dari kumpulannya yang terbuang” pembaca akan berkesimpulan bahwa sifat kerasnya, membuat Chairil dikucilkan oleh keluarganya sendiri. Dan pada kalimat, “tidak perlu sedu sedan itu” Chairil seolah berpesan pada Ibunya bahwa ia tidak butuh dikasihani dan ditangisi. Sementara pada kalimat, “biar peluru menembus kulitku, aku tetap meradang menerjang” mengiaskan bahwa Chairil akan tetap pada prinsipnya walau berbagai rayuan dan bujukan dari keluarga dan lingkungannya datang bertubi memintanya untuk melepaskan prinsip tersebut.
Kecintaan pada Sastra
Kalimat-kalimat yang terangkai dalam puisi Aku karya Chairil Anwar sarat akan kiasan-kiasan yang berpotensi ditafsirkan beragam oleh pembacanya. Hal ini senada dengan pendapat sastrawan kondang, Ajib Rosidi bahwa penggunaan kiasan-kiasan yang tajam merupakan ciri khas puisi-puisi Chairil Anwar. Sehingga wajar saja ketika dihadapkan dengan puisi ‘Aku’, setiap orang akan memberikan penafsiran yang berbeda.
Sebagian pengagum puisi Aku karya Chairil Anwar mencoba menafsirkan puisi ini sebagai ungkapan kecintaan dan prinsip Chairil dalam berkarya. Mereka menemukan semangat itu pada bait-bait puisi yang sarat akan kiasan-kiasan tajam.
Mari kita perhatikan kalimat, “aku ini binatang jalang” mengiaskan bahwa Chairil Anwar memiliki sikap dan pendirian yang keras kadang bertentangan dengan teman-temannya dalam hal kesusastraan umum dan khususnya puisi. Sementara pada kalimat, “Biar peluru menembus kulitku aku akan tetap meradang menerjang” mengiaskan bahwa tidak akan ada yang bisa menghentikannya untuk terus berkarya. Walau kritik tajam menyerang setiap karya yang dimunculkannya, ia akan terus berkarya sesuai dengan prinsipnya.
Kecintaan Chairil pada dunia sastra dan puisi semakin jelas pada kalimat terakhir, “aku ingin hidup seribu tahun lagi”. Kalimat ini mengiaskan bahwa Chairil Anwar mengharapkan karya-karyanya akan terus abadi dan bernilai sampai kapan pun. Dan harapannya itu sepertinya akan menjadi kenyataan. Sampai saat ini puisi-puisi karya Chairil Anwar terus bernilai dan dijadikan referensi oleh banyak orang.

